Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Ada yang tak kalah beresiko selain kekurangan protein pada anak, yaitu kekurangan zat besi. Anak yang kekurangan zat besi dalam masa tumbuh kembangnya beresiko mengalami anemia defisiensi zat besi.
Apa itu? Defisiensi zat besi atau kekurangan zat besi dapat mengganggu pertumbuhan pada anak. Sebab, zat besi merupakan zat yang esensial bagi tumbuh kembang anak.
Karena jika asupan zat besi tidak mencukupi, produksi hemoglobin akan terganggu, sehingga anak berisiko mengalami anemia.
Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Bina Medika Bintaro, dr. Rizki Aryo Wicaksono mengatakan, salah satu kegagalan pertumbuhan organ pada anak karena diakibatkan kekurangan asupan oksigen.
Baca juga : Pemerintah Sukses Bikin Petani Senang
"Jangka pendeknya, pasti anaknya jadi kekurangan sistem pertahanan tubuh. Karena sel darah merahnya tidak terdistribusi dengan baik. Jangka panjangnya, karena kekurangan oksigen terus, nanti jadi gagal tumbuh. Organ-organnya tidak mendapatkan oksigen dan akhirnya menjadi gagal tumbuh," kata dr. Rizki, dalam keterangannya, Minggu (13/4/2025).
Selain itu, defisiensi zat besi juga dapat mengakibatkan anemia yang membuat kelelahan dan kelemahan fisik. Bila diabaikan, dijelaskan Rizki, hal ini membuat anak susah dalam belajar.
“Yang lebih parahnya lagi, kalau misalkan oksigen itu tidak mencapai ke otak. Akhirnya anak-anak lebih cenderung tidak fokus, lesu, prestasi akhirnya menurun,” ucap Rizki.
Guna mencegah permasalahan defisiensi zat besi, Rizki menyebut orang tua memberikan protein hewani pada anaknya. Mulai dari daging merah hingga sea food seperti ikan.
Baca juga : Pertamina Berikan Beasiswa Untuk Local Hero
"Bisa dengan daging merah. Atau enggak bisa juga dengan ikan-ikan laut,” imbuhnya.
Selain itu, dia menyebut pangan terfortifikasi juga dapat menjadi pilihan untuk memenuhi zat besi pada anak. Beberapa contoh pangan terfortifikasi yakni seperti susu yang diperkaya zat besi, sereal sarapan, dan roti yang ditambahkan nutrisi.
Pangan terfortifikasi adalah makanan yang telah diperkaya dengan nutrisi tambahan, seperti zat besi, untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi harian.
Selain itu, pangan terfortifikasi sudah diformulasikan sehingga mengandung makronutrien dan mikronutrien yang dibutuhkan anak.
Baca juga : Tinjau Kalikangkung, Kapolri: Rekayasa Lalin Bikin Arus Mudik Lancar
"Kalau makanan terfortifikasi itu kan sudah diformulasi ya. Jadi sebenarnya di bagian makanan itu dia ada makronutrien dan mikronutrien. Zat besi itu dia salah satu dari mikronutrien," ungkap Rizki.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya