Dark/Light Mode

Tegas Dan Keras Ke Rizieq

Jenderal Dudung Melambung

Sabtu, 21 Nopember 2020 06:25 WIB
Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman. (Foto: ist)
Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pangdam Jaya, Mayjen TNI Dudung Abdurachman lagi jadi buah bibir. Namanya melambung setelah mengambil sikap tegas dan mengeluarkan pernyataan keras terkait berbagai gerakan Front Pembela Islam (FPI) dan segala tingkah polah Imam Besar FPI, Rizieq Shihab, baru-baru ini.

Cerita bermula saat muncul po­lemik terkait video pencopotan ba­liho milik FPI oleh sejumlah orang berbaju loreng, yang viral di medsos. Netizen menduga, yang berbaju lo­reng itu TNI. Tapi, Puspen Mabes TNI membantah itu anggotanya.

Mana yang benar? Muncullah, Dudung. Jenderal bintang dua itu memberikan jawaban lugas. Dengan penuh ksatria, dia menyatakan, orang berbaju loreng yang mencopot baliho milik FPI itu adalah anak buahnya.

“Itu perintah saya,” kata Dudung usai memimpin Apel Pasukan Pe­ngamanan Pilkada 2020 yang dihadiri 15 ribu personel Kodam Jaya, di La­pangan Monas, Jakarta, kemarin.

Apel ini diikuti sejumlah kesatuan dari resimen marinir, infanteri, artileri medan, artileri pertahanan udara, dan kavaleri. Personel Satpol PP dan Polda Metro Jaya turut serta dalam apel gabungan ini. Hadir pula Wali Kota Tangsel, Airin Rachmi Diany.

Kendaraan­-kendaraan taktis milik TNI dan Polri ikuti dipamerkan. Mulai dari tank, empat panser anoa, belasan truk, serta puluhan motor trail terpajang di lapangan Monas.

Awalnya, Dudung bicara soal pengamanan Pilkada dan antisipasi penanganan banjir. Dia mulai menyinggung Rizieq saat wartawan menanyai sikapnya terhadap ak­tivitas­-aktivitas yang dilakukan bos FPI itu. Apa jawabnya? Dudung tak ragu mengkritik pernyataan Rizieq yang videonya viral saat ceramah dalam peringatan Maulid Nabi Muhamamad di Markas FPI, Petamburan, Jakarta.

Berita Terkait : Sekda Bogor: Kegiatan Rizieq Di Megamendung Tak Berizin

Dia menyayangkan, Rizieq se­laku ulama berkata kotor dalam peringatan Maulid Nabi. Termasuk menghina institusi TNI dan Polri. “Saya prihatin dan tidak terima sebagai orang muslim,” tegas Dudung duduk sambil mengutip ayat soal api neraka.

Setelah itu, Dudung mengonfirmasi orang-orang berbaju loreng yang terekam menurunkan baliho Rizieq, Kamis (19/11). Dia membenarkan itu anak buahnya.

Kenapa perintah itu dikeluarkan? Kata dia, korps baju loreng turun tangan karena beberapa kali Satpol PP menurunkan, baliho itu dinaikkan kembali. Padahal, pasang baliho ada aturannya. Tempatnya sudah ditentukan. Pajak harus dibayar. Tidak bisa seenaknya.

Lantas, dia menyebut belakangan ini FPI seperti ngatur-ngatur dan suka-suka sendiri. “Jangan coba-coba pokoknya. Kalau perlu, FPI bubarkan saja itu. Bubarkan saja,” tegas Dudung, mengulang pernyataannya itu. Prok, prok, prok, tepuk tangan terdengar. “Kalau coba-coba dengan TNI, mari,” tantang dia.

Dudung memastikan akan membersihkan Jakarta dari baliho Rizieq yang berisi ajakan revolusi. Dia kembali memperingatkan, TNI tidak segan-segan menindak keras siapapun yang mencoba mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa.

Dudung juga mewanti-wanti Rizieq dan FPI jangan merasa mewakili umat Islam. “Tidak semua. Banyak umat Islam yang lebih baik, yang berkatanya dan berucapnya baik dan bertingkah laku baik,” sindir Dudung sekaligus menutup sesi tanya jawab konferensi pers.

Setelah Apel selesai, sejumlah kendaraan tempur jenis Tank Panser, truk, dan pasukan motor trail TNI keluar dari Monas. Pasukan ini diiringi raungan sirine kendaraan Patwal TNI.

Berita Terkait : Jenderal Nana Tidak Merana

Ternyata, konvoi arak-arakan prajurit TNI itu langsung melakukan sweeping baliho raksasa bergambar Rizieq di sejumlah titik ibukota. Ada 500 personel TNI yang turun, dipimpin Dandim 05/01 JP BS Kolonel Inf Luqman Arief.

Kawasan Tanah Abang hingga Jalan Petamburan, dan Slipi menjadi salah satu target operasi prajurit TNI. Baliho bertuliskan selamat datang hingga ajakan revolusi, ditumbangkan dalam hitungan menit.

Sempat ada penghadangan di Petamburan yang dilakukan Laskar FPI. Toh, TNI cuek saja. Dari situ, perjalanan berlanjut menuju ke Bundaran Semanggi dan mengarah ke Jalan Jenderal Sudirman, lalu kembali ke titik awal, yaitu Monas.

Apa kata Pemprov DKI terkait penurunan baliho oleh TNI ini? Wagub DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria mengamini, di Jakarta, memang ada aturan pemasangan baliho. Jadi, kalau ada yang melanggar, pasti ditertibkan.

“Jangankan baliho, bendera, atau spanduk, reklame saja yang besar, yang kuat, kalau ditemukan tidak sesuai dengan peruntukannya, pasti diturunkan,” ucapnya

Kasatpol PP DKI Jakarta, Arifin me­minta yang memasang baliho Rizieq untuk mencopotnya. “Apabila tidak diturunkan, ya kita akan turunkan, tentu bersama dengan aparat keamanan yang terkait TNI­-Polri,” ujar Arifin.

Dudung Banjir Pujian

Berita Terkait : Banteng Masih Simpan Tanduk

Sikap Mayjen Dudung terhadap FPI dan Rizieq ini membuat namaya melambung. Banyak pihak memujinya. Salah satunya datang dari Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran. Dia sepakat, pemasangan spanduk atau baliho punya aturan sendiri. “Saya dukung apa yang dilakukan Pangdam Jaya,” ujar Fadil yang baru dilantik menggantikan Irjen Nana Sudjana, kemarin.

Ketua Komisi I DPR, Meutya Hafid juga ikut memuji sikap tegas Mayjen Dudung. Sikap Pangdam Jaya, disebutnya, sejalan dengan pernyataan Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto, yakni, jangan sampai persatuan dan kesatuan hilang. FPI dianggap dapat memecah kedua hal itu. “Keberanian Pangdam Jaya patut diacungi jempol,” ujar Meutya, kemarin.

Warganet juga memuji keberanian Pangdam Jaya. Di Twitter, tagar Bravo TNI menggema. Selain Bravo TNI, kata Pangdam Jaya juga menjadi populer di kedua sosial media itu. Ada juga kalimat keras Bubarkan FPI yang mengikuti trending topic.

Tapi ada juga yang kontra. Fadli Zon salah satunya. Menurut dia, langkah yang dilakukan Mayjen Dudung menyimpang dari tujuan pokok fungsi (tupoksi) TNI. “Sebaiknya Pangdam ini dicopot saja,” tegas Fadli.

Pakar hukum tata negara, JimlyAsshiddiqie juga meminta TNI sebaiknya tenang dalam menyelesaikan persoalan Rizieq. “Tidak usah kalap, apalagi kayak mau perang dengan melibatkan TNI segala untuk urusan baliho. Cukup gerakkan satpol PP saja,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, semalam. [OKT]