Dark/Light Mode

Mantan Direktur WHO Curhat Traveling Naik Pesawat Di Masa Pandemi, Ini Catatannya

Sabtu, 23 Oktober 2021 12:16 WIB
Prof. Tjandra Yoga Aditama, sejak pensiun dari WHO pada September 2020, baru kembali naik pesawat terbang pada 20 Oktober 2021. (Foto: Dok. Pribadi)
Prof. Tjandra Yoga Aditama, sejak pensiun dari WHO pada September 2020, baru kembali naik pesawat terbang pada 20 Oktober 2021. (Foto: Dok. Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejak pensiun dari WHO September 2020 dan terbang kembali ke Jakarta dari New Delhi, Prof. Tjandra Yoga Aditama baru  kembali naik pesawat terbang, untuk mengikuti pertemuan Tuberculosis (TB) Summit 2021 pada 20 Oktober 2021.

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara ini pun berbagi pengalaman dan pengamatan, terkait pencegahan penularan Covid-19.  

"Pertama, tes. Sebelum berangkat, saya periksa swab antigen di Klinik Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Soekarno Hatta, sesuai aturan beberapa hari yang lalu. Hanya 2 atau 3 menit setelah ada hasil, informasinya masuk ke aplikasi Peduli Lindungi saya. Cepat sekali," ungkap Prof. Tjandra dalam keterangannya, Sabtu (23/10).

"Ketika akan pulang dari Denpasar ke Jakarta, sesuai aturan baru, saya periksa PCR," imbuhnya.

Berita Terkait : Begitu Tiba Di Indonesia, Penumpang Pesawat Luar Negeri Wajib Tes PCR, Ini Alasannya

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yang juga Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI ini mengaku setuju dengan penggunaan tes PCR, untuk bepergian dengan pesawat terbang.

Menurutnya, tes PCR merupakan gold standard, dengan tingkat akurasi yang paling tinggi. Artinya, hasil negatif test PCR memberi keamanan yang lebih tinggi, untuk pencegahan penularan Covid-19. 

"Dengan sensitivitas dan spesivisitas yang ada, maka kalau hasil rapid antigen negatif, mungkin saja masih ada virus SARS CoV 2 penyebab COVID-19 dalam tubuh seseorang. Tentu ada potensi untuk menular ke orang sekitarnya," jelas Prof. Tjandra.

Secara umum, bandara sudah cukup ramai penumpang. Di beberapa restoran, terlihat cukup banyak pengunjung. Selain itu, juga ada antrean tanpa jarak, sekitar 5 sampai 10 orang di kedai kopi ternama.

Berita Terkait : Tak Tepat Kerek Tarif Cukai Di Masa Pandemi

Ketika antre akan naik pesawat di gate di bandara  tampak antrean masuk pesawat yang panjang sekali. Praktis tak jaga jarak.

"Hal ini sebaiknya diperbaiki, walaupun sedang antri maka tetap harus berjarak. Setidaknya, 1 meter antar penumpang. Baik depan belakang, maupun antar barisan antrean kiri kanan," saran Prof. Tjandra.

Setibanya di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar dan melalui antrean,  petugas memeriksa boarding pass. Kita harus memperlihatkan KTP atau pengenal lain.

Sebelum naik pesawat, penumpang diminta membuka masker. Mungkin, maksudnya untuk mengecek, apakah wajah sesuai dengan yang di kartu pengenal.

Berita Terkait : Tingkatkan Keakraban Di Masa Pandemi, ITBSmuleans Ramaikan Ganeshow

Padahal, saat itu cukup banyak orang yang antre dalam beberapa baris. Juga ada petugas dan lain sebagainya 

"Sehingga, membuka masker walaupun sebentar, tentu memunculkan risiko terjadinya penularan. Baiknya, keharusan buka masker ini tidak perlu dilakuan," tutur Prof. Tjandra.
 Selanjutnya