Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kerap Abaikan Adab

Netizen +62 Dicap Microsoft Paling Nggak Sopan

Kamis, 4 Agustus 2022 17:27 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Adab alias tata krama dan sopan santun dalam berinteraksi di dunia nyata juga harus diterapkan dalam bermedia sosial. Sayangnya banyak netizen atau warga internet (warganet) yang abaikan adab di medsos. Perilaku di dunia nyata dengan medsos berbeda 180 derajat.

Social Media Officer GoodNews From Indonesia Ni Putu Ruslina Darmayanthi membeberkan, hasil riset Microsoft yang menyebut netizen Indonesia adalah netizen paling tidak sopan se-Asia Pasifik.

Riset ini didukung oleh beberapa survei lain yang menunjukkan banyaknya kasus ujaran kebencian, tindakan diskriminasi, serta hoax dan penipuan di internet.

"Agar menjadi warganet yang beretika dan berbudaya, perlu terapkan norma sosial seperti dunia nyata dan dihindari jenis konten negatif," katanya saat diskusi yang digelar di Pontianak, Kalimantan Barat, dikutip Kamis (4/8).

Ia menyebut konten negatif antara lain, konten melanggar kesusilaan, perjudian, pencemaran nama baik, dan pemerasan/pengancaman.

Berita Terkait : Kerja Sama Asia Dan Afrika Diklaim Saling Menguntungkan

Begitu juga konten sensitif yang belum tentu benar dan berujung penyebaran berita bohong. Selain itu hindari juga ujaran kebencian/bermuatan SARA.

"Karena banyak konten yang menimbulkan kasus dan berdampak buruk ke banyak orang, maka diperlukan etika dalam bermedia sosial," katanya.

Ia memberi tips menjadi netizen budiman. Yaitu menjaga netiket caranya dengan analisis konten, verifikasi konten, hindari mendistribusikan konten negatif, dan produksi hanya konten yang bermanfaat.

"Cara kita berinteraksi di internet sama saja dengan cara kita berinteraksi di dunia nyata. Yang tidak boleh dikatakan saat bertatap muka secara offline, juga tidak boleh kita katakan secara online,” tutur Ruslina.

Pengurus RTIK Kalimantan Timur Mulyanto mengungkapkan, penggunaan internet dan media sosial sudah sangat masif di Indonesia.

Berita Terkait : IMI Bersama KNPI Akan Gelar Kejuaraan Balap Motocross Piala Ketua MPR

Ada keuntungan, tetapi muncul pula masalah. Antara lain, mengaburnya wawasan kebangsaan, menipisnya kesopanan, kebebasan berekspresi yang kebablasan, hilangnya batas-batas privasi, dan risiko pelanggaran hak cipta dan karya intelektual.

Budaya bermedia digital ini memiliki ruang lingkup: budaya digital, budaya Pancasila; digitalisasi budaya; mencintai produk dalam negeri; dan hak-hak digital.

Agar ruang digital bisa mempertahankan keragaman budaya dan menciptakan ruang debat yang sehat maka diperlukan toleransi dan persatuan.

“Agar perbedaan budaya tidak menimbulkan masalah di internet, maka jadilah digital native yang cerdas," serunya.

 

Bagaimana caranya jadi netizen cerdas? Tidak mudah percaya hoax, tidak melakukan kampanye hitam, tidak melakukan ujaran kebencian, dan tidak melakukan doxing. "Kenali pula hak-hak digital dan tanggung jawab digital," tegasnya.

Berita Terkait : Kasihan Anak Kos Kalau Harga Mie Instan Naik

Webinar tersebut diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.

Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas.

Tetapi juga, membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0. ■