Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Indeks Kemacetan Turun
Pandemi Sukses Tekan Mobilitas Warga Jakarta
Rabu, 16 Maret 2022 08:00 WIB
Sebelumnya
Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar menyatakan, jumlah penumpang pada tahun 2021 dalam situasi pandemi mencapai di atas 6 juta, 6,8 juta dalam setahun atau rata-rata 15-20 ribu penumpang per hari.
William menargetkan, sebanyak 14,6 juta penumpang MRT selama 2022. Atau untuk target harian sebanyak 40 ribu penumpang per hari.
“Kami yakini di akhir 2022 jumlah penumpang bisa di angka 65 ribu per hari. Tapi kita awali dari 20 ribu lalu 40 ribu hingga 65 ribu per hari,” ucap William.
Pengamat Transportasi Publik, Azas Tigor Nainggolan menilai, belum ada integrasi moda transportasi di Jakarta. Kondisi saat ini bukan integrasi, tapi hanya menyatukan fisik halte dengan stasiun saja.
Baca juga : Keren, Penumpang MRT Duduknya Masih Jaga Jarak
“Integrasi itu sistemnya, sistem pembayaran. Lah ini, kartu Transjakarta dengan JakLingko aja beda-beda, apanya yang integrasi,” kritiknya.
Azas pun menyarankan, Anies mencontoh Singapura atau Malaysia. Di mana integrasi transportasi benar-benar diterapkan. Dengan hanya satu kartu, penumpang dapat memanfaatkan layanan transportasi. Tak hanya itu, moda transportasinya juga tersedia, menjangkau warga. dan menghubungkan ke moda transportasi lainnya.
“Sekarang kalau kita mau ke halte saja, harus naik ojek online. Sebab transportasi umumnya tidak ada,” keluhnya.
Dia pun menampik jika banyak warga yang beralih ke transportasi publik.
Baca juga : Toyota Pamer Jajaran Mobil Terbarunya Di Jakarta Auto Week
“Bisa dilihat sendiri, JakLingko kosong. Nggak ada yang naik,” ucapnya.
Menurutnya, banyak warga enggan naik angkutan Pemprov DKI Jakarta lantaran pelayanannya kurang baik.
“Banyak keluhan sopir JakLingko yang nggak benar, harusnya ini yang dikerjakan Anies. Jangan pencitraan dan klaim-klaim aja,” tandasnya.
Sementara Pengamat Tata Kota, Yayat Supriatna menuturkan, Jakarta punya persoalan yang lebih besar dibandingkan persoalan peringkat tersebut. Misalnya, pola perjalanan.
Baca juga : Agnes Mo Semangat Cerita Nasi Padang Di Wawancara Grammy
“Sekarang sudah hampir 100 juta perjalanan Jabodetabek, ada peningkatan jumlah kendaraan dan yang paling parah road ratio (perbandingan jalan dengan luas wilayah) tidak berubah,” ujarnya.
Menurut Yayat, peringkat indeks kemacetan juga naik-turun. “Nah apakah naik-turun ini karena faktor yang fundamental atau tidak? Atau hanya karena faktor yang temporer,” tegasnya. [DRS]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya