Dewan Pers

Dark/Light Mode

Waspada Sindrom Mythomania, Penyakit Si Tukang Bokis

Rabu, 2 November 2022 21:23 WIB
Ilustrasi orang berbohong (Foto: Getty Images)
Ilustrasi orang berbohong (Foto: Getty Images)

RM.id  Rakyat Merdeka - Setidaknya sekali dalam hidup, seseorang pernah melakukan suatu kebohongan. 

Tujuannya macam-macam. Misalnya saja, demi menghindari hukuman, mendapatkan imbalan, perhatian atau pujian dan sejuta alasan lainnya.

Psikolog Irma Gustiana A menjelaskan, kebohongan yang paling banyak dilakukan orang, umumnya terkait pencapaian, perasaan, kehidupan sosial, usia, pendapatan, dan sebagainya.

"Biasanya, seseorang yang berbohong akan merasa tidak enak dan tidak nyaman. Dia akan gelisah, deg-degan, berkeringat atau khawatir," kata Irma melalui laman Instagramnya, Rabu (2/11).

Tapi, orang yang ketagihan berbohong (mythomania) tidak seperti itu. 

Berita Terkait : Kasih Makan Tunawisma, Eh Malah Ditangkap Polisi

Mythomania merupakan suatu kondisi, yang menyebabkan penderitanya memiliki kebiasaan berbohong tanpa tujuan tertentu, secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama.

"Mythomania tidak termasuk ke dalam diagnosis gangguan mental. Ini hanya symptom atau gejala gangguan kepribadian," ujar Irma.

Pengidap sindrom Mythomania, umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Tidak ada motif yang jelas untuk berbohong

2. Berbohong hampir di semua situasi

Berita Terkait : Jaga Objek Vital Negara, Petrofin Gelar Simulasi Tanggap Krisis

3. Menggabungkan fakta dan khayalan dalam ceritanya

4. Cerita biasanya dramatis dan sangat detil

5. Cenderung menyukai kebohongan yang dilakukan

"Ketika mengarang sebuah cerita kebohongan, pengidap sindrom ini akan membuat cerita yang seakan nyata, untuk mengelabui orang lain," beber Irma.

Mereka biasanya puas dan merasa spesial, karena ceritanya bisa dinikmati dan disukai oleh orang lain. Sehingga, dia terus mengulang dan tidak bisa berhenti berbohong.

Berita Terkait : Pemkot Bandung Bentuk Kampung Siaga Bencana

Di balik apa yang mereka lakukan, pengidap sindrom ini adalah mereka yang cenderung memiliki harga diri yang rendah, kurang percaya diri, dan seringkali membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Mungkin juga, pernah memiliki pengalaman kegagalan atau pengalaman yang kurang baik dari suatu kenyataan. Misalnya kegagalan dalam keluarga, cinta, studi, atau pekerjaan.

"Bagi mereka yang sedang berjuang melepaskan diri dari sindrom mythomania, cobalah belajar jujur tentang apa yang dirasakan. Berhenti membandingkan diri. Sibukkan diri dengan hal-hal positif yang bisa dilakukan. Cintai diri sepenuh hati dan jiwa, karena bahagia yang sepenuhnya ada dalam diri," saran Irma. ■