Dewan Pers

Dark/Light Mode

Cerita Mahfud Saat Nyantri, Ditempa Jadi Manusia Berintegritas

Kamis, 24 November 2022 08:49 WIB
Menko Polhukam Mahfud MD saat sowan ke Pondok Pesantren (Ponpes), tempat ia nyantri semasa kecil, Ponpes Al Mardliyyah, Waru, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Selasa (22/11). (Foto: Istimewa)
Menko Polhukam Mahfud MD saat sowan ke Pondok Pesantren (Ponpes), tempat ia nyantri semasa kecil, Ponpes Al Mardliyyah, Waru, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Selasa (22/11). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Saat menjadi santri di tahun 1968, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mendapat gemblengan khusus dari guru-nya, Kiai Mardliyyan yang juga pendiri Pondok Pesantren Al Mardliyyah, Waru, Pamekasan Madura, Jawa Timur.

Hal ini dikisahkan Mahfud MD saat silaturrahmi bersama pimpinan pesantren, santri dan para alumni Pondok Pesantren Al Mardliyyah, Selasa, (22/11).

Dalam acara silaturrahmi tersebut, Mahfud berkisah masa-masa kecil di pesantren. Mahfud mengaku mendapat perhatian khusus dari pimpinan pesantren kala itu, agar kelak kalau sudah 'jadi orang' selalu jaga integritas, tidak serakah dan tidak memakan hak orang lain.

Berita Terkait : Saatnya Messi Beraksi

"Yang paling berkesan di sini, dulu saat saya mondok, setiap pagi saya selalu diajak sarapan sama Kiai Mardliyyan, terus saya disuruh makan, suruh nambah lagi sampai perut terasa kenyang banget. Kiai bilang: ayo makan, tambah lagi, saya jawab; sudah kiai, sudah kenyang. Lalu Kiai Mardliyyan bilang; manusia itu butuhnya cuma segitu. Suatu saat nanti kalau kamu jadi orang, jangan serakah. Orang mau numpuk harta seberapa banyak, butuhnya cuma segitu," cerita Mahfud mengisahkan pendidikan moral dari Kiai Mardliyyan.

Mahfud mengaku, pendidikan moral dari Kiai Mardliyyan ini masih ia pegang teguh saat dirinya mulai mendapat amanah di pemerintahan bersama Presiden Gus Dur, hingga saat ini menjabat Menko Polhukam RI di era Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Itulah pelajaran moral dari Kiai Mardliyyan dan hingga saat ini masih saya pegang teguh," tambah Mahfud yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini.

Berita Terkait : Mahfud Pastikan RKUHP Dengarkan Masukan Banyak Pihak

Pada tahun 1968, Mahfud kecil menghabiskan waktu kanak-kanaknya di Pondok Pesantren, di sebuah panggung kecil sederhana yang terbuat dari kayu.

"Di sini saya belajar ngaji, belajar Safina (Kitab Safinatun Najah: red), belajar Sullam (Kitab Sullamut Taufiq: red) dan lain sebagainya," ujar Mahfud.

Dalam kunjungannya di Pondok Pesantren Al Mardliyyah ini, Mahfud bernostalgia, mengelilingi pondok, melihat ruangan yang dulu ditempatinya. Termasuk bekas dapur yang dulu biasa digunakan para santri biasa memasak pakai tungku.

Berita Terkait : Menlu Rusia Nyantai Di Teras

Di hadapan santri dan alumni Pondok Pesantren Al Mardliyyah, Mahfud mengingatkan agar selalu menjaga marwah pesantren. Tidak tamak dan serakah, saat diberi kepercayaan mengemban amanah.

"Jangan tamak dan jangan serakah. Jangan makan barang haram, karena akan menjadi penyakit bagi diri kita, hidup tidak tenang, mimpinya jelek terus. Ada pemadam kebakaran lewat takut, dikira KPK," ujar Mahfud sembari bercanda dan disambut tepuk tangan para undangan yang hadir. ■