Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia adalah bangsa besar yang penuh dengan keberagaman. Di Indonesia, perbedaan merupakan keniscayaan dan perekat persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena itu, tidak boleh ada sedikit pun celah intoleransi hidup di Indonesia.
“Pada dasarnya, dalam Islam, semua orang itu cinta pada perdamaian karena manusia itu diciptakan dengan fitrah yang penuh cinta oleh Tuhan. Karena itu, yang dibutuhkan adalah paparan melalui dalil-dali berbasis nilai-nilai ke-Islaman bahwa Islam berpihak secara penuh kepada nilai-nilai toleransi yang disebut dengan tasamuh,” kata pendakwah dan kreator konten milenial Habib Husein Ja’far Al Hadar, saat menjadi narasumber kegiatan Sekolah Damai dengan tema “Pelajar Cerdas Cinta Damai” di Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (16/5/2024) malam.
Habib Ja’far melanjutkan, tasamuh dalam bahasa dan istilah Arab yang berbasis pada nilai utama Islam disebut sebagai rahmatan lil alamain. Karena itu, ia mengajak anak muda, khususnya para santri dan santriwanti, untuk melekatkan nilai dan mengisi ruang-ruang dakwah dengan nilai-nilai Islam yang penuh dengan toleransi.
Baca juga : SNI Rumah Modular Berbasis Baja Ringan Jadikan Hunian Ramah Lingkungan
“Jangan biarkan klaim-klaim Islam sebagai agama yang sarat dengan nilai-nilai intoleransi digaungkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Santri itu telah menjadi punggung bagi toleransi di Indonesia,” ungkap Habib Ja’far.
Untuk para santri, kata Habib Ja’far, bila sudah purna dari pesantren, mereka wajib menjaga agama dan ilmu agama serta amal dan akhlak, yang salah satu pondasinya adalah toleransi. Ketika mereka terjun ke masyarakat, para santri harus mendakwahkan Islam rahmatan lil alamin pada sekitarnya, bukan malah menyebarkan kebencian dan intoleransi kepada umat beragama lain.
Santri juga bisa memimpin majelis taklim di masjid agar Islam dijaga oleh ahlinya. Pasalnya, bila Islam diserahkan kepada yang bukan ahlinya, kehancuran di depan mata oleh propaganda yang dilakukan pihak yang tidak pernah belajar agama.
Baca juga : Presiden Ambil Sumpah 7 Jabatan Anggota LPSK Di Istana
Dia melanjutkan, santri pasti telah belajar agama dan tahu bahwa toleransi adalah satu keharusan. Sebab, perbedaan adalah keniscayaah Tuhan yang tercantum dalam Al-Qur'an.
“Intinya, toleransi adalah ajaran Islam terhadap perbedaan. Perpecahan adalah musuh Islam yang harus dilawan. Jadi, musuh kita bukan peradaban yang berbeda, tapi orang-orang yang tidak siap menerima perbedaan,” tuturnya.
Menurutnya, pelaku intoleransi akan menyebabkan kekacauan yang merusak kedamaian.
Baca juga : Ini PR Pelatih Asal Jepang Tangani Timnas Wanita Indonesia
“Ciri orang Islam menurut Nabi Muhammad bukan hanya salat, puasa, zakat, haji, tapi bisa memberikan rasa damai bagai siapa saja. Maka, orang tidak toleran bukan Muslim. Muslim itu yang tasamuh, memberikan rasa damai dan toleransi bagi orang sekitar,” jelasnya.
Habib Ja’far juga menuturkan empat unsur Islam toleran. Pertama, Islam yang tidak takfiri, tidak mudah mengkafirkan orang lain. Kedua, tidak menjadikan kekerasan sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah. Ketiga, tidak anti nilai-nilai kebangsan. Kempat, tidak anti nilai budaya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya