Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Emil Dardak: Demokrasi Ketimuran Harus Dilandasi Kesantunan
Rabu, 8 Desember 2021 20:13 WIB
Sebelumnya
Penguatan Lembaga
Sementara Anggota DPR Nasir Djamil menyatakan masyarakat Indonesia perlu bersyukur karena telah memilih sistem demokrasi karena telah memberi berbagai hal positi. Namun demikian, masih perlu penegakan hukum dan etika untuk meningkatkan atau menyuburkan kualitas demokrasi Indonesia.
Baca juga : Urgensi Kesehatan Lingkungan (2)
Karena memang demokrasi memunculkan risiko, yakni lahirnya ignorance leadership atau pemimpin yang kurang beroengatahuan apalagi jika demokrasi dijalankan berdasarkan transaksional atau rupiah.
"Perjalanan demokrasi itu sangat ditentukan rasa tanggung jawab. Bisa jadi menurunnya demokrasi karena menurunnya tanggung jawab. Juga perlu penguatan lembaga-lembaga yang menunjang demokrasi," sebutnya.
Baca juga : Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Seperti Fathul Makkah
"Problem terbesar demokrasi adalah belum mampu menangani kemiskinan, kebodohan dan ketidkaadilan sosial. Jadi memang masalah demokrasi itu lumrah dan selalu ditemukan di negara demokrasi, Barrack Obama dengan Amerika Serikat yang sudah 100 tahun memparktikan demokrasi saja masih mengalami masalah. Apalagi kita, yang tergolong masih baru," kata Nasir.
Pengamat dan Inisiator Rumah Perubahan, Prof. Rhenald Kasali menyatakan, di masa lalu usai perang dingin berakhir, sistem liberalisme di negara barat mulai naik daun. Sistem demokrasi sendiri muali bergeser di negara timur sampai dengan tahun 1998 saat Presiden Soeharto lengser.
Baca juga : SDM Unggul Dan Literasi Sejak Dini Kunci Indonesia Maju
Hal ini menjadi glorifikasi atas pemikiran masyarakat barat yang musuh mereka saat itu adalah nasionalisme yang dianggap menjadi penghambat investasi dan globalisasi.
"Liberalisme diglorifikasikan begitu pesat dan sebagian pihak menganggapnya sebagai demokrasi. Sistem demokrasi sebenarnya banyak manfaatnya, salah satunya banyak melahirkan pemimpin yang bekerja untuk rakyat. Sementara nasionalisme kemudian menjadi lawan dan tantangan dan banyak tokoh nasional berguguran. Yang terjadi kemudian kita bergerak ke arah demokrasi, sementara di barat bergerak ke arah teknologi. Kata nasionalisme tidak begitu disukai di barat makanya Donald Trump menggunakan istilah patriotisme," kata dia.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya