Dark/Light Mode

Kutukan Telaga Sumala

Senin, 21 Desember 2020 06:10 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Saya punya hobi mengoleksi dasi semenjak masih di bangku kuliah. Mulai dari yang branded sampai dasi pinggir jalan. Dasi klasik seperti Brooks Brothers, J Crew, sampai JCPenney paling menarik untuk dikoleksi. Makna di balik dasi adalah selain menunjukkan dirinya seorang profesional, “ready to serve” atau siap untuk melayani.

Dengan adanya krisis Covid-19 bukan saja menyerang kesehatan manusia, tatanan busana pun ikut berubah. Semenjak merebaknya virus corona, pekerja profesional memilih bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Teknologi zoom memberikan kemudahan untuk melakukan teleconference dan tidak perlu tatap muka secara langsung. Sehingga pakaian seperti dasi dan jas mulai ditinggalkan.

Berita Terkait : Loyalitas Adipati Karna

“Sebuah krisis akan mengubah perilaku manusia dan menciptakan tatanan baru, Mo,” celetuk Petruk sok tahu. Romo Semar memilih diam tidak mau menanggapi anaknya Petruk. Romo Semar sedang galau dengan kebijakan dadakan menjelang liburan akhir tahun. Rencana liburan ke luar kota ambyar karena harus rapid test antigen. Seperti biasa Romo Semar ditemani kopi pahit dan ubi rebus. Tidak ketinggalan rokok klobot ikut menghangatkan suasana pagi yang cerah. Kepulan asap rokok tingwe membawa lamunan Romo Semar ke zaman Resi Gotama.

Kocap kacarito, Resi Gotama tinggal bersama istrinya Dewi Windradi di pertapaan Surya Pringga di lereng gunung Sukendra. Dari perkawinan dengan Dewi Windradi dikarunia tiga anak yakni Dewi Anjani, Guwarsi, dan Guwarsa. Pasangan paruh baya tersebut memilih tinggal di lereng gunung karena merasa damai dan tentram. Namun kedamaian pertapaan Surya Pringga mulai terusik ketika ketika anak-anak sang Resi berebut cupu manik. Dewi Anjani memiliki cupu manik pemberian ibunya. Melihat kakak perempuan memiliki cupu manik Guwarsi dan Guwarsa iri dan mengadu kepada bapaknya.

Berita Terkait : Etika Dan Politisasi Vaksin

Resi Gotama merasa tidak pernah memberikan cupu manik kepada Dewi Anjani. Maka Sang Resi menanyakan kepada Dewi Windradi dari mana mendapatkan Cupu Manik. Windradi diam tidak mau menjawab pertanyaan suaminya yang dipenuhi rasa curiga. Sebetulnya cupu manik merupakan pemberian Bethara Surya kerena rasa sayangnya kepada Dewi Windradi. Siapa yang memiliki cupu manik dapat memanggil dewa untuk turun ke Arcapada.

Resi Gotama marah karena Dewi Windradi diam tidak mau menjawab. Selain itu itu Gotama terbakar api cemburu dengan adanya cupu manik tersebut. Saking marahnya Gotama, dikutuklah Dewi Windradi menjadi patung. Konon patung batu Dewi Windradi oleh Gotama dilempar dan jatuh di taman Argasoka Kerajaan Alengka.

Berita Terkait : Tantangan Covid Dan Korupsi

Cupu Manik dibuang oleh Resi Gotama. Tutup Cupu jatuh di kerajaan Ayodya menjadi telaga Nirmala. Sedangkan bagian bawah cupu jatuh ke tengah hutan menjelma menjadi telaga Sumala. Ketiga anak Resi Gotama mengejar ke tengah hutan. Mereka mengira cupu manik jatuh ke telaga. Maka tanpa ragu Guwarsi dan Guwarsa terjun ke telaga. Namun tanpa disadari keduanya, begitu keluar dari telaga, keduanya telah berubah wujud menjadi kera. Sedangkan Dewi Anjani hanya membasuh muka dengan air telaga. Sehingga hanya wajah dan tangannya saja yang berbulu seperti kera.

“Jangan pernah membuat keputusan atau kebijakan di saat marah, Mo. Nanti seperti Resi Gotama,” celetuk Pertruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul Tole. Kemarahan dan saling menyalahkan bukan menyelesaikan krisis. Akan tetapi malah membuat krisis semakin susah dikendalikan. Sebuah krisis sering kali menghancurkan kebiasaan lama dan menciptakan kebiasaan baru. Untuk itu dalam menghadapi sebuah krisis seperti Covid-19 para pihak harus saling sinergi dan koordinasi. Bukan saling salah menyalahkan.” Oye