Dewan Pers

Dark/Light Mode

Petugas Kesehatan Haji Di Era Covid Punya Tantangan Beda, Ini Saran Prof. Tjandra

Kamis, 14 April 2022 12:40 WIB
Prof. Tjandra Yoga Aditama (Foto: Istimewa)
Prof. Tjandra Yoga Aditama (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mantan Direktur WHO Asis Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama angkat bicara soal persiapan petugas kesehatan haji di era pandemi Covid-19. Menyusul telah disepakatinya biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) reguler tahun 1443H/2022M sebesar Rp 39,8 juta oleh Komisi VIII dan Kementerian Agama, Rabu (13/4).

"Meski jumlah kuota jemaah haji kita memang belum dipastikan, tetapi berbagai berita menyebut angka sekitar 100 ribu orang, dan diberitakan akan dilayani oleh sekitar 1000 petugas kesehatan," kata Prof. Tjandra dalam keterangannya, Kamis (14/4).

Sejauh ini, ada tiga kelompok besar petugas kesehatan haji. Pertama, Tenaga Kesehatan Haji indonesia (TKHI) yang bertugas mendampingi jemaah di setiap kloter.

Kedua, tim kesehatan di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), yang bertugas di RS Indonesia di Mekkah dan Madinah. Ketiga, Tim Kesehatan Lapangan yang bertugas memberikan pelayanan jemaah. Terutama, saat jemaah melakukan prosesi ritual haji.

Kegiatan tim kesehatan Indonesia di lapangan antara lain meliputi surveilans, penanganan gawat darurat, promosi kesehatan, sanitarian, dan keamanan pangan, dukungan logistik kesehatan serta tim pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) penyakit menular.

Berita Terkait : Fokus Kerja, Jokowi Larang Menteri Bicara Perpanjangan Jabatan Presiden

Tim Kesehatan Haji dari Indonesia dalam kegiatan sehari-hari akan dibantu oleh Tim Pendukung Kesehatan (TPK), yang direkrut dari WNI yang ada di Arab Saudi.

"Petugas Kesehatan Haji yang akan menangani masalah kesehatan jemaah tahun ini, harus punya perhatian khusus pada aspek Covid. Di samping pengetahuan dan keterampilan kesehatan pada umumnya," ujar mantan Kepala Klinik Haji Indonesia di Mekkah ini.

Aspek Covid-19

Perhatian khusus pada aspek Covid-19 ini, setidaknya dijabarkan dalam tiga aspek. Pertama, aspek pencegahan.

Menurut Prof. Tjandra yang juga mantan Ketua Pengawasan dan Pengendalian Kesehatan Haji Indonesia, hal tersebut perlu disiapkan dalam tiga hal. Seperti bagaimana mengatur dan mengarahkan jemaah, agar tetap menjalankan protokol kesehatan. Sesuai situasi dan keadaan yang ada.

Berita Terkait : Kementan Janji Kendalikan Stok Pangan Di 34 Provinsi

"Itu bukan hal yang mudah, tetapi perlu dilakukan dan disiapkan berbagai kemungkinannya sejak sekarang," ucapnya.

Dalam aspek pencegahan ini, perlu juga dipahami, bagaimana prosedur mencegah penularan. Bila ada jamaah yang sakit atau kemungkinan tertular. Mulai dari bagaimana isolasi dan karantina harus dilakukan, pengaturan kamar dan tempat tidur di penginapan dan sebagainya.

"Situasi komorbid para jemaah harus diawasi ekstra ketat. Agar tidak menjadi faktor risiko tertular Covid-19, dan atau menjadi faktor risiko memberatnya penyakit," jelas Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/Guru Besar FKUI ini. 

Kedua, aspek tentang bagaimana mendeteksi atau mendiagnosis Covid-19 di kalangan jemaah.

Karena ini akan dilakukan di Arab Saudi, maka tentu harus mengikuti prosedur di sana. Baik tentang pemeriksaan PCR, ataupun mungkin pemeriksaan genome sequencing.

Berita Terkait : Evaluasi Stok dan Harga Pangan Jelang Ramadan, Satgas Pangan Polri Gelar Rakor

"Kita ketahui, pada 9 Maret 2022, WHO sudah memberikan rekomendasi penggunaan tes mandiri Covid-19 dengan menggunakan rapid tes antigen, tentu dengan persyaratan dan kondisi yang jelas," tutur Prof. Tjandra.

"Dalam hal ini, perlu sejak sekarang dipersiapkan, bagaimana kemungkinan penggunaan tes mandiri ini pada jemaah haji kita di tahun ini," lanjutnya.

Ketiga, aspek persiapan penanganan pasien. Terutama, yang terkait perawatan dan pengobatan jamaah yang terkena Covid-19.

Prof. Tjandra yakin, pemerintah Arab Saudi sudah melakukan persiapan dan sarana, serta prasarana kesehatan yang amat memadai terkait hal tersebut.

Menurutnya, dalam hal ini, Petugas Kesehatan Haji kita tentu perlu berkoordinasi secara amat erat, dengan sistem kesehatan di Arab Saudi. Agar jemaah kita nyaman dalam pelayanan kesehatan.
 Selanjutnya