Dark/Light Mode

RT RW, Ujung Tombak Pengendalian Covid Di Kota Bekasi

Rabu, 20 Januari 2021 18:03 WIB
Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi saat Talkshow RMco.id bertajuk Patuhi PPKM, Putuskan Rantai Covid-19,  Rabu (20/1). (Foto: RM)
Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi saat Talkshow RMco.id bertajuk Patuhi PPKM, Putuskan Rantai Covid-19,  Rabu (20/1). (Foto: RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rukut Tetangga (RW) dan Rukun Warga menjadi ujung tombak pengendalian pandemi di Kota Bekasi. Pada masa pelaksanaan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), RT RW berperan penting dari mulai edukasi hingga tracing kontak erat pasien positif di kota ini.

hal tersebut diungkapkan Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi saat Talkshow RMco.id bertajuk Patuhi PPKM, Putuskan Rantai Covid-19, yang dipandu wartawan Rakyat Merdeka M Fiky Aziz dan Wahyu Suryani, Rabu (20/1).

Mengawali penjelasannya, Rahmat menyatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi berupaya maksimal menekan laju penyebaran Covid-19, melalui PPKM Jilid I yang berlangsung pada 11-25 Januari 2021. Dalam PPKM yang rencananya akan diperpanjang dua minggu, Pemkot Bekasi fokus pada pembatasan berbagai kegiatan masyarakat. Bukan hanya kegiatan di pemerintahan, aktivitas sektor ekonomi juga dibatasi ketat.

"Baik waktu operasional dan jumlah. Kami juga kembali seperti awal pandemi, membatasi tempat ibadah, kawinan dan acara yang menimbulkan kerumunan," kata Pepen, sapaan akrab Rahmat Effendi.

Berita Terkait : Walkot Bekasi Pepen Ingatkan Jajarannya Cegah Korupsi

Pepen menyebut, pihaknya telah menjalankan berbagai strategi untuk mengendalikan pandemi di wilayahnya. Pertama adalah antisipasi kesiapan fasilitas rumah sakit dan penambahan alat untuk tracing.

"Kita mempersiapkan tambahan RS Tipe D dan 115 bed di Stadion. Tambahan juga untuk PCR mobile dan PCR kontainer. Di Puskesmas kita tanbah unit lab agar tracing lebih banyak dan bisa mendata angka yang sebenarnya," tambahnya.

Pepen juga menyebut, Pemkot Bekasi hingga kini menerapkan program RW Siaga. "Kami juga tetapkan RW siaga. Sampai sekarang, kita langsung kunci RT dan RW yang ada penyebaran kasus," katanya.

Sejalan dengan itu, mengenai fasilitas kesehatan, pihaknya mengaku saat ini keterisiannya memang hampir penuh. Dari  46 RS umum dan swasta, 4 RS Tipe D, termasuk RSD Stadion, tingkat keterpakaiannya sudah 85 persen. Makanya, dia meminta RS rujukan Dr. Hasbullah agar mengubah tiga lantai menjadi ruang isolasi.

Berita Terkait : Awas, Limbah Eks Pasien Covid Picu Masalah Baru

Tetapi, kata Pepen, RS hanya untuk orang yang punya komorbid. Nah, di Bekasi, kata dia, untungnya banyak yang hanya bergejala ringan dan memungkinkan isolasi di rumah.

"Di sinilah peran RT RW amat besar. Sebab nanti, obat, dokter kontrol langsung datang ke wilayah RT RW. Tingkat kesembuhannya tinggi karena dimonitor rutin. Kita lakukan ini di Bekasi," bangganya.

Diterangkan Pepen, angka kematian di Kota Bekasi juga rendah, hanya 1,7 persen. Sedangkan angka kesembuhan tinggi capai 92 persen. Jauh di atas angka nasional. "Hanya saja, angka positifnya masih tinggi, 22 persen. Padahal standarnya 5 persen. Kenapa tinggi? Karena kami tracking dengan massif. Data kita tidak dikurangi, data real," kata dia.

Kepatuhan warga Kota Bekasi terhadap protokol kesehatan juga tinggi. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bahkan memuji Kota Bekasi. Kata Pepen, ini karena Kota Bekasi sudah menerapkan Peraturan Daerah (Perda).

Berita Terkait : Pertama Di Dunia, Penerima Vaksin Covid-19 Di Tanah Air Bisa Registrasi Via WA

"Kita yang pertama di Jabar. Kita punya Perdanya yang kita siapkan pertengahan tahun lalu. Tiap hari kita lakukan edukasi ke masyarakat. Di kecamatan-kecamatan Kota Bekasi, kami gencar lakukan razia, sidang di tempat, edukasi kepada warga yang bandel. Tapi kita tak mengedepankan sanksi. Kami lebih ke edukasi. Sanksinya, kalau di Perda, paling tinggi 50 juta, kurungannya 6 bulan. Kami belum jatuhkan sanksi maksimal," terangnya.

Pepen mengakui, tantangan yang paling sulit adalah menghadapi warga yang tidak percaya Covid-19. "Saat yang terdekat kena, baru sadar. Yang tak percaya ini karena putus asa, ekonomi makin sukit, pandemi panjang begini. Akhirnya nggak percaya. Mereka mengubah pendapatnya yang tadinya percaya jadi nggak," pungkasnya. [FAQ]