Dark/Light Mode

Akibat Buruknya Kualitas Udara Di Ibu Kota

Warga Ngeluh Sesak Nafas Dan Mata Perih

Rabu, 20 Juli 2022 07:30 WIB
Kendaraan melintas dengan latar belakang gedung bertingkat yang terlihat berkabut di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (22/6/2022). Menurut data dari laman lembaga kualitas udara IQAir, pada Rabu 22 Juni 2022 hingga pada pukul 11.00 WIB indeks pencemaran udara di Ibu Kota berada di angka 160 dan masuk dalam kategori tidak sehat. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/hp).
Kendaraan melintas dengan latar belakang gedung bertingkat yang terlihat berkabut di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (22/6/2022). Menurut data dari laman lembaga kualitas udara IQAir, pada Rabu 22 Juni 2022 hingga pada pukul 11.00 WIB indeks pencemaran udara di Ibu Kota berada di angka 160 dan masuk dalam kategori tidak sehat. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/hp).

RM.id  Rakyat Merdeka - Buruknya kualitas udara di Ibu Kota membuat warga tak leluasa beraktivitas. Sebab, kondisi itu menimbulkan dampak kesehatan seperti sesak napas dan mata perih.

Polusi udara di Jakarta masih tinggi. Lembaga data kualitas udara IQ Air pada laman resminya, Senin (19/7), menempatkan Jakarta berada di peringkat pertama dari sepuluh besar kota paling berpolusi di Indonesia dengan indeks kualitas udara di angka 180.

Peringkat udara Jakarta lebih buruk dari Surabaya yang berada diurutan kedua terburuk dengan indeks kualitas udara di angka 159. Dan, Bekasi berada di posisi keempat dengan indeks kualitas udara di angka 129.

Baca juga : Kapolda Irjen Fadil Minta Dirlantas Berkantor Di Jalan Raya

IQ Air menyatakan, kualitas udara Ibu Kota masuk kategori tidak sehat karena konsentrasi Particulate Matter (PM) 2.5 berada pada angka 111.5 mikrogram per meter kubik atau 22,3 kali di atas nilai pedoman kualitas udara tahunan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Sejumlah warga DKI mengeluhkan kualitas udara buruk. Vivi, seorang pekerja freelance, mengaku enggan berlama-lama beraktivitas di luar ruangan lantaran udara di Jakarta sudah tidak sehat. Menurutnya, memakai masker di luar ruangan juga kurang efektif. Namun, hal itu sulit dihindari karena ia bekerja menggunakan kendaraan umum dan ojek online.

“Udara di jalanan Jakarta membuat napas sesak dan bikin mata perih,” keluh Vivi.

Baca juga : Sandiaga Gelar Bazar Sembako Murah Dan Serahkan Kambing Kurban

Warga lainnya, Ramdan mengaku sering batuk-batuk setelah seharian beraktivitas di jalanan Ibu Kota. Ia juga tidak bisa menghindari kegiatan di luar ruang karena ia bekerja menjadi kurir sebuah perusahaan.

“Padahal saya ini nggak merokok, tapi suka batuk-batuk kayak perokok berat,” ujarnya.

Menurut Ramdan, udara memburuk karena aktivitas warga sudah normal. Banyak perusahaan sudah menerapkan work from office (WFO) 100 persen.

Baca juga : DPRD DKI Segera Sahkan Raperda Disabilitas

Akibat sering batuk, Ramdan khawatir biaya pengobatan mahal.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.