Dark/Light Mode

Minta Rakyat Tidak Ragu

Luhut: Jokowi Siap Divaksin

Minggu, 13 Desember 2020 07:55 WIB
Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN), Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Facebook)
Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN), Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Facebook)

RM.id  Rakyat Merdeka - Luhut Binsar Pandjaitan meminta rakyat tidak perlu ragu dengan kualitas vaksin Corona buatan Sinovac. Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) ini menjamin, vaksin asal China itu aman disuntikkan. Bila perlu, kata Luhut, Presiden Jokowi siap untuk divaksin.

Kehadiran 1,2 juta vaksin Sinovac di tanah air pekan lalu, disambut antusias berbagai kalangan. Harapan pemerintah, akhir bulan ini, program vaksinasi sudah bisa dilakukan secara bertahap. Tentunya, setelah izin penggunaannya dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

Namun, Luhut tidak menampik, bila ada segelintir orang yang masih ragu dengan keamanan vaksin Sinovac ini. Karena keraguan itu, membuat sejumlah pihak tidak ingin disuntik vaksin terlebih dahulu.

Luhut menegaskan, vasin Sinovac sudah selesai melakukan uji klinis tahap III, sehingga aman untuk disuntikkan. Karena keamanannya, kata dia, Jokowi selaku kepala negara siap untuk disuntik vaksin bersama masyarakat.

“Presiden (Jokowi) kemarin bilang, nanti saya disuntik ramai-ramai saja dengan rakyat. Jadi kelihatan,” ujar Luhut dalam webinar yang diselenggarakan SHOPEE Indonesia, kemarin.

Menteri Bidang Kemaritiman dan Investasi itu menegaskan, keberanian Presiden untuk divaksin terlebih dahulu, bukti kalau vaksin ini sudah aman. Namun, Presiden tentunya tak ingin menyalahi aturan.

Berita Terkait : Manfaat Vaksin Jauh Lebih Besar Daripada Efek Sampingnya

“Kalau Presiden mau disuntik duluan
hari ini juga bisa. Tapi Presiden nggak mau, karena nanti dibilang maunya
presiden sendiri duluan,” ujarnya.

Penegasan juga disampaikan Ketua Pelaksana KPC PEN Erick Thohir. Menurutnya, vaksin Sinovac maupun vaksin lain yang akan dibeli Indonesia, semua sudah masuk daftar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sehingga keamanan dari setiap vaksin tidak perlu diragukan lagi.

Dalam pengadaan vaksin, lanjut Erick, pemerintah tidak bergantung pada
satu negara saja. Setiap negara yang sudah selesai melakukan uji tahap
III dan vaksinnya terdaftar di WHO, maka pemerintah akan berupaya
untuk mendatangkan ke dalam negeri.

“Sesuai keputusan surat dari Pak Menteri Kesehatan, kita memakai vaksin Amerika, vaksin Arab, vaksin China. Yang penting apa? Vaksinasi ini kita yakini bisa menekan penularan dan jumlah kematian. Ini yang paling penting,” tegas Erick.

Menteri BUMN ini menjelaskan, pengadaan vaksin sudah diatur melalui Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2020. Perpres tersebut mengatur tentang Pengadaan Vaksin dan Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Kementerian Kesehatan sudah membuat daftar, vaksin mana yang akan dipakai di dalam negeri.

“Ada Pfizer, Moderna, Sinovac, Sinopharm, AstraZeneca, dan tentunya vaksin Merah Putih. Jadi, jangan terjebak nih ‘oh ini vaksin China, vaksin Amerika’. Semua vaksin yang sudah masuk data WHO dan juga sudah masuk uji klinis tahap 1-2 semua sama baik,” terang Erick, meyakinkan masyarakat.

Berita Terkait : Vaksin Berkualitas Dapat Dilihat Dari Efikasi Dan Efektivitas

Dia meminta agar masyarakat lebih bijak menerima informasi. Soal vaksin, Erick menyebut landasan utamanya adalah kesehatan masyarakat. Selain juga yang tak kalah penting memutarkan kembali roda perekonomian. 

Eks ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf ini berharap ekonomi nasional kembali bergairah tahun depan. Apalagi, data dari Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) menunjukkan ekonomi Indonesia akan tumbuh di level 5 persen. “Sehingga, momentum ini yang harus kita tunggangi,” pungkas Erick.

Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono setuju bila Presiden menjadi kelompok pertama yang disuntik vaksin. Masuk dalam kelompok pertama, yakni menteri dan kepala daerah.

“Presiden kan bertemu banyak orang. Sekarang menterinya banyak yang kena kan. Gubernur, kepala daerah, politikus itu harus divaksinasi dulu. Lihat saja kasusnya Trump kan banyak yang kena,” kata Pandu dalam instagram live, Senin (7/12).

Sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, lanjut Pandu, mobilitas Jokowi sangat tinggi. Sehingga dalam kegiatannya itu, berpotensi tertular dan menulari banyak orang.

“Kan untuk mengatasi pandemi tidak semua orang harus divaksin. Itu keindahan dari teori herd immunity. We don’t need everybody to be vaccinated, only part of them (tidak perlu semua orang divaksinasi, hanya sebagian saja,” ungkap Pandu.

Berita Terkait : BPOM Ajak OKI Cari Solusi Tangani Pendemi Covid-19

Kesediaan Jokowi untuk yang pertama disuntik vaksin mendapat apresiasi dari warga dunia maya. “Mantap Bapak Presiden agar tidak ada tudingan-tudingan miring lagi,” ujar akun @MalikSyndicate. “Ing ngarso sung tulodho. Pakai vaksin yang sama dengan yang dipakai rakyat,” timpal akun @LenteraNusanta1. 

Akun @hendra197071 menyarankan, selain Presiden, menteri dan tenaga juga harus jadi prioritas. “Bareng tenaga medis, menteri dan DPR RI,” usulnya.

“Bukan permasalahn bapak jokowi siap disuntik vaksin... tapi apakah sudah terjamin vaksinnya untuk masyarakat yang akan disuntik vaksin dan apakah sudah siap untuk di uji,” kata akun @capunk8484.

Namun ada juga warganet yang penasaran,bila nantinya Presiden benar- benar disuntik vaksin bersama rakyat. “Ya tapi secara live di TV menyuntikkan vaksinnya. Kalo secara privasi nanti takut obat batuk yang disuntikkan kepada presiden,” usul @_kucinghutan. “Pak @jokowi, sebagai presiden yang baik harus mencontohkan yang baik. @jokowi dan seluruh keluarganya divaksin terlebih dahulu secara transparan. Mulai dari vaksin dibuka dan disuntikkan diliatkan secara langsung. Setelah itu diikutin bawahannya, menteri, dll,” sambung @Andri09999. [MEN​]