Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sentil Kunjungan 5 Aktivis NU Ke Israel, Gus Nadir: Mudharatnya Lebih Banyak
Senin, 15 Juli 2024 15:49 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) Nadirsyah Hosen atau akrab disapa Gus Nadir, memberikan tanggapan mengenai kunjungan 5 aktivis muda NU ke Presiden Israel. Foto kunjungan 5 aktivis NU itu beredar luas di jagat maya dan menuai banyak respons.
Dalam keterangan yang disampaikan di akun Instagram miliknya, Gus Nadir mengaku mengenal beberapa nama yang berangkat menemui Presiden Israel itu. Bahkan, ia mengaku sudah melakukan klarifikasi dengan salah satunya via aplikasi instan WhatsApp. Dari hasil klarifikasi itu diketahui bahwa undangan ke Israel itu diatur lewat jaringan alumni Harvard, dan berkenaan dengan akademik dan start up. Dan ini diklaim sebagai kunjungan pribadi, bukan atas nama NU. Hanya saja, Gus Nadir meragukan klaim tersebut.
Baca juga : PBNU Sesalkan 5 Aktivis NU Temui Presiden Israel
"Kalau mereka cuma aktivis dan cendekiawan saja saya yakin mereka gak akan masuk radar untuk diundang ketemu Presiden. Justru karena ada embel-embel NU-nya makanya mereka diundang. Jadi gak bisa ngeles dengan mengatakan ini atas nama pribadi. Mohon maaf atas keterusterangan saya ini: tanpa NU mereka bukan siapa-siapa dan gak bakal masuk radar Israel," tulis Gus Nadir, di akun Instagram miliknya, @nadirsyahhosen_official, Senin (15/7/2024).
Gus Nadir menambahkan, NU itu bertindak bukan hanya atas pilar tasamuh (toleransi) dan tawasuth (moderasi), tapi juga tawazun dan i'tidal. Tawazun artinya seimbang. Itu sebabnya mereka saat mendapat undangan harus menimbang banyak hal terlebih dahulu, termasuk geo politik dan konflik yang terjadi saat ini.
Baca juga : Jaga Produktivitas Kerja, Kadin Usul Evaluasi Cuti Bersama
"I'tidal artinya tegak lurus pada aturan main, keadilan dan kebenaran. Kita tahu bagaimana Mahkamah Internasional sudah bersikap. Begitu juga kebijakan pemerintah Rl soal ini. Jadi yang dilakukan kelima orang itu jauh dari prinsip NU: tawazun dan i'tidal," ujarnya.
Lagi pula, lanjut dia, Presiden Israel itu hanya simbol seremonial belaka. Tidak menjalankan roda pemerintahan sehari-hari. Jadi alasan mau berdiskusi soal konflik dengan dia itu menunjukkan ketidakpahaman soal struktur pemerintahan Israel. Lagipula seruan damai Sekjen PBB dan Paus Fransiskus saja dicuekin.
Baca juga : Fitur Unggulan Wuling Alvez Bisa Bikin Mudik Lebaran Lebih Nyaman
"Mereka ini siapa kok merasa bisa mempengaruhi kebijakan Netanyahu. Banyakin ngaca mas-mbak," sindirnya.
Menurut dia, program kunjungan seperti ini sudah lama berjalan bertahun-tahun dan selalu memicu kontroversi. Karena itu, ia menyarankan mereka yang merasa tokoh/aktivis/ulama sebaiknya menolak undangan semacam ini selama konflik belum usai. "Yang untung cuma Israel dengan kunjungan dari NU. Mudaratnya lebih banyak," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya