Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Ada Kabar gembira dari Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kata dia, kocek negara lagi tebel. Per April 2023, APBN surplus Rp 234,7 triliun.
Hal tersebut dikatakan Sri Mul saat konferensi pers bertajuk “APBN Kita”, di Jakarta, kemarin.
Dalam paparannya, Sri Mul mengatakan, surplus APBN pada April 2023 ini berasal dari pendapatan negara yang terkumpul Rp 1.000,5 triliun. Jumlah ini tumbuh 17,3 persen secara tahunan dan telah mencapai 40,6 persen dari target APBN 2023.
Baca juga : Sri Mulyani: APBN Kita Surplus Rp 234,7 Triliun Per April 2023
Di sisi lain, kata dia, realisasi belanja negara hingga April 2023 mencapai Rp 765,8 triliun, atau mencapai 25,0 persen dari target belanja APBN. Realisasi belanja negara ini juga tumbuh 2 persen dari periode sama tahun lalu.
Menurut Sri Mul, dengan pendapatan atau penerimaan lebih besar dibanding belanja pemerintah, keseimbangan primer juga tercatat surplus Rp 374,3 triliun. “Jadi, dalam empat bulan pertama dari APBN kita, kita mengalami surplus baik di keseimbangan primer maupun total overall balance dari APBN kita,” katanya.
Sri Mul juga optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal II-2023 masih akan tetap kuat dan terjaga. Hal tersebut tercermin dari inflasi Indonesia yang cukup terkendali, bahkan lebih baik jika dibandingkan dengan negara lainnya, seperti Amerika Serikat dan Eropa.
Baca juga : BUMN Setor Dividen Rp 80 T Ke Negara, DPR Puji Erick
Melihat capaian selama Ramadan atau pada April 2023, Sri Mul mengatakan inflasi Indonesia sangat bisa dikendalikan dan menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Bahkan, volatile food atau harga bergejolak, seperti pangan, justru mengalami pertumbuhan inflasi yang lebih rendah, yaitu di 3,7 persen. Adapun, administered price mengalami penurunan dari 11,6 ke 10,3. Inflasi inti juga menurun ke level 2,8 persen.
Menanggapi capaian ekonomi Indonesia itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal menjelaskan, kinerja APBN sampai dengan bulan April memang surplus. Pertama, penerimaan negara naik tajam hingga mencapai 17,3 persen. Angka itu setara dengan 40 persen dari target yang dicanangkan Pemerintah sepanjang tahun 2023.
Meski penerimaan negara tumbuh tinggi hingga 17 persen, Faisal memberi catatan kritis. Pemerintah telat dalam hal belanja. Dengan demikian, sampai April 2023, banyak target belanja yang belum terealisasikan. “Karena baru 25 persen, padahal sudah bulan ke-4, gitu ya,” jelasnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya