Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Adib meminta agar rumah sakit mengurangi frekuensi pelayanan di poli atau layanan rawat jalan. Hal ini agar intensitas kontak dengan pasien berkurang. Pengurangan layanan poli, sambung Adib, juga agar petugas medis lebih fokus pada layanan emergensi. “Jadi layanan rawat jalan dikurangi frekuensinya, dibatasi jumlahnya, sekaligus mengurangi kontak dan efek kelelahan tenaga medis,” paparnya.
Lebih dari itu, Adib bilang, semua pelayanan difokuskan ke tahapan emergensi. Sehingga risiko terpapar lebih rendah. “Kita kan tidak tahu pasien yang datang itu positif atau tidak, karena datang juga yang memang dia tidak ada gejala,” beber dia.
Baca juga : Corona, Ada Temuan Baru?
Pemerintah sendiri telah menyediakan 170 ribu APD untuk perangi virus corona. Terdapat standard operating procedure (SOP) yang mengatur siapa yang harus menggunakan APD tersebut. Meski demikian, pemerintah berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi dan mematuhi APD demi keselamatan petugas medis.
Adib mengaku secara kuantitas kebutuhan APD masih kurang. Dia ingin pendistribusian APD diprioritaskan bagi petugas medis yang berada di area perawatan. “Memang saat ini APD prioritas untuk fasilitas perawatan. Teman-teman kami yang di daerah menyampaikan kekurangan APD-nya terutama pada level Puskesmas, RS swasta, klinik praktek mandiri, dan dokter mandiri,” terang dia.
Baca juga : Tangkal Virus Corona, Ilmuwan Kanada Bikin Masker Berlapis Garam
Sebelumnya, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo mengatakan, kelemahan Indonesia dalam menghadapi penyebaran virus corona adalah tidak memiliki alat untuk melakukan pemeriksaan secara cepat dalam skala besar. Doni mengaku pihaknya sudah berusaha untuk mendatangkan alat rapid test yang digunakan untuk pemeriksaan cepat terkait virus corona dari sejumlah negara.
“Kelemahan kita adalah tidak memiliki alat untuk memeriksa secara cepat dalam skala besar,” kata Doni. Ia menyebut 44 laboratorium milik Kementerian Kesehatan juga belum memiliki peralatan dan perlengkapan yang memadai untuk menangani pandemi virus corona ini. “Sehingga yang efektif baru 13 lab,” kata Doni yang juga kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). [UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya