Dark/Light Mode

Matakin: Pancasila Harta Yang Disia-siakan

Selasa, 4 Mei 2021 23:26 WIB
Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) silturahmi dengan BPIP. (Foto: ist)
Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) silturahmi dengan BPIP. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pancasila adalah harta paling berharga Indonesia. Perlu dirawat dan dijaga. Caranya antara lain, memanfaatkan kekayaan seni dan budaya Tanah Air. 

Pandangan itu disampaikan Ketua Umum Dewan Kerohanian Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Budi Santoso Tanuwibowo saat menerima kunjungan silaturahmi jajaran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Klenteng Kong Miao, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Selasa (4/5).

Rombongan BPIP dipimpin Kepala BPIP Yudian Wahyudi,  didampingi Deputi Bidang Pengendalian dan Evaluasi Rima Agristina, Deputi Bidang Pendidikan dan Pelatihan Baby Siti Salamah, beserta jajaran. 

Selaku pihak Dewan Matakin, Budi mengapresiasi kunjungan dan siap mendukung berbagai program BPIP.  "Orang makin sadar bahwa Pancasila adalah harta paling berharga yang selama ini disia-siakan," ujarnya. 

Berita Terkait : Kepala BPIP: Dengan Pancasila, RI Bisa Jadi Teladan Di Dunia

Budi berkisah, pernah berkunjung ke rumah pengasingan Bung Karno di Ende, NTT. Disana, ia duduk di bawah pohon sukun dan memandang laut di depan. Ia bisa ikut menyelami gejolak batin Bung Karno. Bagaimana bangsa yang kaya raya bisa dijajah oleh negara kecil selama ratusan tahun dan berulang-ulang. 

"Seperti adu jangkrik. Dikilik-kilik sedikit bangsa kita langsung berantem dengan yang lain," ungkap Budi. 

Alhasil, ia bersyukur founding fathers akhirnya merumuskan Pancasila. Dasar negara yang bisa menyatukan beragam suku, bahasa, dan agama. "Suku bangsa yang berbeda akhirnya punya satu tujuan yang sama," kata Budi. 

Menurut dia, nilai Pancasila sudah senapas dan seirama degan ajaran Konghucu. Di dalamnya ada rasa keadilan dan persatuan. "Jika ada keadilan, tidak akan ada lagi persoalan persatuan dan kemiskinan. Karena itu, menjadi pemeluk Konghucu yang baik pasti menjadi seorang Pancasilais yang baik," tuturnya. 

Berita Terkait : Kampung Sawah Benteng Kampung Pancasila

Budi berharap, BPIP dan Matakin  bisa terus bekerja sama dan berkolaborasi dalam membumikan Pancasila. Caranya tidak selalu harus dengan diskusi atau webinar. Bisa dengan musik atau teater yang lebih mudah diterima. 

"BPIP harus menggunakan kekayaan seni budaya Indonesia untuk menjadikan Pancasila sebagai sesuatu yang  berharga. Pancasila itu tujuan dan pegangan hidup. Juga standar untuk menilai apakah kita sudah sukses atau tidak," paparnya. 

Kepala BPIP Yudian Wahyudi menimpali, kebhinekaan sesuatu yang tak bisa dipungkiri. Karena itu diperlukan suatu ikatan untuk menyatukan. Beruntung, kata dia, para pendiri bangsa telah mewariskan Pancasila sebagai arahan dan pedoman agar bangsa yang punya banyak perbedaan bisa bersatu. Pancasila menyatukan bukan hanya aspek politis tapi juga menyatukan hal yang fundamental yaitu ketuhanan. 

Yudian menjelaskan, saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan di tengah perang dunia kedua, teks proklamasi yang dibacakan 59 detik itu akhirnya membebaskan dan mempersatukan lebih dari 40 negara yaitu kesultanan dan kerajaan. 

Berita Terkait : Permabudhi: Pancasila Harta Negara

"Belum pernah terjadi dalam sejarah kecuali di Indonesia. Penguasa-penguasa lokal dengan mudah melepas kekuasaan dan menyerahkan kekuasaan mereka dengan segala konsekuensi konstitusionalnya kepada sebuah negara yang bernama Indonesia," papar pemilik pondok pesantren Nawasea ini. [BCG]