Dark/Light Mode

Wabah Nipah Merebak Di India, 8 Fakta Penting Yang Perlu Diketahui

Rabu, 28 Januari 2026 09:01 WIB
Penularan virus nipah dapat dicegah dengan rajin mencuci tangan dengan air dan sabun. (Foto: Pexels)
Penularan virus nipah dapat dicegah dengan rajin mencuci tangan dengan air dan sabun. (Foto: Pexels)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wabah Nipah (NiV) kembali menjadi perhatian dunia, setelah kasus akibat virus tersebut mewabah di wilayah Benggala Barat, India pada 26 Januari 2026. Dalam pernyataan resmi pada 27 Januari 2026, Kementerian Kesehatan India melaporkan, saat ini terdapat dua kasus konfirmasi positif Nipah di Negeri Bollywood. Kedua pasien yang merupakan tenaga medis, dilaporkan kritis dan sedang menjalani perawatan intensif. Penelusuran dan pemeriksaan juga telah dilakukan terhadap 196 kontak erat, dan hasilnya negatif. 

Beberapa negara Asia seperti Thailand, Nepal, Sri Lanka, Taiwan, dan Indonesia kini telah mengaktifkan protokol kesehatan di bandara dan titik masuk internasional bagi pelancong yang berasal dari Benggala Barat India.

Berikut delapan hal yang perlu Anda tahu tentang virus Nipah, dirangkum dari berbagai sumber:

1. Virus Nipah Dibawa Oleh Kelelawar

Virus Nipah yang pertama kali ditemukan pada tahun 1999, dibawa oleh kelelawar pemakan buah (genus Pteropus) yang juga dikenal sebagai kelelawar kalong (flying foxes).

2. Belum Ditemukan di Indonesia

Saat ini, belum ditemukan kasus virus Nipah di Indonesia. Wabah Nipah sejauh ini hanya dilaporkan di Bangladesh, India, Malaysia, Filipina, dan Singapura.

Baca juga : Kandaskan Maroko Di Final Piala Afrika, Senegal Juara Dengan Kekacauan

Namun, kelelawar pemakan buah yang membawa virus Nipah ditemukan di seluruh wilayah Asia, Pasifik Selatan, dan Australia. 

3. Gejala Virus Nipah 

Penyakit yang rata-rata memiliki durasi 3-14 hari, memiliki gejala ringan dan sedang berupa demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, dan kesulitan bernapas.

Pada tahap lanjut, pasien akan mengalami kebingungan, mengantuk, dan kejang. Keluhan tersebut terkait dengan ensefalitis. Penderita dengan gejala tersebut dapat koma hingga meninggal dunia dalam waktu 24-48 jam.

4. Penularan Virus Nipah

Seseorang dapat terinfeksi virus Nipah melalui tiga cara berikut:

  • Kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti kelelawar atau babi.
  • Konsumsi makanan atau minuman seperti buah atau kurma mentah, yang telah terkontaminasi hewan yang terinfeksi.
  • Kontak dekat dengan cairan tubuh dari orang yang terinfeksi.

Penularan awal dari hewan ke manusia ini dikenal sebagai spillover event. Setelah seseorang terinfeksi virus Nipah, virus tersebut dapat menyebar dari orang ke orang.

5. Angka Kematian

Baca juga : 9 Sinyal Kuat Ekonomi Indonesia, Modal Penting Pemerintahan Prabowo di 2026

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan virus Nipah sebagai salah satu dari 10 patogen prioritas yang berpotensi memicu pandemi,  karena memiliki tingkat kematian tinggi, berkisar antara 40-75 persen.

6. Belum Ada Vaksin

Sampai saat ini, belum ada vaksin resmi yang disetujui untuk mencegah infeksi virus Nipah pada manusia. Beberapa kandidat vaksin yang sedang dalam tahap pengembangan intensif adalah sebagai berikut:

Uji Klinis pada Manusia

  • Vaksin mRNA (Moderna): Kandidat vaksin bernama mRNA-1215 kini sedang dikembangkan bersama National Institutes of Health (NIH). Uji klinis Fase 1 telah dimulai untuk menguji keamanan dan respon imun pada manusia.
  • Vaksin Oxford (ChAdOx1): Peneliti dari Universitas Oxford (yang mengembangkan vaksin AstraZeneca) juga sedang melakukan uji klinis Fase 1 untuk vaksin Nipah berbasis vektor virus bernama ChAdOx1 NiV.

Vaksin untuk Hewan

Sudah ada vaksin yang tersedia untuk mencegah penularan pada kuda di Australia (melawan virus Hendra, yang satu keluarga dengan Nipah). Para ahli berharap, teknologi ini bisa diadaptasi untuk manusia atau babi, demi memutus rantai penularan ke manusia.

Baca juga : Terkait Upah Minimum, KSPI Minta DPR Panggil Gubernur Dedi Mulyadi

Vaksin Nipah terhitung sulit dibuat, karena wabah Nipah bersifat sporadis (muncul tiba-tiba dan hilang), sehingga sulit bagi peneliti untuk melakukan uji klinis skala besar di lapangan. Selain itu, penelitian virus Nipah juga harus dilakukan di laboratorium dengan tingkat keamanan tertinggi (Biosafety Level 4), mengingat angka kematiannya yang tinggi.

7. Pengobatan Virus Nipah

Saat ini, belum ada pengobatan yang terbukti benar-benar bermanfaat untuk infeksi virus Nipah. Penanganan saat ini terbatas pada perawatan suportif, termasuk istirahat, pemberian cairan, serta penanganan gejala yang muncul.

8. Pencegahan Virus Nipah

Infeksi virus Nipah dapat dicegah dengan menghindari kontak dengan hewan yang berisiko terinfeksi, menggunakan alat pelindung diri (APD) saat kontak dengan hewan, cuci bersih sayur dan buah, masak daging hingga matang, serta rajin cuci tangan dengan air bersih dan sabun.

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.