Dewan Pers

Dark/Light Mode

Setelah Jokowi & 7 Ketum Parpol Bertemu

Nasib Ganjar Sulit Ditakar

Jumat, 17 Juni 2022 07:55 WIB
Ilustrasi penentuan nasib Ganjar Pranowo di 2024. (Kartun: Mice)
Ilustrasi penentuan nasib Ganjar Pranowo di 2024. (Kartun: Mice)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pertemuan Presiden Jokowi dengan tujuh ketum parpol di Istana, Rabu lalu, tak hanya dianggap bisa menjadi penentu presiden 2024. Namun, pertemuan tersebut bisa membuat nasib Ganjar Pranowo sebagai capres semakin sulit ditakar. Apakah Ganjar akan mendapatkan tiket mudah, atau terbuang dengan cepat.

Kenapa pertemuan Jokowi dengan ketujuh ketum parpol itu dikaitin ke Ganjar? Logika sederhananya, karena selama ini Jokowi digosipkan akan menjagokan Ganjar sebagai capres 2024. Sehingga, ketika ada gerakan-gerakan politik yang dilakukan Jokowi, selalu nyerempet-nyerempet ke Ganjar.

Jokowi memang tak pernah secara lugas menyatakan dukungan ke Ganjar. Isyarat yang sedikit mendekati hanya diperlihatkan Jokowi saat pidato di Rakernas Projo, Mei lalu.

Melihat pertemuan itu, pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai, dalam pertemuan dengan tujuh ketum parpol itu, tampak Jokowi sangat dominan. Namun, dia tidak melihat pertemuan itu untuk kepentingan Pilpres 2024.

Berita Terkait : Sebelum Reshuffle, Jokowi Kumpulkan Para Ketum Partai Koalisi

“Pertemuan itu hanya bagian dari konsolidasi untuk menjaga dan mengamankan kepemimpinan Jokowi hingga Oktober 2024,” analisisnya.

Soal koalisi di Pilpres 2024, kata dia, akan menjadi persoalan lain. Ketujuh ketum parpol ini sepertinya tak akan kompak. Pasti akan ada yang berseberangan. Hal itu terlihat dari sikap beberapa ketum parpol yang tampaknya ingin maju sebagai capres. Seperti Prabowo Subianto (Gerindra), Muhaimin Iskandar (PKB), Airlangga Hartarto (Golkar), dan Zulkifli Hasan (PAN).

"Jadi, untuk apa bikin partai kalau perahunya diberikan ke capres lain atau ke Ganjar misalnya," kata Ujang.

Ujang melihat, memang ketujuh ketum parpol itu terlihat kompak saat di hadapan Jokowi. Namun, untuk urusan Pilpres, chemistry-nya tidak semua klik. Dia menilai, dari 7 parpol itu, kemungkinan muncul 3 poros. Ada Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), ada PDIP yang bisa mencalonkan capres sendiri, dan poros Gerindra. Ketiganya mungkin akan memunculkan capres sendiri.

Berita Terkait : Calon Menteri Sabar Dulu Ya

"Walaupun Jokowi ingin menjadi king maker, tapi tidak semua parpol bisa ditaklukkan. Prosesnya masih berkembang dan dinamis. Parpol sepertinya tidak akan nurut atau ikut begitu saja apa yang disarankan Jokowi. Kecuali mungkin partai tertentu saja," analisisnya.

 

Analisis serupa disampaikan pengamat politik dari UIN Jakarta Adi Prayitno. Kata dia, dalam asumsi umum, Jokowi bisa mengkonsolidasikan kekuatan untuk mendukung capres jagoannya. Alasannya, 4 ketum parpol dan satu sekjen menjadi menteri.

Namun, kata dia, realitanya tidak akan semudah itu. Apalagi teranyar KIB selalu menolak dikaitkan dengan Ganjar. Airlangga sudah memberikan penolakan halus akan memberikan tiket KIB ke Ganjar. "Kalau soal penentuan siapa capres, rasa-rasanya partai punya independensi dan siap menanggung segala risikonya," kata Adi, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Lalu bagaimana nasib Ganjar? Menurut Adi, nasib Ganjar makin sulit ditakar. NasDem sudah memberikan dukungan kepada Ganjar sebagai capres. Namun, Ganjar dengan tegas menolak dikaitkan dengan NasDem. "Ganjar sampai saat ini sepertinya konsisten tetap ingin mendapatkan tiket dari PDIP," ujarnya.

Berita Terkait : Tommy Keberatan Namanya Dicatut

Penolakan Ganjar yang dimaksud Adi itu ceritanya begini. Kemarin, Ganjar hadir di sekolah PDIP di Lenteng Agung.Ganjar mengikuti acara di sekolah partai selama 2 hari. Di acara itu, Ganjar dilarang menginap di hotel. Ia diharuskan menginap di sekolah banteng tersebut. Ganjar hadir bersama ratusan kepala daerah berdarah banteng dari seluruh daerah. Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka juga ada.

Di sela-sela acara, Ganjar ditanya wartawan terkait namanya banyak diusulkan DPW NasDem menjadi capres. Terkait hal ini, Ganjar bilang terima kasih. Namun, Ganjar ngomong begini: "Tapi, saya kan PDI Perjuangan," kata Ganjar. Ganjar berulang kali mengatakan demikian.

Jadi ruwet kan. Di satu sisi, banyak yang menjagokan Ganjar, tapi Ganjar tetap berseragam PDIP. Di sisi lain, PDIP ngotot mau menjagokan Puan Maharani. Inilah politik Pilpres saat ini.■