Dark/Light Mode

Kota dan Modal Budayanya

Selasa, 4 Mei 2021 14:31 WIB
Dr. Tantan Hermansah
Dr. Tantan Hermansah

RM.id  Rakyat Merdeka - Kehidupan tidak melulu soal materi, mencari kerja/nafkah, kekuasaan/jabatan, dan atau senang-senang seperti rekreasi/wisata serta kumpul bareng teman-teman. Agar bermakna, kehidupan mesti diberi nilai. Nilai-nilai itu yang kelak mengkristal menjadi budaya. Budaya yang mengerak, disebut sebagai kebudayaan. Kebudayaan yang hebat dan berkelanjutan adalah biang atau akar dari peradaban.

Peradaban itu lebih kuat dan cepat tumbuh di kota. Karena kota menjadi pusat (center) dari segala pergerakan dan lalulintas pikiran-pikiran manusia. Relasi dan interaksi yang padat dan cepat, menyebabkan tingkat persaingan begitu tinggi. Persaingan atau kontestasi yang presisi menyebabkan dinamika masyarakatnya begitu kuat. Alhasil, sebagaimana hukum alam, setiap dinamika yang tinggi cenderung mendorong perubahan lebih cepat. Perubahan yang cepat senantiasa menghadapkan manusia pada beragam pilihan. Setiap pilihan ini akan menjadi kontributor utama pada peradaban kemanusiaan.

Berita Terkait : Masyarakat Kota dan Kesakitan Sosial

Sebaliknya dengan masyarakat desa. Perubahan dan inisiatif untuk melakukan dinamika lebih lambat dibandingkan di kota. Sehingga perubahan-perubahan masyarakatnya tidak secepat di kota-kota. Maka, berbeda dengan kebudayaan kota yang bisa cepat berganti, kebudayaan desa cenderung lebih lama bergantinya. Nilai-nilai budaya di desa-desa, dengan demikian, lebih lama terpelihara ketimbang di kota.

Sehingga budaya yang berubah lambat di desa-desa cenderung dijadikan ruang kembali masyarakat kota. Memorabilia tentang kehidupan masa lalu, meski interval waktunya tidak lama-lama amat, dihidupkan sedemikian rupa, meski hanya sekadar ditampilkan secara pragmatis pada keindahan berbusana (a la desa), makanan khas (desa), bumbu racikan aki, nini, dan sebagainya.

Baca Juga : Wings Food Luncurkan Segar Dingin SDC-1000

Paling tidak, meski penuh rekayasa dan polesan untuk mengkonstruksi realita masa lalu tersebut pada situasi kekinian, tetap saja penampakan itu menjadi oase warga kota untuk mengobati rindunya (pada nuansa desa).

Di sisi lain, masyarakat kota saat ini didorong untuk memiliki kesadaran informasi. Artinya, informasi adalah komoditas yang juga sama dengan benda lain seperti gawai, rumah, mobil, dan titel. Mereka yang tidak memiliki informasi, cenderung harus mengeluarkan biaya lebih besar daripada seharusnya. Inilah yang oleh ekonom seperti Joseph Stiglitz disebut sebagai “asimetric information”.

Baca Juga : Menteri KKP Dorong Pelabuhan Adopsi Teknologi

Konsekwensinya, informasi sama pentingnya dengan menu sarapan pagi. Konsumsi atas informasi yang meningkat menuntut para penyedia informasi melakukan komodifikasi realitas yang kemudian ditampilkan pada layar gawai atau televisi. Di sinilah kebenaran hakiki menjadi disamarkan, tergantung kepada siapa yang paling kuat mendominasi informasi.
 Selanjutnya