Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Nggak Bikin Lonjakan Kasus
Omicron Siluman Keok Sama Super Immunity
Jumat, 25 Maret 2022 07:55 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Beberapa negara di Asia dan Eropa, kembali mengalami lonjakan kasus Covid-19 akibat varian BA.2. Tapi di Indonesia, kasus justru terus melandai. Padahal, varian yang dikenal sebagai ‘Omicron Siluman’ itu juga sudah dominan di Tanah Air. Lantas, kenapa Indonesia bisa lolos dari lonjakan kasus?
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menduga, salah satu faktornya lantaran vaksinasi di Indonesia dimulai lebih lambat dibandingkan beberapa negara, seperti Singapura, Korea Selatan dan Jepang.
“Sehingga level antibodi Indonesia masih tinggi,” ujar Budi dalam konferensi pers, kemarin.
Baca juga : RI Mampu Menahan Lonjakan Kasus Covid, Berkat Super Immunity
Selain karena tingkat antibodi masyarakat Indonesia dari vaksinasi masih tinggi, mereka juga punya antibodi alami setelah terinfeksi varian Delta yang jadi biang kerok lonjakan kasus di Tanah Air pada pertengahan tahun lalu.
Menurut mantan Direktur Bank Mandiri ini, hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang pernah terinfeksi Covid lalu divaksin, memiliki daya tahan tubuh yang sangat kuat dan bertahan lama.
“Jadi pas Omicron datang, sudah double imunitasnya. Immunity yang berasal dari infeksi dan immunity yang berasal dari vaksinasi. Jadi super immunity,” terangnya.
Baca juga : Jaga Bumi, Tasya Kamila Pilah Pilih Sampah
Budi menyebut, hal ini juga dialami India.
Negara itu terkena gelombang Delta yang luar biasa pada Mei dan setelah itu menggenjot vaksinasi. Karena itu, negeri Bollywood ini tidak mengalami lonjakan kasus.
Super immunity ini, menjadi salah satu pertimbangan Pemerintah dalam melakukan pelonggaran aturan. Termasuk, dalam kegiatan ibadah selama bulan Ramadan dan tradisi mudik pada Idul Fitri.
Baca juga : Puan Minta Pemerintah Waspadai Lonjakan Kasus Omicron BA.2
Apalagi, saat ini angka reproduction number Indonesia sudah semakin mendekati satu. Angka reproduksi digunakan dalam mengukur tingkat penularan virus di masyarakat. Semakin tinggi angkanya, semakin menular virus.
Menurut perkiraan para epidemiolog mungkin akhir bulan ini, situasi bisa kembali ke seperti Oktober-November 2021, dengan kasus yang stabil.
“Yang namanya epidemi yang terkontrol dari para epidemiologis itu kalau di reproduction number-nya di bawah satu,” ujar mantan Wakil Menteri BUMN ini. [JAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya