Dark/Light Mode

Risalah Identitas Pembangunan IKN

Selasa, 25 Juni 2024 15:14 WIB
sumber foto  https://ekonomi.bisnis.com/r
sumber foto https://ekonomi.bisnis.com/r

Menyimak sub topik permasalahan pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) menyatakan, sejauh ini belum ada investor swasta terlibat secara konkrit dalam pembiayaan pembangunan IKN. Pada UU Nomor 3 tahun 2022 tentang IKN, jelas menyebutkan pendanaan IKN dijabarkan bersumber dari tiga pihak. 

Pertama APBN, kedua pemanfaatan dan atau pemindahtanganan barang milik Negara (BMN), serta investasi swasta. Meski masih pada tahap letter of intens (LOI) belum ada aksi investasi swasta yang bersumber dari BMN seperti dalam pemberitaan media masa. Walaupun berpusat pada pertimbangan pendanaan serta arti penting pembangunan yang disinyalir merupakan arsitektur berkarakter. Pertanyaan mendasarnya adalah, mengapa konsep beridentitas sebegitu penting?. Hal ini, lalu mengenangkan komentarnya Peter Hall, A city of parades and spectacles.

Di bawah terik lapangan Ikada, di hadapan sekelompok pemuda antusias, Bung Karno berpidato tentang mengapa Jakarta harus menjadi ibu kota Indonesia. "Harus Jakarta!," ujarnya. Bung Karno ingin Jakarta menjadi semacam The beacon of new emerging forces. Bung Karno pada dasarnya ingin harga diri bangsa Indonesia terangkat dan bangkit setelah hancur dalam era kolonialisme, sempat memimpikan Jakarta sebagai yang terbesar dan termegah.

"Lihatlah New York atau Moskwa," katanya. Meski, obsesi tersebut kemudian berlanjut, tanah Senayan digerus dan 5.000 keluarga dipindahkan untuk pembangunan komplek stadion olah raga terbesar. Ruas Jalan Thamrin dan Semanggi dihamparkan sebagai koridor bisnis. Masjid Istiqlal dibangun sebagai yang termegah, tugu Monas selayaknya tiang pancang monumental ditegakkan menjadi yang terdepan dan Jakarta dikedepankan sebagai ibu kota bahkan etalase identitas bagi Indonesia baru. 

Kota adalah artefak terbesar dari aspirasi budaya manusia. Struktur dan wajah kota pun dapat bercerita tentang kompleksitas persilangan identitas masyarakatnya. Yang mencolok sekaligus tak terasa adalah, bagaimana kapitalisme mendeformasi struktur dan wajah kota berdasarkan strata kelas sosialnya. 

Baca juga : Dian Sastro, Ogah Jadi Pajangan

Teori ini, biasanya sebangun dengan strata sistem produksi ekonomi kapitalis yang dianutnya. Akibatnya konsep social mixed income dan mixed density seperti di Bijlmermerr, Belanda 1992 jadi konsep yang terasa asing. Melipat ruang kota sebagai komoditas, gejala gated-community dan suburbanisasi adalah jejak lazim kapitalisme dalam wajah kota.

Sementara itu, cara-cara pemerintah memproduksi identitas kolektif melalui arsitektur, seperti Soekarno, juga terjadi di Mesir pada kepemimpinan Anwar Sadat. Dia terobsesi menampilkan identitas Kairo baru ke hadapan dunia. Dengan slogan, open door policy, Sadat menghancurkan  dan mengusir ribuan jiwa dari jantung Kota Kairo demi megaproyeknya atas nama modernisasi dan dolar turisme internasional.

Identitas kelompok berdasarkan ras dan etnis pun masih banyak ditemui dalam struktur kota yang seharusnya bersifat kosmopolitan. Penggambaran arsitektur modern seperti Chinatown adalah contoh identitas ras kuning yang hadir di banyak kota besar dunia. Litte India dan Arab Street di Singapura, Little Italy untuk imigran Italia di Manhattan adalah contoh segregasi kota berdasarkan ras. 

Lapisan identitas masyarakat berdasarkan gaya hidup  juga terekam seperti di Amerika ataupun Eropa. Kelompok dengan gaya hidup seniman (bohemian) bisa ditemukan di Distrik Soho di London, sementara Oxford Street di Sydney atau Distrik Castro di San Francisco. 

Jane Jacobs dan Dolores Hayden memotori gerakan moral mendefinisikan kota-kota Amerika yang cenderung berorientasi patriarkis. Jarangnya fasilitas penitipan anak, transportasi urban yang tak nyaman bagi kaum hawa dan desain urban yang tidak defensible menyebabkan banyak perempuan kesulitan beraktivitas produktif seperti halnya kaum lelaki. Mereka menganggap suburbanisasi berhasil membuang kaum perempuan duduk mengurusi rumah tangga semata. Gerakan ini sempat menghentikan program urban renewal. Lalu, masyarakat mempertanyakan kembali konsep suburbanisasi dan mengangkat pentingnya isu feminisme dalam meruahnya akar pembangunan kapitalisme kota AS.

Baca juga : Rupiah Lemah, Pengusaha Ketar-ketir

Konteks Indonesia, yang menghadapi muntahan berkembangnya kapitalisme sebab dalam iklim globalisasi dapat hadir, mengalir bahkan bebas hambatan. Kota seperti Yogya yang mempunyai budaya tanding, mengungkapkan banyak orang berimajinasi tentang kemungkinan model gaya hidup Yogya sebagai prototipe tandingan gaya hidup kapitalis yang glamour, "serakah", semakin global. Dan kesederhanaan gaya hidup Yogya, bukanlah indikasi kota ini tidak bergerak maju.

Pengembangan kawasan pendidikan dan pariwisatanya membawa kuantitas persoalan sebagai dampak tak langsung kehadiran puluhan ribu warga barunya. Bersama dengan perkembangan kawasan pendidikan dan pariwisata terus tumbuh. Namun, kampung-kampung tradisional tetap tampak kental dan bestari pada kawasan sekitar pusat kesibukan kotanya. Semua itu, kuncinya pada kesederhanaan yang menunjukkan suatu identitas budaya signifikan.

Identitas merupakan cara menjaga karakter dan sifat beda. Mulai dari gaya hidup, strata sosial, agama, usia, etnis, panji-panji kelompok, sampai orientasi seksual umumnya menjadi referensi penting sebagai eksistensi identitasnya. Untuk memahaminya, kita perlu cermin pembanding. Kehadiran mereka sebagai pembanding yang berbeda menjadi penting memahami siapakah adanya kita.

Max Weber (1921), merumuskan identitas masyarakat urban dunia dalam dikotomi Occidential vs Oriental. Baginya, identitas occidential eksis sebagai kebalikan dari yang menjadi ciri Oriental. Dan ketimbang memahami Timur sebagai gugusan sistem hidup yang saling melengkapi, Barat malah mengukuhkan identitasnya dengan melabeli Timur dengan segala keburukannya.

Lapisan karakter identitas yang hadir di kota haruslah dibaca sebagai keanekaragaman guna memperkaya budaya dan memperunik wajah kota, diistilahkan Eko Budihardjo (1997), sebagai Cultural Landscape dengan aneka ragam karakteristik, sifat, kekhasan, keunikan, kepribadian. Sebab, yang pertama harus dipahami adalah budaya dari berbagai kelompok masyarakat dan pengaruh dari tata nilai, norma, gaya hidup, kegiatan dan simbol yang mereka anut terhadap penataan dan bentuk pembangunan kota. Dalam setiap kota yang merupakan "melting pot" selalu terdapat pluralisme budaya, tidak dapat dihindari timbulnya benturan skala kota yang menciptakan kompleksitas dan kontradiksi.

Sebab, homogenitas yang kaku seragam dan heterogenitas yang kenyal beragam, merupakan bentuk yang gampang pemberiannya tapi sulit pengejawantahannya. Untuk mengatasi masalah tersebut, disarankan bentuk perencanaan yang open ended yang menentukan bagian-bagian tertentu dari sistem kota supaya memberikan peluang bagi bagian-bagian lain termasuk yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya, untuk bergerak secara spontan. 

Baca juga : Pembangunan Wilayah Papua Menjadi Prioritas

Perencanaan open ended yang luwes dan kenyal ini memungkinkan penjabaran nilai, kebutuhan dan gaya hidup yang berbeda-beda dalam suatu lingkungan yang dinamik. Kelompok-kelompok penghuni kota yang berdatangan bisa dengan mudah menyesuaikan diri bahkan membentuk kembali secara kreatif ruang, waktu, makna dan komunikasi.

Berbeda bukan berarti ancaman. Berbeda adalah pluralitas keunikan. Kita bisa hidup lebih baik dengan mengencangkan toleransi identitas dan menggunakan kota sebagai laboratoriumnya. Jangan terjebak pengkotakan identitas berlebihan. Para perencana yang menganut paham bahwa segala sesuatu harus direncana, dikontrol dan dipantau secara tegar pasti akan menentang pola tersebut. 

Anggapan pada ekspansi individual atau kelompok, jika dibiarkan akan menciptakan kekacauan, ketidakteraturan, berantakan. Padahal dalam realitasnya kehidupan, perencana dan pelaksana yang down to the last detail tak hanya mungkin, bahkan juga tidak diinginkan. Sebab, banyak hal-hal yang muncul di luar dugaan secara tiba-tiba. Kejadian dan perubahan, ekspresi bahkan improvisasi adalah faktor yang justru memanusiawikan lingkungan, layak dikembangkan dan diberikan wadah. (*)

 


noufal riri hananta
noufal riri hananta
Arsitek Profesional, Penulis dan Pemerhati Sosial-Politik-Budaya

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.