Dark/Light Mode

Vaksinasi: Telaah Sosiologis

Senin, 18 Januari 2021 10:00 WIB
Dr. Tantan Hermansah, Pengampu MK Sosiologi Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Anggota Komisi Infokom MUI Pusat
Dr. Tantan Hermansah, Pengampu MK Sosiologi Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Anggota Komisi Infokom MUI Pusat

RM.id  Rakyat Merdeka - Pandemi yang telah berlangsung lebih 10 bulan, tentu telah menghasilkan dinamika sosial budaya yang cukup kuat untuk didiskusikan. Berbagai perspektif yang ditawarkan berbagai ahli, telah menghasilkan kekayaan ilmu pengetahuan yang luar biasa.

Sebagai fenomena sosial, peristiwa pandemi ini tidaklah baru. Namun karena setiap peristiwanya selalu menghasilkan konfigurasi baru dalam tatanan sosial kehidupan ummat manusia, maka menganlisis peristiwa ini selalu menarik.

Berita Terkait : Program Vaksinasi Bikin Saham PTPP Terbang Tinggi

Artikel sederhana ini akan menganalisis fenomena pandemi pada lokus vaksinasi dari sudut pandang sosiologis. Pisau sosiologi dipergunakan dimaksudkan untuk memberikan pengayaan atas berbagai analisis lain yang sudah dilakukan para ahli sebelumnya.

Vaksinasi adalah peristiwa sosial karena di dalamnya mencakup beragam agensi dan aktor serta massa yang cukup banyak dan saling berelasi. Keberelasiannya terjadi dalam berbagai aspek: tata sikap, tata nilai, tata tindak, dan tata ajak.

Berita Terkait : Selain Vaksin, Rusia Klaim Temukan Obat Covid-19

Tata sikap menyangkut hal yang berkaitan pada obyek peristiwa yang terjadi. Misalnya ketika pemerintah menginformasikan bahwa akan ada vaksinasi, maka sikap masyarakat atas informasi tersebut menyangkut kepada tata sikapnya. Seperti kita ketahui, bahwa secara garis besar, sikap publik terbelah menjadi dua: menerima dan menolak.

Mereka yang menampilkan tata sikap menerima maupun menolak biasanya juga menunjukkan sejumlah alasan. Ada alasan yang dibangun secara pure, murni, dan orginal dengan merujuk kepada sistem logika dan data yang akurat. Namun ada juga yang alasannya justru ikut-ikutan, atau terhegemoni informasi yang bertebar secara liar pada lini media. Tata sikap ini mencerminkan realitas sosiologis masyarakat kita yang memang bisa dikatakan kurang teredukasi secara paripurna, sehingga menyisakan beragam gembok rasionalitas.

Berita Terkait : Tanpa Gejala, Khofifah Positif Covid

Selanjutnya, tata nilai berkaitan dengan keyakinan yang mendasari pernyataan atau tindakannya. Tata nilai bersifat abstrak. Realitasnya hanya bisa dibaca pada tindakan yang tampak, misalnya ketika menerima atau mendukung, atau menolak sesuatu. Dalam konteks tata nilai, penerimaan atau penolakan vaksin misalnya, akan dibarengi dengan narasi yang berbasis pada hal-hal abstraktif, seperti kaidah yang ada dalam agama atau kepercayaan. Pengutipan ayat-ayat atau dalil lainnya dipergunakan untuk memperkuat argumen baik yang mendukung atau yang menerima.
 Selanjutnya