Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- IHSG Merah Di Awal Perdagangan, Turun Ke 5.984
- Kakorlantas Ungkap Tantangan Baru Lalu Lintas di Era Teknologi & Bonus Demografi
- Yulisman: Ekspor Listrik Hijau Harus Maksimalkan Nilai Tambah untuk RI
- Riset Doktor Ilmu Komunikasi: Algoritma Medsos Turut Tentukan Narasi IKN
- Persija Resmi Rekrut Pratama Arhan
Sebelumnya
Pola Pikir Gen Z
Syam menjelaskan bahwa Gen Z sangat peduli pada keadilan, keberagaman, dan kesetaraan. Mereka vokal mengenai isu gender, diskriminasi, toleransi antaragama, dan masalah lingkungan. Kedekatan mereka dengan informasi membuat mereka lebih sensitif dan responsif terhadap isu sosial.
Dari sudut pandang generasi sebelumnya, perilaku Gen Z mungkin dianggap membangkang. Mereka kerap mempertanyakan instruksi, menyampaikan kritik, atau menolak perintah tanpa penjelasan. Bagi sebagian orang tua atau pemimpin, perilaku ini terlihat seperti ketidaksopanan.
Namun menurut Syam, Gen Z hanya ingin dianggap sebagai manusia yang punya nalar dan suara. Mereka butuh dialog, bukan sekadar komando.
"Bagi sebagian orang tua atau pemimpin, ini terasa seperti pembangkangan. Padahal sering kali, mereka hanya ingin diperlakukan sebagai manusia yang punya nalar dan suara. Mereka ingin diajak berdialog, bukan sekadar diperintahkan," tutur Syam Basrijal.
Baca juga : Pengamat: Penanganan Banjir Sumatera Butuh Akses-Alat Berat, Bukan Administrasi
Di sisi spiritualitas, Gen Z sering dianggap jauh dari agama. Padahal yang mereka hindari adalah pendekatan keagamaan yang kaku dan keras. Mereka mencari referensi spiritual dari internet, mengikuti figur agama di media sosial, dan belajar melalui konten singkat yang menyentuh hati. Fenomena ini disebut Syam sebagai “spiritualitas instan”.
Meski demikian, mereka tetap membutuhkan pendamping yang mau mendengar tanpa menghakimi dan tidak mudah memberi label negatif seperti kafir atau kurang beriman.
"Mereka butuh pendamping yang mau mendengarkan tanpa men-cap, menjawab dengan hati, dan mengaki bahwa ada misteri yang tidak selalu harus dijawab tapi bisa dihidupi," ucap Syam Basrijal.
Cara Pandang terhadap Pekerjaan dan Kepemimpinan
Dalam dunia kerja, Gen Z memandang pekerjaan bukan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai ruang pengembangan diri. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, mereka mencari pekerjaan yang bermakna, memberi kesempatan tumbuh, dan berada dalam lingkungan yang sehat.
Baca juga : Sasar Gen Z, Rider Gandeng Darbotz Luncurkan Produk Artistik
Mereka menolak budaya lembur tanpa arah dan tidak betah dalam lingkungan kerja toksik. Gen Z lebih memilih pindah pekerjaan atau membangun usaha sendiri daripada terjebak dalam sistem yang merusak mental mereka.
"Mereka tetap ingin gaji yang layak, itu jelas. Tetapi setelah kebutuhan dasar terpenuhi, mereka akan menoleh kepada pertanyaan lain ; apakah pekerjaan ini membuatku berkembang, apakah lingkungan kerjaku sehat, dan apakah yang aku lakukan berdampak nyata?" tandasnya.
Syam menegaskan bahwa sikap ini bukan bentuk kemanjaan, melainkan usaha menjaga keseimbangan hidup dan kesehatan mental. Karena itu, Gen Z cenderung mencari pemimpin yang bersikap sebagai mentor, tegas, jelas, tetapi terbuka pada dialog.
Mereka menghargai pemimpin yang mau mendengar gagasan, memberi ruang diskusi, dan mampu memberi teladan nyata, bukan sekadar jabatan atau wewenang. Bahkan dalam hal karier, banyak Gen Z memilih jalur non-monoton seperti berwirausaha.
Mereka tidak tertarik pada pola kerja tradisional yang menuntut bertahan puluhan tahun demi pensiun. Mereka ingin tantangan, fleksibilitas, dan kebebasan memilih jalan hidup.
Baca juga : Enea Bastianini Belum Nyetel Dengan Motor Anyar
Syam menekankan bahwa Gen Z bukan sekadar generasi yang kecanduan gadget. Mereka adalah calon pemimpin, pembuat kebijakan, pendidik, dan orang tua masa depan. Mereka harus membaca dan memahami dunia yang jauh lebih kompleks daripada generasi sebelumnya.
Dengan regulasi yang jelas dan pendampingan yang baik, Gen Z dapat menjadi generasi yang membawa Indonesia ke arah yang lebih sehat dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
"Generasi Z bukan sekadar anak-anak yang kecanduan gawai. Mereka adalah calon pemimpin, pengusaha, pembuat kebijakan, pendidik, dan orang tua di masa depan. Mereka sedang belajar membaca dunia yang jauh lebih rumit daripada dunia yang kita hadapi di usia mereka dulu," pungkas Syam Basrijal.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya