Dewan Pers

Dark/Light Mode

Mau Istikharah Soal Mensos 

Risma Serahkan Nasib Ke Mega

Selasa, 15 Desember 2020 07:40 WIB
Mau Istikharah Soal Mensos  Risma Serahkan Nasib Ke Mega

RM.id  Rakyat Merdeka - Kabar Tri Rismaharini akan diangkat menjadi Menteri Sosial (Mensos) semakin kencang. Namun, Wali Kota Surabaya itu ogah kepedean, juga tidak mau melangkahi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Kader perempuan banteng ini memilih menyerahkan
nasibnya ke Mega.

Kabar Risma akan diangkat jadi Mensos menggantikan Juliari P Batubara, yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sudah berhembus sejak sepekan terakhir.

Awalnya, kabar ini muncul di dunia maya. Kini, kabar tersebut dikuatkan partai politik pendukung pemerintah. Salah satunya, disuarakan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSI Surabaya, Yusuf Lakaseng.

Yusuf menyebut, informasi itu berasal dari sumber orang terdekatnya Risma. “Informasinya valid dari sumber valid yang saya dapat. Bu Risma kemungkinan akan jadi Mensos, Pak Jokowi sudah menelepon Bu Risma. Kita tunggu aja,” kata Yusuf, kemarin.

Menurutnya, Risma merupakan pemimpin yang berprestasi. Punya integritas dan memiliki jiwa sosial tinggi. Risma berhasil membangun Surabaya menjadi kota yang dipertimbangkan dunia. Kini, jabatan Risma sebagai Wali Kota Surabaya akan habis. Makanya, Risma pantas naik kelas.

Berita Terkait : Tersangka Kasus Korupsi Bansos, Adi Wahyono Serahkan Diri Ke KPK

“Figurnya pas jadi Mensos. Memang bisa jadi ada pertimbangan menteri lain, tapi Bu Risma lebih cocok jadi Mensos. Modal pemerintahannya kan melayani masyarakat, jadi tupoksinya pas ke situ,” bebernya.

Dari pihak PDIP, masih berbicara normatif. Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah mengaku belum mendengar kabar Risma bakal diangkat jadi Mensos. “Saya belum mendengar informasi adanya tawaran Pak Presiden Jokowi ke Ibu Risma untuk menjadi Mensos,” ucap Wakil Ketua MPR ini, kemarin.

Yang jelas, kata Basarah, dari PDIP, yang berhak mengusulkan kader menjadi Menteri itu hanya Megawati. “Urusan mengenai siapa kader PDIP yang akan ditugaskan dan diusulkan kepada Presiden menjadi menteri di Kabinet Indonesia Maju adalah wewenang dan hak prerogatif Bu Mega sebagai Ketum PDIP,” tegasnya.

Soal diterima tidaknya usulan itu, PDIP menyerahkan sepenuhnya ke Jokowi. “Keputusan pengangkatan seseorang menjadi menteri adalah hak prerogatif Presiden Jokowi,” tutup Basarah.

Bagaimana dengan Risma? Dia menanggapi kabar ini dengan kalem. Dia tidak mau kepedean. Apalagi belum ada kepastian.

Berita Terkait : Dukung Langkah KPK, Mensos Benarkan Anak Buahnya Kena OTT

Andai pun ada tawaran, dia tidak akan langsung menjawab, iya. “Nanti dilihat, istikharah (shalat minta petunjuk) dulu, bisa atau tidak. Kan nanti mengiyakan tapi tidak bisa. Nggak boleh sombong, nggak boleh takabur. Yang bisa ngukur aku ya aku, bukan orang lain,” jelasnya, kemarin.

Dia juga tidak mau nyelonong sendiri. Sebagai kader PDIP, dia akan menunggu sikap Mega. Dia menyerahkan keputusan ke Mega. “Nanti kita lihat. Saya lihat Bu Mega saja,” cetusnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion, Ujang Komarudin, menyebut, sikap Risma menyerahkan nasib ke Mega merupakan hal positif. Sebab, kunci segala keputusan terkait PDIP memang ada di tangan Mega. “Pintu menteri dari PDIP bergantung pada Megawati,” ucapnya, kemarin.

Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari menyebut, memang terbuka kemungkinan Risma menjadi Mensos. Peluangnya besar. Namun, ada dua nama lain yang juga punya peluang, yaitu Eriko Sotarduga dan Sukur Nababan.

“Keduanya suku Batak. Kita tahu, di kabinet itu, representasi Batak diperhitungkan. Dua orang ini kan berasal dari suku Batak, muda, dan ada di DPP seperti halnya Juliari Batubara,” terangnya.

Berita Terkait : Jaga Rumah Ibunda Mahfud, GP Ansor Kerahkan Banser

Meski demikian, dia memandang Risma menjadi sosok yang paling kuat mendapat rekomendasi Mega. Mega dekat dan percaya dengan Risma. Jejak rekam Risma selama menjabat Wali Kota Surabaya juga tidak ada yang meragukan.

“Pak Jokowi juga cocok dengan Bu Risma, yang merupakan kepala daerah yang berhasil. Bisa kerja. Jadi sesuatu yang sangat mungkin terjadi walaupun Bu Mega punya pertimbangan lain yang tidak ada di Bu Risma,” tutupnya. [UMM]