Dark/Light Mode

Hindari Hipertensi Di Kalangan Milenial

Cek Tekanan Darah Harus Rutin Untuk Deteksi Dini

Kamis, 3 Juni 2021 21:40 WIB
Media briefing bertajuk Hipertensi, Covid-19 dan Milenial secara virtual yang diadakan Yayasan Jantung Indonesia dan OMRON, Kamis (3/6). (Foto: Istimewa)
Media briefing bertajuk Hipertensi, Covid-19 dan Milenial secara virtual yang diadakan Yayasan Jantung Indonesia dan OMRON, Kamis (3/6). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menurut Yayasan Jantung Indonesia (YJI), masih banyak orang tidak menyadari bahaya hiptertensi. Padahal, hipertensi adalah salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner yang tidak hanya menyerang mereka yang sudah lanjut usia tapi juga generasi milenial.

Hipertensi, yang juga sering disebut the silent killer, sering terjadi tanpa keluhan dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi. Prevalensi hipertensi selama ini dianggap hanya terjadi di kalangan pasien berusia 60 tahun ke atas. Namun, beberapa tahun terakhir, hipertensi sering ditemui pada usia yang relatif lebih muda.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi hipertensi pada kelompok usia 18-39 tahun mencapai 7,3 persen dan prevalensi pre-hipertensi di rentang usia ini mencapai jauh lebih tinggi lagi, yakni 23,4 persen. Sementara prevalensi hipertensi pada kelompok usia 25-34 tahun mencapai 20 persen dan pada kelompok usia 35-44 tahun mencapai 34 persen .

Kenaikan prevalensi hipertensi pada milenial ini berhubungan erat dengan pola hidup dan kemajuan teknologi. Tuntutan pekerjaan dan pandemi Covid-19 yang menyebabkan timbulnya stres, juga memperburuk kondisi kesehatan generasi milenial.

Kenaikan prevalensi hipertensi pada milenial tersebut berhubungan erat dengan pola hidup tidak sehat, stres, dan kemajuan teknologi yang mengurangi aktivitas fisik. Stres dipicu oleh banyak faktor seperti tuntutan pekerjaan, selain juga pandemi Covid-19.

Terkait dengan hal tersebut OMRON bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI) dan Yayasan Jantung Indonesia (YJI) menggelar acara media briefing bertajuk ‘Hipertensi, Covid-19 dan Milenial’.

Baca Juga : Jangan Sembarangan Main Balon Udara, Ini Aturannya

Acara yang digelar secara virtual tersebut menghadirkan Tomoaki Watanabe, Director, OMRON Healthcare Indonesia; Herry Hendrayadi, Marketing Manager OMRON Healthcare Indonesia; Dr. Badai Bhatara Tiksnadi, SpJP, Spesialis Jantung Dan Pembuluh Darah dari PERKI dan Esti Nurjadin, Ketua YJI.

 Pada kesempatan tersebut OMRON menekankan pentingnya melakukan pola hidup sehat, dengan salah satunya melakukan pengukuran tekanan darah secara berkala untuk mencegah dan mengendalikan hipertensi.

Director, OMRON Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe mengatakan prevalensi hipertensi selama ini dianggap hanya terjadi di kalangan pasien berusia 60 tahun ke atas.

"Namun beberapa tahun terakhir, penyakit yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner itu sering ditemui pada usia yang relatif lebih muda," ujarnya.

Tomoaki mengatakan hipertensi patut diwaspadai sebagai komorbid atau penyakit penyerta teratas yang mengikuti penderita Covid-19.

Menurut data yang dihimpun oleh Satuan Tugas Penanganan Covid-19 per 1 Juni 2021, tiga besar komorbid tertinggi yang ditemukan pada pasien Covid-19 hipertensi (50 persen), Diabetes Melitus (36.6 persen), penyakit jantung (17,4 persen). Jangan lupa, hipertensi adalah kontributor utama pada penyakit jantung, stroke dan penyakit ginjal kronik.

Baca Juga : Terkait Subsidi BBM, Ini Usulan Menteri Arifin Untuk RAPBN 2022

Mengetahui adanya peningkatan prevalensi hipertensi dan ancaman penyakit Covid-19, pemantauan tekanan darah secara teratur dan perubahan gaya hidup yang lebih sehat sangat dianjurkan untuk memungkinkan deteksi dini dan pengelolaan penyakit yang lebih baik.

Untuk mendukung kesehatan anak muda di masa pandemi, OMRON menekankan pentingnya pemantauan tekanan darah secara rutin di rumah, mengubah kebiasaan dan menjalani pola hidup sehat.

Mengukur tekanan darah secara teratur adalah salah satu langkah paling penting untuk mencegah dan mengendalikan hipertensi.

“ Deteksi dini terhadap kenaikan tekanan darah adalah kunci pencegahan dan pengurangan risiko berbagai komplikasi yang berhubungan dengan hipertensi,” tutur Tomoaki.

Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia Esti Nurjadin menegaskan bahwa hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner yang tidak hanya bisa menyerang mereka yang lanjut usia tetapi juga bisa menyerang generasi muda atau milenial.

“Kenaikan prevalensi penyakit tidak menular seperti hipertensi dan penyakit jantung ini berhubungan erat dengan pola atau gaya hidup antara lain merokok, konsumsi minuman beralkohol, rendahnya aktivitas fisik, rendahnya konsumsi makanan sehat seperti sayur dan buah, serta tingginya konsumsi gula garam dan lemak, “ ujar Esti Nurjadin.

Baca Juga : Bamsoet Dukung Tindakan Tegas TNI-Polri Tumpas Teroris Papua

“Yang paling utama selain menghindari pola hidup tidak sehat adalah kita juga melalukan pengukuran tekanan darah secara rutin, " tambah Esti.

Pada kesempatan yang sama, Ahli Jantung dan Pemerhati Hipertensi Dr. Badai Bhatara Sp.JP mengatakan hipertensi akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner sampai dua kali, risiko gagal jantung satu setengah kali dan stroke dua koma enam kali lipat.

“Kita harus menumbuhkan kesadaran diri untuk melakukan cek kesehatan, melakukan pengukuran tekanan darah secara rutin, dan mencegah serta mengendalikan hipertensi dengan memodifikasi gaya hidup seperti rajin berolahraga juga membatasi asupan garam,” ujar Dr. Badai. [SRI]