Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kasus Penyimpangan Izin Impor
Perusahaan Garmen Sawer Pejabat Bea Cukai Rp 2 Miliar
Jumat, 8 April 2022 07:30 WIB

RM.id Rakyat Merdeka - Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan tiga pejabat Bea Cukai sebagai tersangka kasus penyalahgunaan izin impor tekstil melalui Pelabuhan Tanjung Emas 2016-2017.
PARA tersangka yakni Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Semarang, Imam Prayitno.
Kemudian Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan KPPBC Semarang sekaligus tim Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), M Rizal Pahlevi. Terakhir, Kepala Seksi Intelijen Kantor Wilayah Bea dan Cukai Jawa Tengah, Handoko.
Berita Terkait : Jaga Imun Dengan Makanan Bergizi Saat Berbuka Dan Sahur
“Ketiga tersangka ditahan selama 20 hari di rumah tahanan negara (Rutan) Salemba Cabang Kejaksaan Agung untuk memudahkan proses penyidikan,” ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Ketut Sumedana.
Sumedana menjelaskan, dari hasil penyidikan ditemukan fakta Imam Prayitno bersama M Rizal Pahlevi melakukan tindak pidana korupsi.
Modusnya, melakukan pengamanan kegiatan importasi dan pengurusan dokumen. Juga melakukan pengeluaran barang impor milik PT Hyup Seung Garment Indonesia (HGI) dari kawasan berikat.
Berita Terkait : Laba Bersih ZYRX Naik Jadi Rp 69,7 Miliar
Sedangkan tersangka Handoko, berperan menerima penyerahan uang tunai dari pihak PT HGI untuk dibagikan kepada Prayitno dan Rizal Pahlevi. “Uang tersebut diserahkan di Padang Golf Candi Semarang senilai Rp 2 miliar,” ungkap Sumedana.
Ketiga tersangka telah menyalahgunakan wewenangnya yang menyebabkan kerugian negara. Mereka dijerat dengan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Yakni Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang (UU) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Sementara untuk tersangka M. Rizal Pahlevi dan Handoko juga dijerat dengan Pasal 5 ayat (2) juncto ayat (1) huruf a dan b atau Pasal 11 UU Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Sebelumnya, Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Supardi mengutarakan, kasus ini diduga melibatkan oknum Bea Cukai untuk meloloskan bahan baku tekstil asal impor.
Selanjutnya
Tags :
Berita Lainnya