Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
7. Genetic Fallacy: kekeliruan genetic, Trump menggeneralisir tentang oknum Muslim yang berbuat salah dan memvonis Muslim secara umum, menyatakan Islamofobia adalah masalah di Amerika dan menyebutnya "memalukan, Trump melakukan larangan imigrasi Muslim dan pemeriksaan ekstrem pada Muslim.
8. Gross Simplification adalah penyederhanaan yang berlebihan dan penyebab yang berlebihan Trump memarahi New York Times karena jujur dalam kerja peliputannya.
9. Invalidating Media Credibility: Membatalkan kredibilitas media. Trump telah menciptakan istilah "berita palsu", pada masa rezim Nazi, Hitler menciptakan istilah Lugenpresse, yang diterjemahkan sebagai "pers berbohong.
Dengan mendiskreditkan pers karena menyajikan fakta, hal itu menyisakan ruang bagi orang untuk mempertanyakan kebenaran dan pers yang bias dan dijalankan rezim untuk mendapatkan popularitas.
Media secara alami memiliki kekuatan, dan jika sebuah rezim dapat mengontrol media, mereka dapat mengontrol publik dengan memberi mereka propaganda apa pun yang mereka inginkan. Trump menyebut pers musuh rakyat, sebagai “orang yang mengerikan dan menghebohkan", pers menyebarkan berita palsu, wartawan "manusia yang paling tidak jujur".
10. Plain Folks: Trump melakukan metode propaganda pada orang biasa melalui kampanye, diawali di stasiun televisi program The Apprentice, ßTrump mengaku sebagai pendukung setia kelas menengah, dengan mengatakan “kelas pekerja” terlupakan di negara kita. "Aku adalah suaramu,".
Baca juga : Belajar Dari China
11. Red Herring: argumen yang dibuat Trump bertujuan untuk mengalihkan perhatian, menyesatkan secara sengaja dari topik pembicaraan. Ketika tuduhan tertentu dibuat, orang lain diserang dan mencoba membantah tuduhan tersebut. Selama masa kepresidenannya, Trump sering ditanya apakah dia memiliki hubungan dengan Rusia atau Vladimir Putin.
Trump bukannya menjawab malah mengalihkan pertanyaan dengan fokus ke Presiden Obama dan kebijakannya terkait program nuklir dan rudal Iran. Trump mengambil masalah tidak langsung dan dengan sengaja mengaburkannya dengan teori konspirasi.
12. Slippery Slope: Trump melakukan tindakan memunculkan rasa takut, merendahkan orang dengan menggunakan kata-kata tidak baik dan memiliki konsekuensi negatif yang besar dan berlebihan.
13. Strawman: Trump membuat argumen yang tidak jujur, tidak dilengkapi bukti. Serangan dilakukan Trump misalnya pada organisasi, orang yang sebetulnya tidak mengatakan apapun, dibuat cerita atau pernyataan palsu. Misalnya, selama pidato kampanye di Indianapolis, Indiana, Trump berusaha mengutuk lawan dengan kebijakan luar negeri "America First".
Trump berjanji bahwa kebijakan luar negerinya akan "didasarkan pada kepentingan Amerika, dan kepentingan bersama sekutu kita", berbeda dengan kebijakan luar negeri AS yang tidak didasarkan pada kepentingan AS, atau "Amerika Kedua." Masalahnya adalah tidak ada lawan yang pernah menyatakan posisi seperti itu. Posisi palsu telah dibangun semata-mata untuk penyerangannya. '
14. Tell A Lie Often; kebohongan besar adalah label kampanye disinformasi. Trump melakukan kebohongan besar ketika mempopulerkan klaim bahwa Barack Obama bukanlah warga negara yang lahir alami. Obama lahir di Kenya.
Baca juga : KPK Tahan Dua Tersangka Korupsi Proyek Jalan Bengkalis
Pelajaran Penting Untuk Komunikasi Propaganda di Indonesia
Belajar dari strategi komunikasi propaganda Trump tersebut, pada konteks komunikasi politik di Indonesia, pelaku komunikasi harus dapat mempertimbangkan efek negatif dari komunikasi propaganda hitam dan abu-abu model Trump.
Pelaku komunikasi seperti praktisi komunikasi, humas professional, pers, praktisi media sosial, perusahaan teknologi perlu memiliki sikap lebih cerdas dan waspada jika kapasitas pelaku komunikasi itu dimanfaatkan sebagai spin-doctor bagi gagasan diluar amanah konstitusi, sehingga lupa menggunakan strategi komunikasi propaganda hitam dan abu-abu untuk mencapai tujuan tertentu dan berefek negatifs bagi kehidupan masyarakat.
Ditengah keterbukaan informasi dan kematangan demokrasi sekarang ini sebaiknya digunakan komunikasi propaganda putih dengan berbagai jenis saluran komunikasi termasuk media mainstream dan media online.
Media mainstream dapat digunakan publik sebagai referensi kebenaran informasi dengan tingginya standar jurnalisme, sehingga publik memiliki alternatif kebenaran dari isi pesan komunikasi.
Pesan harus teruji kebenarannya, harus logis, terintegrasi antara pelaksana negara, atau pesan perlu disampaikan secara jelas tanpa ambigu dengan retorika santun, berbobot sesuai dengan sosok pemimpin dan negarawan.
Baca juga : Dua Bulan Menikah, Puteri Komarudin Minta Didoakan Hamil
Sedangkan strategi komunikasi propaganda Trump mengedepankan Fear Communication, komunikasi dirancang untuk menakuti warga negara, merendahkan kepercayaan diri, menebar kekhawatiran.
Selain propaganda putih, bisa juga gunakan propaganda ratio yang bersifat positif, lebih menjurus pada arah perpaduan dan menciptakan nama yang baik, menciptakan persahabatan, meningkatkan moral dari isi pesan komunikasi yang disampaikan.
Fita Fathurokhmah. Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.