Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- IHSG Merah Di Awal Perdagangan, Turun Ke 5.984
- Kakorlantas Ungkap Tantangan Baru Lalu Lintas di Era Teknologi & Bonus Demografi
- Yulisman: Ekspor Listrik Hijau Harus Maksimalkan Nilai Tambah untuk RI
- Riset Doktor Ilmu Komunikasi: Algoritma Medsos Turut Tentukan Narasi IKN
- Persija Resmi Rekrut Pratama Arhan
RM.id Rakyat Merdeka - Founder Restorasi Jiwa Indonesia (RJI) Syam Basrijal menilai Generasi Zoomer (Gen Z) sebagai generasi yang tumbuh dengan karakter unik akibat kedekatan mereka dengan layar digital dan media sosial.
"Generasi Z adalah generasi pertama yang benar-benar tumbuh bersama layar. Sejak kecil, mereka disambut oleh notifikasi, video pendek, dan dunia tanpa batas yang bernama internet," kata Syam Basrijal kepada wartawan, Minggu (7/12/2025).
Syam menyebut Gen Z sebagai generasi yang hidup di dua dimensi: dunia nyata dengan berbagai tuntutan, dan dunia digital yang penuh perbandingan. Karena berada di dua ruang sekaligus, mental mereka menjadi lebih mudah goyah dan rentan.
Baca juga : Pengamat: Penanganan Banjir Sumatera Butuh Akses-Alat Berat, Bukan Administrasi
Arus informasi yang terus datang membuat ruang batin mereka sering terdistraksi, sehingga kesehatan mental kerap menjadi korban tersembunyi. Media sosial turut memperparah keadaan.
Validitas diri Gen Z sering ditentukan oleh jumlah like, komentar, dan atensi yang mereka terima. Setiap interaksi digital terasa sebagai apresiasi emosional. Sebaliknya, penurunan interaksi tersebut menimbulkan rasa tidak cukup dan keraguan terhadap diri sendiri.
Inilah yang Syam sebut sebagai paradoks Gen Z, media sosial membuka ruang ekspresi, namun sekaligus memperbesar ruang perbandingan. Di balik konten ceria, banyak anak muda memikul kecemasan dan tekanan untuk terus terlihat baik.
Baca juga : Sasar Gen Z, Rider Gandeng Darbotz Luncurkan Produk Artistik
Fenomena ini dimanfaatkan oleh platform digital yang mengoperasikan algoritma untuk mengatur konten yang muncul. Hal tersebut membentuk persepsi, emosi, dan kebiasaan Gen Z, hingga memunculkan FOMO (fear of missing out).
Mereka merasa harus terus mengikuti tren dan informasi terbaru. Menurut Syam, algoritma ini tidak netral karena mempengaruhi cara Gen Z melihat dunia. "Di tengah dua dunia itu, kesehatan mental mereka sering kali menjadi korban yang paling diam," ujarnya.
Dari kondisi tersebut, Syam menarik benang merah bahwa Gen Z tumbuh dengan pola pikir yang kompleks dan realistis. Pandangan dan keputusan mereka dipengaruhi derasnya informasi yang mereka konsumsi setiap hari.
Baca juga : Enea Bastianini Belum Nyetel Dengan Motor Anyar
Untuk menyikapi Gen Z, Syam menawarkan empat poin: pertama, Gen Z ingin didengarkan tanpa dihakimi; kedua, mereka harus dibimbing untuk memahami batas sehat dalam berinteraksi dengan dunia digital; ketiga, perlu ada ruang aman bagi mereka yang sedang mengalami keterpurukan mental; dan keempat, keluarga harus aktif berkomunikasi dan membangun hubungan yang sehat di rumah maupun lingkungan sosial.
Bagi Syam, Gen Z bukan masalah, melainkan cermin perubahan dunia. Mereka membawa luka, tetapi juga potensi besar untuk menjadi generasi paling sadar dan reflektif. Dengan pendampingan tepat, mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang berani menghadapi keterbatasan sambil tetap maju.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya