Dewan Pers

Dark/Light Mode

Jelang KTT G20

Andika Cium Ada Serangan Siber

Selasa, 8 November 2022 07:10 WIB
Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. (Foto: Antara)
Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Panglima TNI, Jenderal Andika Perkasa memastikan pengamanan jelang pelaksanaan Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali sangat siap dan terkendali. Menurutnya, tidak ada ancaman serius yang bisa berpotensi mengganggu jalannya acara. Namun, tidak demikian dengan di dunia maya. Andika justru mencium adanya serangan siber.

Gelaran KTT G20 yang jatuh pada 15-16 November di Nusa Dua Bali, hanya tinggal menghitung hari. Menjelang hari H, TNI dan Polri selaku ujung tombak dalam pengamanan, tentu menjadi pihak yang paling sibuk. Andika Perkasa bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit harus bolak-balik ke Bali untuk memastikan persiapan keamanan berjalan lancar.

Kemarin, Andika bersama Kapolri memimpin apel Operasi Puri Agung 2022 Pengamanan KTT G20 yang digelar Polri di Lapangan Niti Mandala, Renon, Denpasar, Bali. Apel tersebut melibatkan personel TNI dan Polri yang bertugas mengamankan gelaran KTT G20.

Dalam sambutannya, Andika mengatakan bahwa pengamanan KTT G20 ini berstandar internasional. TNI menggunakan cara kerja yang sama saat latihan militer Super Garuda Shield, yakni bekerja sama dengan militer negara tetangga.

"Kerja sama inilah yang kemudian membuat kita lebih teliti. Apakah ada pendeteksi tentang potensi-potensi atau rencana-rencana tertentu,” kata Andika.

Sejauh ini, Andika memastikan semua persiapan berjalan lancar. Secara umum tidak ada ancaman yang signifikan. “Tapi, kalau siber memang harus saya akui, ada," ungkap Andika.

Eks KSAD ini tidak merinci ancaman siber yang seperti apa. Namun, untuk mengatasinya, TNI melibatkan banyak pihak. Mulai dari bekerjasama dengan Badan Siber Sandi Negara (BSSN), Badan Intelijen Negara (BIN), hingga Polri untuk rutin melakukan simulasi pertahanan dalam rangka pengamanan acara puncak perhelatan KTT G20.

Berita Terkait : Berkah KTT G20, Warga Bali Rasakan Layanan 5G Super Ngebut

Meskipun ada serangan siber, Andika mengaku bersyukur, sebab tim pengamanan justru semakin lebih matang. Eks Pangkostrad ini juga menghimbau kepada semua masyarakat, khususnya yang punya skill di bidang siber untuk ikut membantu. “Mari kita saling membantu mengantisipasi adanya percobaan-percobaan gangguan terhadap jaringan siber," ujar menantu eks Kepala BIN, AM Hendropriyono ini.

Di kesempatan yang sama, Sigit mengatakan, pihaknya terus melakukan deteksi secara keseluruhan. Pengamanan dilakukan sejak masuk Bandara I Gusti Ngurah Rai, dan pintu-pintu masuk di seluruh Pelabuhan di Bali.

Personel khusus disiapkan, dilengkapi CCTV yang mampu mengenali wajah. Sehingga, personel di lapangan bisa memonitor siapa saja yang masuk, khususnya orang-orang yang perlu mendapat pengawasan khusus, baik dari dalam maupun luar negeri.

"Kita sudah mengklasifikasi, target-target tersebut masuk dalam kelompok ancaman apa. Mulai terkait masalah yang berpotensi unjuk rasa sampai dengan berpotensi melakukan serangan-serangan teroris. Ini semua dari awal sudah kita lakukan deteksi, termasuk juga tim khusus kita, baik Densus 88 dan Jibom (penjinak bom)," terang Sigit.

Mantan Kabareskrim ini menyatakan Polri sudah mempersiapkan antisipasi apabila kemudian ada ancaman tersebut saat KTT G20. Polri bersama TNI akan menjadi satu kesatuan koordinasi pengamanan.

"Jadi mulai dari awal, kita sudah tahu dan tentunya paling utama jangan sampai peristiwa yang terjadi di ring 3 akan mengganggu kegiatan ring 2 dan ring 1. Karena itu, menjadi satu kesatuan pengamanan yang kita laksanakan secara bersamaan-sama," tegasnya.

Terkait pengamanan 17 Kepala Negara yang dikonfirmasi hadir saat KTT G20, Sigit mengatakan sudah dikoordinasikan dengan Panglima TNI. Koordinasi antara TNI dan Polri, kata dia, berjalan baik.

Berita Terkait : Jelang Pergantian Tahun, JCB Manjakan Liburan Nasabah Dengan Star Island

Sigit mengatakan pengamanan KTT G20 di Bali berstandar internasional dan menjadi pertaruhan Indonesia. “Karena memang ini menjadi salah satu pertaruhan kita, selain KTT G20 harus berjalan dengan baik maka pengamanan standarnya harus kita sesuaikan sehingga semuanya menjadi pertaruhan kita," tegas Sigit.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan optimis, keamanan selama gelaran KTT G20 akan berjalan lancar. Menurutnya, Polri memiliki teknologi mumpuni untuk mencegah serangan siber selama KTT G20 Bali. Ia juga mengajak semua pihak berdoa untuk kesuksesan KTT G20.

Luhut juga yakin BSSN bekerja dengan baik untuk mencegah adanya serangan siber. Sehingga persoalan ini tidak perlu digembar-gemborkan. Terlebih, saat ini memang eranya perang siber.

Luhut bahkan mengungkit serangan hacker bernama Bjorka yang mengaku bisa membongkar data Pemerintah. Menurutnya, data itu tak terlalu penting. "Dia mendapatkan data yang lama, tidak data yang kekinian," klaimnya.

Ia juga meminta TNI dan Polri bersatu, jangan sampai ada kesalahan sekecil apapun. Karena, acara ini sangat penting, dan baru datang lagi 20 tahun kemudian. Meski bukan pekerjaan mudah, tetapi hal ini bis bisa dilakukan.

Lulusan Akademi Militer 1970 ini lantas bercerita pengalamannya sebagai prajurit TNI yang pernah mengemban tugas serupa. "Berpuluh-puluh tahun yang lalu, saya juga bagian seperti kalian, dan tugas-tugas yang diberikan waktu itu bisa dilakukan dengan baik, karena semua bekerja dalam teamwork yang baik," pesannya.

"Tidak ada yang boleh merasa lebih hebat dari yang lain. Karena ini adalah pekerjaan kita semua. Pengamanan ini at all cost harus aman. Tidak ada celah untuk kesalahan," pinta pensiunan jenderal bintang 4 ini.

Berita Terkait : Jelang KTT G20, PLN Pamerkan 2 PLTS dan 33 PV Rooftop di Bali

Anggota Komisi I DPR Dave Laksono meminta TNI, Polri, dan pihak terkait segera merespons dan melakukan mitigasi atas segala kemungkinan yang terjadi. "Tentunya harus ada peningkatan akan kemampuan tangkal dari aparat keamanan kita, baik secara infrastruktur ataupun sumber daya manusianya," pesan politisi Golkar itu.

Sebelumnya, KSAL Laksamana Yudo Margono sudah mengaktifkan mode perang atau siap tempur. Hal ini karena tamu yang hadir merupakan para pemimpin negara. TNI memiliki beberapa kriteria tentang pasukan pengamanan, yakni siap tempur, siap operasi, dan tidak siap. Siap operasi, berarti prajurit hanya siap untuk penegakan kedaulatan hukum. Sedangkan siap tempur, prajurit pengamanan siap melakukan pertempuran jika diperlukan.

"Tentunya, saya perintahkan ini adalah pengamanan untuk siap tempur. Berarti (pasukan) harus siap tempur," kata Yudo.

Yudo menjelaskan, untuk pengamanan G20, TNI AL  mengirimkan 12 KRI dan satu kapal tangker. Selain itu, sebanyak 3.000 personel TNI AL, termasuk pasukan khusus dari Denjaka dan Kopaska siaga di KRI. Semua KRI yang memiliki helideck, diperintahkan untuk membawa helikopter. KRI yang dilibatkan pun betul-betul kapal yang siap tempur.