Dark/Light Mode

Kemendikbud Bantah Mau Hapus Mata Pelajaran Sejarah

Bangsa Terdidik, Bangsa Yang Mempelajari Sejarah

Minggu, 20 September 2020 05:32 WIB
Ilustrasi Gedung Kemendikbud. (Foto : Kompas.com)
Ilustrasi Gedung Kemendikbud. (Foto : Kompas.com)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rencana penghapusan mata pelajaran sejarah bagi siswa dan siswi SMK dan SMA mendapat penolakan dari warganet.

Penghapusan mata pelajaran sejarah itu dilawan dengan petisi daring (online) yang berjudul ‘Kembalikan Posisi Mata Pelajaran Sejarah Sebagai Mapel Wajib Bagi Seuruh Anak Bangsa’.

Petisi yang dimuat di change.org itu atas nama Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI). Hingga Sabtu (18/9) sore, petisi ini telah mendapat 17 ribu tanda tangan.

Petisi ditujukan kepada Presiden Jokowi. Mereka tidak rela bila pelajaran sejarah dihapus dari kurikulum. Eva Kusuma Sundari mengaku menangis meraung-raung karena pelajaran sejarah akan dihapus.

Baca Juga : Penempatan Dana Di Holding Asuransi Masih Diperdebatkan

Dia meminta stop project “pedhot oyot” alias mencabut asal-usul bangsa ini. Kata Eva, “pedhot oyot” bertentangan dengan pendidikan pembangunan karakter dan bangsa. “Pertahankan mapel sejarah Indonesia yang pakai critical thinking (ansos). Jangan hapalan yang manipulatif.

Menuju Manusia Merdeka,” ujar Eva Kusuma Sundari di akun @evndari. Syaaaa menyambar. Dia bilang, pelajaran sejarah yang didapat waktu sekolah saja belum cukup buat tahu sejarah Indonesia secara keseluruhan.

“Nah ini malah mau dihilangkan. Yang ada malah pada buta sejarah entar bocah,” kritik Tdkftdka.

“Bangsa yang terdidik adalah bangsa yang mempelajari sejarah,” saut Olga Olifiani Putri. “Tanpa sejarah bangsa tak akan maju,” tandas Muhammad_Aldy Hidayatullah.

Baca Juga : Namanya Juga Usaha, PKS Anggap Bagian Dari Politik

Omar Lazarus mengatakan, untuk menghancurkan sebuah bangsa, jangan ajari anak-anak didik itu dengan sejarah bangsanya. “Maka Hancurlah bangsa itu,” tandas Lazarus_omar.

Devi_666 menambahkan, setelah pelajaran sejarah dikaburkan, kemudian pelajaran sejarah akan dihilangkan. “Biar orang Indonesia linglung dengan masa lalunya,” keluh 666Devi.

Sementara, Si Pitung mendukung rencana pemerintah yang akan menghapus pelajaran sejarah oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Dia bilang, kurikulum di Indonesia terlalu banyak dan tidak fokus. Kata Si Pitung, banyak mata pelajaran di sekolah yang sebenarnya sederhana, tapi cara pembelajarannya yang justru memberatkan.

Baca Juga : Begini Gercep Menpora Mempersiapkan Piala Dunia U-20

Salah satu contohnya adalah sejarah. “Terlalu banyak hapalan dan cocok untuk anak IPS. Untuk yang IPA dan SMK teknik sudah gak perlulah. Udah cukup 9 tahun dari SD sampe SMP,” jelasnya.
 Selanjutnya