Dark/Light Mode

Belum Semua Mematuhi Kebijakan PSBB

Lihat Tuh, Masih Banyak Warga Makan Di Warung

Minggu, 12 April 2020 19:50 WIB
Belum Semua Mematuhi Kebijakan PSBB Lihat Tuh, Masih Banyak Warga Makan Di Warung

RM.id  Rakyat Merdeka - Masih banyak warga makan di warung dan restoran. Padahal, dalam aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak boleh seperti itu. Makanan hanya boleh dibeli. Kemudian makannya di rumah.

Contohnya seperti di perkampungan padat penduduk, Ceng kareng, Jakarta Barat. Warteg di lingkungan perkampungan di belakang pedongkelan raya seperti di Pasar Timbul, Pasar Darurat, Pintu Seng, masih melayani pelanggan yang makan di tempat. 

Mulai warung bakso di tenda-tenda, warung semi permanen hingga yang permanen seperti warteg dan rumah makan padang. Di kawasan ini masih banyak pabrik-pabrik dan usaha yang masih buka. Makanya masih banyak pekerja yang makan di warung. 

Yang lebih miris lagi, physical distancing tidak diterapkan di dalam warung. pembeli tak ada jarak. tak ada pula hand sanitizer dan sabun seperti disyaratkan dalam aturan PSBB kepada pemilik usaha makanan. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah di Rawa Buaya, Tegal Alur, Kalideres dan perkampungan-perkampungan padat penduduk lainnya di Jakarta Barat. 

Berita Terkait : Dukung PSBB Jakarta, Baznas Bazis DKI Bikin Lagu Ayo Di Rumah

Kebanyakan pemilik warung belum tahu ada aturan yang membatasi dan melarang pembeli makan di tempat. “Enggak tahu ada aturan itu ya. Masih buka karena banyak yang beli. Kasihan orang pabrik mau makannya di mana lagi,” ujar Hadi, pemilik warteg di wilayah Pedongkelan. 

Sebagian besar warung makan di kawasan ini memang sudah tutup. Seperti warteg terbesar di Jalan Pedongkelan Raya, tak jauh dari taman Pedongkelan. Sudah dua pekan ini, pemilik warteg menutup warungnya. pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang taman Pedongkelan juga sebagian sudah tutup. pemiliknya sudah pulang kampung. 

Yang menggembirakan, sebagian warung makan di Jakarta Selatan sudah menerapkan aturan ini. Misalnya di Jalan Ciputat Raya, Pondok Pinang, sejumlah warung makan dan tempat ngopi, di depannya tertulis pemberitahuan. Isinya begini “mohon maaf hanya melayani take away, tidak melayani makan di tempat.” 

Beberapa warung malah ada yang sangat tertib. Membikin garis silang merah di depan kasir. Untuk membatasi jarak antara pembeli dan penjual saat ber transaksi. Bangku-bangku, ditaruh di atas meja. hanya ada bangku untuk para pengantre makanan yang take away. “Sudah sebelum PSBB berlaku sih kita terapkan tak boleh makan di tempat. Kita beri jarak juga antara pembeli dengan kasir,” ujar pemuda penjaga warung kopi kekinian di daerah Pondok Pinang, Jakarta Selatan. 

Berita Terkait : Tukang Ojek Menjerit-jerit, Makan Minta Ke Tetangga

Di warung-warung atau restoran besar, penerapan physical distancing juga berlangsung. para driver ojek online yang sedang membeli pesanan, mengantre dengan jarak satu meteran lebih. 
Di resto-resto besar, sejumlah pemilik menaruh hand sanitizer dan mewajibkan pembeli memakai masker. Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melarang masyarakat menyantap ma kanan langsung di restoran selama pemberlakuan PSBB. 

Hal ini diatur dalam peraturan Gu bernur (Pergub) Nomor 33 Tahun 2020 tentang PSBB dan mulai berlaku Jumat (10/4) lalu. Pergub itu mengatur penghentian aktivitas bekerja di tempat kerja atau kantor selama dua pekan ke depan. Kecuali untuk 11 sektor, termasuk penyediaan makanan dan minuman. 

Ada sembilan hal yang diatur dalam PSBB terkait kegiatan pe nyediaan makanan dan minuman. Pertama, membatasi layanan, hanya untuk dibawa pulang secara langsung (take away), melalui pemesanan secara daring, dan atau dengan fasilitas telepon atau layanan antar. 

Kedua, menjaga jarak antrean berdiri maupun duduk paling sedikit 1 meter antarpelanggan. Ketiga, menerapkan prinsip higienis sanitasi pangan dalam proses penanganan pangan sesuai dengan ketentuan. Keempat, menyediakan alat bantu seperti sarung tangan dan atau penjepit makanan untuk meminimalkan kontak langsung dengan makanan siap saji dalam proses persiapan, pengolahan, dan penyajian. 

Berita Terkait : Selama PSBB, Polri akan Kawal Distribusi Bahan Sembako

Kelima, memastikan kecukupan proses pemanasan dalam pengolahan makanan sesuai dengan standar. Keenam, melakukan pembersihan area kerja, fasilitas, dan peralatan, khususnya yang memiliki permukaan yang bersentuhan langsung dengan makanan. 

Ketujuh, menyediakan tempat cuci tangan dengan sabun bagi pelanggan dan pegawai. Kedelapan, melarang bekerja karyawan yang sakit atau menunjukkan suhu tubuh di atas normal, batuk, pilek, diare dan sesak nafas. Kesembilan,mengharuskan bagi penjamah makanan menggunakan sarung tangan, masker kepala dan pakaian kerja sesuai pedoman keselamatan dan ke sehatan kerja. [FAQ]