Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Tumbuh 5,1 Persen, Ekonomi Bagus?
MUHAMMAD SAID DIDU : Tak Ada Yang Istimewa, Itu Basisnya Masih SDA
Sabtu, 16 Februari 2019 19:25 WIB
Sebelumnya
Maksudnya?
Berbeda di negara lain yang pertumbuhan ekonominya karena manu-faktur bukan SDA. Pertumbuhan 5 persen juga karena pertumbuhan utangnya besar sekali artinya ada yang masuk dari luar. Jadi saya katakan tiga pilar pertumbuhan terjadi adalah SDA, kedua adalah konsumsi dan ketiga adalah utang. Jadi hal demikian penyebab pertumbuhannya.
Baca juga : ARIF BUDIMANTA : Ini Capaian Tertinggi Pemerintahan Jokowi
Selanjutnya...
Di balik itu terjadi defisit perdagangan artinya menghasilkan produk di Indonesia menurun, melainkan menaikkan impor. Padahal kami berharap membangun pemerintahan yang dibangga-banggakan ini akan mendorong permintaan dalam negeri terhadap luar. Akan tetapi nyatanya malah sebaliknya, banyak impor. Bahkan impor yang masuk juga bu¬kan mesin melainkan bahan-bahan baku. Berarti industri terbangun di Indonesia adalah industri yang tidak berbasis dan menggunakan produk dalam negeri.
Baca juga : FAJAR SAKA : Kumpulkan Informasi, Kami Sudah Klarifikasi
Nah, penyebab seperti itu menunjukkan industri yang dibangun di Indonesia saat ini adalah investasi untuk memanfaatkan pasar dalam negeri, dengan mengolah bahan baku dari luar negeri. Kira-kira itu anatomi yang dialami ekonomi Indonesia. Selain itu pertumbuhan 5 persen itu karena basisnya SDA. Sedangkan konsumsi sama sekali tidak menam¬bah lapangan kerja karena basisnya bukan industri. Sedangkan kalau basisnya industri perdagangan maka menambah tenaga kerja.
Baca juga : DAHNIL ANZAR SIMANJUNTAK : Dibandingkan Ustadz Slamet, Mereka Itu Lebih Vulgar
Tapi pemerintah mengklaim capaian pertumbuhan itu sebagai prestasi terbaik sepanjang satu dekade sebelum tahun 2015. Bagaimana Anda melihatnya?
Saya katakan di 2018 itu ada kenaikan harga minyak atau kenaikan harga batubara. Penyebab naiknya pun bukan hasil kerja apa-apa tapi karena produk Allah saja. Jadi yang menaikkan itu harga minyak dan batubara.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya