Dewan Pers

Dark/Light Mode

Arcandra Tahar Dorong PGN Efisien Bangun Infrastruktur

Kamis, 5 Nopember 2020 07:49 WIB
Komisaris Utama (Komut) PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Persero Arcandra Tahar. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Komisaris Utama (Komut) PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Persero Arcandra Tahar. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

RM.id  Rakyat Merdeka - Komisaris Utama (Komut) PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Persero Arcandra Tahar mengingatkan pentingnya melakukan perhitungan yang matang dan cermat di dalam membangun infrastruktur gas.

“Sebelum membangun infrastruktur, perusahaan harus memastikan darimana sumber pasokan migasnya. Serta potensi pasar yang akan menyerap energi tersebut,” katanya dalam unggahan di laman instagramnya @arcandra.tahar, kemarin.

Berita Terkait : Wirausaha Baru Bakal Dorong Penguatan Struktur Ekonomi

Dia menuturkan, aspek teknologi dan komersial menjadi faktor penentu efisiensi infrastruktur. Arcandra menjelaskan, saat ini PGN terus melakukan berbagai upaya untuk tetap mengembangkan infrastruktur di berbagai daerah.

Namun ditekankannya, PGN berupaya melaksanakannya sebaik mungkin. Menurutnya, proses efisiensi yang dilakukan PGN dimulai sejak proyek infrastruktur direncanakan.

Berita Terkait : AP I Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lewat Konektivitas Infrastruktur Udara

Tim di internal PGN akan merumuskan dan menentukan terlebih dahulu, beberapa aspek strategis dan teknis. Misalnya pada tahap awal, harus ditentukan target bisnis proyek tersebut secara jelas, terukur berdasarkan data yang valid.

Deadline dan milestone harus clear dengan didukung pemahaman yang matang, terhadap pasar atau konsumen,” jelasnya.

Berita Terkait : Gandeng YAAI, Kipina Bangun TK di Indonesia

Wakil Menteri ESDM Kabinet Kerja 2016-2019 ini menegaskan, faktor teknologi dan aspek komersial dikedepankan PGN, dalam memutuskan sebuah proyek infrastruktur migas.

“Hasilnya telah terbukti efektif. Pada proyek infrastruktur pipa minyak ke blok Rokan, PGN bisa menghemat biaya 150 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau lebih dari Rp 2,1 triliun,” ungkapnya. [DWI]