Dark/Light Mode

Belikan HP Khusus Untuk Hubungi Eksportir

Edhy Prabowo Suruh Staf Istrinya Tagih Duit Benur

Jumat, 22 Januari 2021 07:05 WIB
Mantan Menteri Perikanan dan Kelautan Edhy Prabowo berjalan menuju mobil tahanan usai diperiksa di gedung KPK, Jakarta, Kamis (21/1/2021). (Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A)
Mantan Menteri Perikanan dan Kelautan Edhy Prabowo berjalan menuju mobil tahanan usai diperiksa di gedung KPK, Jakarta, Kamis (21/1/2021). (Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyuruh Ainul Faqih, staf istrinya, menagih fee kepada eksportir benih lobster (benur).

Untuk keperluan itu, Edhy membelikan hand phone (HP) baru berikut kartunya. Ainul menggunakan HP khusus ini untuk mengontak eksportir.

Berita Terkait : Edhy Prabowo Dicecar KPK, Buat Apa Pakai Tim Due Diligence Segala?

Hand phone ini digunakan sebagai media komunikasi terkait dugaan permintaan jatah fee,” kata Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK, Ali Fikri.

HP itu ditemukan ketika penyidik lembaga anti rasuah menggeledah rumah dinas Edhy. Alat komunikasi ini pun disita. Penyidik lalu menyedot isi HP yang di dalamnya terdapat percakapan soal permintaan fee ekspor benur.

Berita Terkait : Edhy Belanja Barang Mewah Pake Kartu ATM Staf Istrinya

Pada pemeriksaan Rabu (20/1) lalu, Edhy dicecar mengenai isi percakapan di HP khusus yang dipegang Ainul itu. Selain meminta fee kepada eksportir, Ainul memegang kartu ATM. Saldonya diduga berasal dari setoran fee ekspor benur.

Dengan kartu ATM ini, Edhy dan istrinya, Iis Rosyita Dewi berbelanja barang mewah di Hawaii, Amerika Serikat. Kartu ATM ini disita saat KPK mencokok Edhy setiba di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng sepulang dari Negara Paman Sam.

Baca Juga : Pisah Ranjang

Pada pemeriksaan kali ini, Edhy juga dimintai konfirmasi mengenai temuan uang sebanyakRp 4 miliar (dalam bentuk rupiah dan mata uang asing) di rumah dinasnya. Juga diminta penjelasan mengenai sejumlah dokumen yang menjadi barang bukti perkaranya.

Dalam penyidikan perkara rasuah ini, KPK menetapkan sejumlah tersangka. Yaitu Edhy Prabowo, dua staf khusus Edhy: Safri dan Andreau Pribadi Misana, Siswadi pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK), Ainul Faqih dan Amiril Mukminin.
 Selanjutnya