Dark/Light Mode

Gus Yahya Minta Aceh Siap Hadapi Gelombang Ekonomi Dahsyat Dari Samudra Hindia

Senin, 1 Juli 2024 12:11 WIB
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat silaturahmi dengan Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) di Banda Aceh, Minggu (30/7). Foto: LTN PBNU
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat silaturahmi dengan Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) di Banda Aceh, Minggu (30/7). Foto: LTN PBNU

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), punya pesan penting buat Aceh agar bersiap menjadi pusat ekonomi Indonesia. Bukan cuma Serambi Mekah, tapi juga menjadi Serambinya Indonesia. 

Kenapa? Gus Yahya bilang, ekonomi mulai bergeser dan akan segera dikuasai oleh negara-negara yang berada di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Dan Aceh berada di garis terdepan salah satu samudra tersebut.

"Kita lihat frekuensi ekonomi segera meningkat, mulai Afrika, Timur Tengah, Indonesia dan sebagainya masuknya melalui Samudra Pasifik dan Hindia," kata Gus Yahya saat silaturahmi dengan Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) di Banda Aceh, Minggu (30/7).

Baca juga : Kehadiran BSI Diharapkan Jadi Lokomotif Ekonomi Syariah Nasional

Gus Yahya lantas bercerita ketika pada tahun 2016 dirinya menjadi satu-satunya tokoh ormas yang diundang menjadi bagian dari komite Indo Pasifik di Inggris.

Pada saat itu, dinamika strategis Samudra Hindia dan Pasifik termasuk lalu lintas ekonomi mulai dibicarakan dengan serius oleh para diplomat senior yang ada di komite itu.

“Samudra Pasifik, ada persentuhan Filipina, Papua dan sebagainya. Tapi Samudra Hindia, kita tahu yang ada di garis paling depan adalah Aceh,” lanjutnya.

Baca juga : Jokowi: Jangan Main-Main Dengan Gelombang Panas, Larinya Bisa Ke Inflasi

Ia juga bisik-bisik ke Pj Gubernur Aceh soal ini. Gus Yahya meminta agar mengupayakan Aceh untuk bisa menjadi benteng sekaligus pintu utama ekonomi Indonesia, seperti mimpi Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) yang ngotot membangun pelabuhan terbuka di Sabang.

"Aceh memerlukan konsolidasi nasional Indonesia. Sehingga bisa memobilisasikan sumber daya secara fokus untuk Aceh. Juga sebagai Pertahanan misalnya. Juga sebagai fasilitas ekonomi," tuturnya.

Tapi, Aceh harus siap. Jangan sampai ketinggalan seperti Saudi dulu yang terlalu tertutup. "Tapi belakangan mereka sadar warganya akan kalah di tengah gelombang internasional. Sekarang mereka tergopoh-gopoh," imbuh Ketum PBNU ini.

Baca juga : Pengusaha Minta Aturan Impor Diperketat Lagi, Ini Alasannya

Karenanya, Aceh harus segera mengantisipasi. Gus Yahya bilang, gelombang ekonomi yang datang bisa lebih dahsyat dari tsunami.

"Aceh hanya bisa bertahan dan membangun keunggulannya ketika Aceh sungguh bisa berfungsi sebagai serambi Indonesia," pungkas Gus Yahya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.