Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Titiek Soeharto Sambut Peraih Nobel di Tambling Wildlife Nature Conservation
Sabtu, 29 Agustus 2026 09:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - 21 orang penerima Nobel, Turing Award, ilmuwan, akademisi dan tokoh dunia mengunjungi Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) Lampung pada 27–28 Agustus 2026.
Kunjungan ini menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan biodiversitas Indonesia sekaligus mempertemukan para pemikir dunia dengan pengalaman konservasi yang telah berlangsung di Tambling selama tiga dekade.
Para tamu kehormatan ini diterima Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia Siti Hediati Soeharto, yang juga menjadi tuan rumah acara.
TWNC dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki bentang alam yang beragam dan pengalaman panjang dalam upaya konservasi.
Dikelola oleh Artha Graha Peduli sejak 1996, TWNC menjadi bagian dari program lingkungan AGP melalui kerja sama dengan Kementerian Kehutanan di tahun 2008.
Dengan luas 48.153 hektar hutan dan 14.089 hektar kawasan laut, TWNC memiliki hutan hujan tropis dataran rendah, hutan pantai, mangrove, danau, rawa air tawar, serta hutan sekunder.
Siti Hediati Soeharto menyampaikan, bahwa Tambling merupakan ruang yang mempertemukan kekayaan alam Indonesia dengan ilmu pengetahuan dan kolaborasi global.
Dengan pengalaman konservasi TWNC selama tiga dekade menunjukkan menjaga alam butuh komitmen kuat dan berorientasi pada generasi mendatang.
“Tambling memperkenalkan sesuatu yang sangat penting. Konservasi bukan sebuah proyek pendek, tetapi sebuah komitmen panjang untuk generasi ke depan," ujar Titiek Soeharto, sapaan akrab Siti Hediati Soeharto, Jumat (28/8/2028).
“Hari ini, saya percaya Tambling (Wildlife Nature Conservation) bisa menjadi sesuatu yang lebih besar. Tambling bisa menjadi laboratorium hidup, di mana alam bertemu dengan sains, teknologi, pendidikan dan hubungan internasional (dalam event ini)," kata Ketua Komisi IV DPR saat menyambut kehadiran para penerima Nobel.
Kesempatan ini dapat dimanfaatkan untuk membangun hubungan luas antara pengalaman konservasi Indonesia dan komunitas global.
“Kami (hadir) bukan hanya untuk Tambling, tetapi juga belajar, membantu mengembangkan ide baru, membantu meneliti bagaimana sains dan teknologi dapat memperkuat perlindungan biodiversitas, iklim, resiliensi dan pembangunan yang berkelanjutan, selamat datang pada pada Presiden Ramos dan seluruh penerima Nobel di Tambling," kata Titiek Soeharto.
Baca juga : Prabowo Gandeng Peraih Nobel Perkuat Ekosistem Riset Indonesia
Pengalaman konservasi di Tambling juga memperlihatkan pentingnya kepemimpinan dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga alam.
Nobel Peace Prize laureate, Presiden Timor Leste José Ramos Horta melihat kepemimpinan Tomy Winata sebagai salah satu hal yang dapat dipelajari dari pengalaman konservasi di kawasan tersebut.
“Satu hal yang bisa dipelajari adalah kepemimpinan. Ini adalah kepemimpinan Tomy Winata. Senang sekali bahwa pemerintah dan masyarakat memberikan tanggung jawab untuk mengurus kawasan ini selama 30 tahun," ujar Ramos Horta di sela-sela perilisan Tukik.
Ramos Horta juga menekankan bahwa upaya konservasi perlu memperhatikan hubungan dengan masyarakat setempat.
Pengalaman konservasi tersebut juga mencakup upaya perlindungan satwa liar, terutama Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang merupakan satwa berstatus kritis (Critically Endangered) Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera di TWNC dalam menangani dan memulihkan harimau yang mengalami konflik sebelum dikembalikan ke habitat alaminya.
Menjaga hutan pada saat yang sama berarti menjaga keseimbangan lingkungan dan mengurangi berbagai tekanan terhadap alam, termasuk risiko kebakaran hutan dan lahan.
Hutan yang tetap terjaga tidak hanya menjadi habitat bagi satwa liar, tetapi juga berperan sebagai penyimpan karbon, pengatur tata air, dan penyangga kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Dalam konteks yang lebih luas, Ramos Horta melihat pengalaman Indonesia dalam menjaga alam sebagai salah satu pembelajaran bagi dunia. Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan lingkungan, mulai dari kebakaran hutan hingga bencana alam. “Indonesia sendiri adalah contoh untuk seluruh dunia,” ujarnya.
Oleh karena itu kehadiran para penerima Nobel dan tokoh dunia di Tambling menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung hubungan antara ilmu pengetahuan, konservasi dan keberlanjutan.
Peserta yang hadir dalam pertemuan itu adalah:
1. José Ramos-Horta — Nobel Peace Prize 1996
2. Frances H. Arnold — Nobel Chemistry 2018
Baca juga : Polri Tanam Bawang Putih Serentak di 14 Polda, Potensi Panen 2.795 Ton
3.Tim Hunt — Nobel Physiology or Medicine 2001
4. Benjamin List — Nobel Chemistry 2021
5. Robert C. Merton — Nobel Economic Sciences 1997
6. Konstantin Novoselov — Nobel Physics 2010
7. Frederick Jay Ramsdell — Nobel Physiology or Medicine 2025
8. James A. Robinson — Nobel Economic Sciences 2024
9. Brian Paul Schmidt — Nobel Physics 2011
10. David Beasley — Nobel Peace Prize/World Food Programme 2020
11. Jack Joseph Dongarra — Computer Science/Mathematics 2021
12. Martin Edward Hellman — Computer Science/Cryptography 2015
13. Whitfield Diffie — Computer Science/Cryptography 2015
14. Richard S. Sutton — Computer Science 2024
Baca juga : Dukung Swasembada Bawang Putih, Polri Tanam Serentak Di 14 Polda
15. Torsten Hoefler — Computer Science 2025
16. Sara Seager — Astrophysics 2024
17. Howard Yana Shapiro — Agriculture & Environmental Sciences 2009
18. Kailash Satyarthi — Nobel Peace Prize 2014
19. Leander Heldring — Economic Sciences 2024
20. Peter Badge — Nobel Photographer 2000
21. Gilles Brassard — Computer Science 2025
“Tambling adalah tempat yang sangat unik. Ini bukan kebun binatang atau taman, tetapi ekosistem alami di mana satwa, burung, ikan dan seluruh kehidupan di dalamnya masih berjalan dalam keseimbangan. Tantangannya adalah menjaga keunikan ini tanpa kehilangan keasliannya.
Laura Anne, salah satu perwakilan penerima Nobel mengatakan, setiap negara membutuhkan tempat seperti ini, agar kita menghargai apa yang kita miliki sebelum kehilangan, karena mengembalikannya jauh lebih sulit daripada menjaganya sejak awal.
"Kunjungan ini diharapkan bisa menjadi kesempatan untuk memperkenalkan cerita tentang Indonesia dari perspektif kekayaan alam dan pengalaman menjaga lingkungan. Sebagaimana prinsip founder TWNC yang menyatakan bahwa, Kita jaga alam, alam jaga kita," ujar Laura.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya