Dark/Light Mode

Bentuk PT BUMN Garap Tambang 26 Ribu Hektar Di Kaltim, Ketum PBNU Tidak Mau Rugi

Selasa, 7 Januari 2025 12:24 WIB
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Foto: TVNU
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Foto: TVNU

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi membentuk korporasi atau badan usaha untuk mengelola Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (WIUPK) yang diberikan Pemerintah kepada organisasi keagamaan. PBNU menamakan badan usahanya PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara (BUMN). 

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan, PT BUMN akan menggarap konsesi tambang di Kalimantan Timur dengan luas lahan hingga 26 ribu hektar. 

Baca juga : Menteri Bahlil Tambah Kuota Minyak Tanah Untuk Maluku

"Sesuai dengan yang disyaratkan Peraturan Presiden (Perpres) itu, kami sudah membentuk satu badan usaha yang dimiliki oleh koperasi. Koperasi itu adalah koperasi milik PBNU bersama dengan pengurus dan warga. Namanya BUMN," kata Gus Yahya dalam konferensi persnya, Senin (6/1/2025).

Meski WIUPK telah terbit, tambah Gus Yahya, pihaknya masih perlu menyiapkan berbagai rangkaian persyaratan untuk memulai kegiatan eksplorasi. Terlebih, untuk menjalankan aktivitas pertambangan membutuhkan investasi yang besar. 

Baca juga : Info BMKG Cuaca Tangerang Hari Ini, Selasa (16/7) Tidak Hujan, Awas Panas Terik

"Sekarang izin untuk eksplorasi itu saja masih baru diproses. Kita belum bisa, sebelum ada izin untuk eksplorasi. Ini masih dalam prosesnya lah," ungkap Gus Yahya. 

Selain itu, Gus Yahya juga belum dapat menggambarkan desain rencana pengembangan hilirisasi batu bara usai mendapatkan izin tambang. Akan tetapi, ia menekankan bahwa kegiatan ini jangan sampai membuat NU merugi.

Baca juga : Dapat Privilege Kelola Tambang Batu Bara, Muhammadiyah Tak Mau Tergesa-gesa

"Karena belum sungguh sungguh mulai. Tentu saja itu nanti tergantung bagaimana kalkulasi mengenai investasi bisnis yang bisa dijalankan. Jangan sampai lah kita bisnis selalu seolah-olah dapat konsesi lalu NU rugi kan ya jangan sampai. Tentu saja harus tetap ada keuntungan dan pengembangannya bagaimana," tuturnya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.