Dark/Light Mode

Diplomasi Gastronomi Indonesia, Program ISUTW Hingga Gala Dinner KTT ASEAN

Selasa, 12 Maret 2024 20:48 WIB
Indonesian Gastronomy Community (IGC) menyelenggarakan Gastronomy Talks di Unika Atma Jaya, Jakarta, Sabtu (9/3/2024).
Indonesian Gastronomy Community (IGC) menyelenggarakan Gastronomy Talks di Unika Atma Jaya, Jakarta, Sabtu (9/3/2024).

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesian Gastronomy Community (IGC) menyelenggarakan Gastronomy Talks di Unika Atma Jaya, Jakarta, Sabtu (9/3/2024).

Acara ini mengundang para narasumber dari Pemerintah, akademisi dan praktisi yang terdiri. Hadir Odo Manuhutu Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dari Kemenko Maritim dan Investasi (diwakili Liz Zeny Merry, Plt. Asisten Deputi Pengembangan Ekonomi Kreatif/Analis Kebijakan Ahli Madya).

Ada pula Ani Nigeriawati, Direktur Komunikasi Publik dari Kementerian Luar Negeri; Teuku Rezasyah, Ph.D Dosen Senior dari Universitas Padjajaran, dan Chef Ivan Mangundap. 

Agenda ini membahas Strategi Diplomasi Gastronomi Indonesia sejak munculnya program Indonesia Spice Up the World hingga pelaksanaan Gala Dinner KTT ASEAN dan G20.

Semenjak diluncurkannya Narasi Tunggal Indonesia Spice Up the World (ISUTW) di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi pada tahun 2022, kini Indonesia memiliki gagasan yang serupa dalam mempromosikan makanan, minuman, rempah-rempah dan produk-produk kemasan siap konsumsi ke luar negeri.

Baca juga : Ini 4 Masjid Ikonik di Indonesia Yang Dibangun Waskita Karya

Ria Musiawan, Ketua Umum IGC menyampaikan, salah satu upaya dalam mempersatukan sebuah ide yang diformulasikan dalam bentuk kebijakan sebagai pedoman untuk berinteraksi adalah melalui jalur diplomasi, yaitu gastrodiplomasi dengan mempromosikan produk makanan dan minuman Indonesia.

"Peran IGC dalam melestarikan dan menyebarkan informasi, tidak hanya di dalam negeri, namun juga manca negara terutama dalam mendukung Pemerintah," tegasnya.

Gastronomy Talks ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang signifikansi mempromosikan gastrodiplomasi Indonesia di panggung dunia, serta, memberikan edukasi pada publik maupun peserta seminar tentang arah kebijakan, strategi dan implementasinya.

Selain itu, kegiatan ini juga memiliki objektif untuk melestarikan makanan dan minuman beserta budayanya sebagai pembentuk citra identitas bangsa sekaligus sebagai katalisator perekat persatuan Indonesia.

Odo Manuhutu, melalui Liz Zeny Merry, berpendapat, sebagai program diplomasi gastronomi, Indonesia Spice Up the World (IUSTW) mengutamakan pada tiga pendekatan utama.

Baca juga : Monash University Indonesia Buka Program Magister Untuk Penerima Beasiswa LPDP

Pertama, pengembangan restoran existing melalui perluasan pasar dan lisensi, dan pengembangan konseptual restoran sebagai contoh restoran di luar negeri.

Kedua, pengembangan Produk Ready to Eat (sate, rendang, soto, gado-gado,dan nasi goreng) dan peningkatan produk premium/ bumbu lainnya untuk di-showcase di resto/retail melalui proses kurasi.

Dan ketiga, pengembangan manajemen rantai pasok dengan embangun jejaring produsen - trader - buyer oleh IAS (Integrasi Aviasi Solusi)- BUMN bersama komunitas/ GAPMMI; dan penguatan logistik, distribusi, stockist, pemasaran, dam R&D.

Sedangkan Ani Nigeriawati menyampaikan, penyelenggaraan Gala Dinner dalam KTT ASEAN dan G20 dalam menyokong kepentingan nasional Indonesia. Soft diplomacy yang terjadi saat perundingan dapat meringankan suasana tegang, dan mencair karena makanan.

"Selain itu, tren lifestyle luar negeri dan peningkatan demand yang mengarah pada keunggulan karakter kuliner Indonesia," lanjut Nigeriawati.

Baca juga : Promotor Siapkan Nasi Goreng Dan Gado-gado Untuk Jonas Brothers

Di lain pihak, berdasarkan pengalaman mengamati kegiatan gastrodiplomasi, Teuku Rezasyah berpendapat, strategi Gastro Diplomacy Indonesia harus menentukan indikator yang tepat untuk fokus pada upaya menarik konsumen.

Selain itu, perlu memasukkan nilai-nilai tertentu seperti besar, beragam, demokratis, persatuan, moderat, bersahabat, higienis, sehat, bergizi, musikal, halal, dan dapat disesuaikan dengan khalayak sasaran.

Bahkan Chef Ivan Mangundap juga melihat bahwa tantangan saat ini adalah membuat makanan Indonesia disukai oleh berbeda selera.

"Sebagai contoh, adalah melihat situasi dan menerapkan yang tepat, misalnya asal-usul negara," tandasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.