Dark/Light Mode

Selat Hormuz & Laut Merah Diblokade AS & Iran

Stok BBM Aman, Rakyat Diminta Tidak Resah

Minggu, 19 Juli 2026 07:50 WIB
Pengendara sepeda motor mengantre untuk mengisi bahan bakar minyak (bbm) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Fatmawati, Jakarta Selatan. (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Pengendara sepeda motor mengantre untuk mengisi bahan bakar minyak (bbm) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Fatmawati, Jakarta Selatan. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Blokade Selat Hormuz dan Laut Merah akibat memanasnya perang Amerika Serikat (AS) dan Iran mengguncang pasar energi dunia. Selain harganya melonjak, minyak terancam langka karena jalur distribusi tersendat. Di tengah kondisi global yang mengkhawatirkan tersebut, pemerintah meminta rakyat tidak resah, karena stok BBM di dalam negeri aman.

Eskalasi militer antara AS dan Iran terus meningkat. Selain mengancam kesepakatan damai kedua negara, konflik juga berdampak pada jalur perdagangan energi dunia setelah Selat Hormuz dan Laut Merah terganggu.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah melancarkan serangan udara selama enam jam tanpa henti ke sejumlah wilayah strategis Iran. Operasi itu menyasar pusat komando militer, sistem pertahanan udara, hingga fasilitas pengawasan pantai di Bandar Abbas dan Pulau Tunb Besar guna melemahkan kemampuan Iran menguasai Selat Hormuz. 

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menembakkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain, dengan sasaran fasilitas komunikasi serta logistik militer. 

Ketegangan memuncak setelah Iran menutup total Selat Hormuz sebagai respons atas blokade pelabuhan yang kembali diberlakukan Washington. Penutupan jalur vital tersebut membuat lalu lintas kapal tanker terganggu dan mendorong lonjakan harga minyak dunia. Situasi semakin panas ketika militer AS menembak sebuah kapal tanker kosong berbendera Curacao yang dituduh berusaha menerobos blokade menuju pelabuhan Iran. 

Negosiator senior Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan, negaranya tidak memiliki alasan mematuhi kesepakatan yang dianggap merugikan kepentingan nasional. 

Baca juga : Prabowo: Ekonomi Kita Bagus

IRGC bahkan mengancam menutup jalur ekspor minyak dan gas lain yang melayani kepentingan AS beserta sekutunya. Tiga sumber Reuters menyebut Teheran juga meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur pelayaran Laut Merah jika AS menyerang infrastruktur kelistrikan Iran. 

Ancaman itu memperbesar risiko gangguan pasokan energi global. Karena selain Hormuz, Laut Merah menjadi jalur utama pengiriman minyak menuju Eropa melalui Terusan Suez. 

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 1,05 dolar AS menjadi 85,28 dolar AS per barel pada perdagangan Jumat (17/7/2026). Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,03 dolar AS menjadi 79,98 dolar AS per barel. Dalam sepekan terakhir, kedua kontrak acuan tersebut telah melonjak hampir 12 persen. 

Di tengah situasi tersebut, pemerintah memastikan stok BBM nasional tetap aman. Meskipun di berbagai daerah, sempat dikeluhkan terjadinya keterlambatan pasokan BBM. 

"Stok aman, lebih dari cukup," tegas Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung. 

Menurut Yuliot, pemerintah bersama Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) serta PT Pertamina tengah menelusuri penyebab antrean BBM di sejumlah daerah. Hasil identifikasi awal menunjukkan pasokan di terminal BBM masih mencukupi dan distribusi dari kilang berjalan normal. 

Baca juga : Final Spanyol Vs Argentina, Duel Guru Vs Murid

Pemerintah kini fokus mengevaluasi distribusi dari terminal menuju SPBU, termasuk kemungkinan adanya hambatan transportasi. "Yang pertama ketersediaan BBM di terminal terpadu. Pengiriman itu relatif lancar. Kemudian distribusi dari terminal terpadu ke SPBU-SPBU, ada hambatan transportasi atau bagaimana, ya kita juga sudah turunkan tim ke lapangan," ujarnya. 

Yuliot menegaskan antrean hanya terjadi di beberapa daerah, bukan secara nasional. 

"Hanya beberapa daerah," katanya. 

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menilai antrean di SPBU lebih banyak dipicu aksi panic buying masyarakat. "Bahwa antrean yang terjadi saat ini kita semua terus berjuang keras untuk normalisasi. Paling lama satu sampai dua hari ke depan, insya Allah semua akan terurai dan kembali lancar," ujarnya. 

Ia memastikan stok Biosolar, Pertalite, maupun minyak tanah secara nasional masih sangat aman. Namun, BPH Migas mencatat adanya pergeseran konsumsi masyarakat dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi, seperti perpindahan pengguna Pertamax ke Pertalite serta Dexlite maupun Pertamina Dex ke Solar subsidi. 

Menurut Wahyudi, perpindahan tersebut tidak melanggar aturan sehingga masih diperbolehkan. "Itu sesuai regulasi ketentuan memang diizinkan dan dimungkinkan untuk masyarakat," katanya. 

Baca juga : KPK Terima Vonis John Field Cs

Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, BPH Migas bersama Pertamina Patra Niaga mempercepat distribusi BBM ke seluruh SPBU. "Kami mengimbau masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan harian secara bijak dan wajar," pesannya. 

Ketua Komisi XII DPR Bambang Patijaya juga menyoroti antrean panjang di sejumlah SPBU meski stok BBM subsidi secara nasional dipastikan aman. Menurut Bambang, terdapat dua penyebab utama. 

Pertama, terjadinya migrasi konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi. Kedua, disparitas harga yang cukup lebar sehingga berpotensi memicu penyalahgunaan distribusi di lapangan. 

Ia meminta pemerintah dan PT Pertamina Patra Niaga segera menuntaskan persoalan distribusi agar pelayanan kepada masyarakat kembali normal. "Saya tidak ingin persoalan seperti PLN terulang. Ini penyaluran BBM subsidi kepada masyarakat, jangan sampai menimbulkan masalah," tegas Bambang. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.