Dark/Light Mode

Rektor IPB Dukung Program Pembangunan Jokowi Melalui Data Desa Presisi Di Gianyar

Selasa, 1 Juni 2021 18:22 WIB
Foto: Ist
Foto: Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Politisi PDIP Rieke Diah Pitaloka mengatakan pentingnya memanfaatkan data desa presisi (DDP) agar membuat perencanaan pembangunan desa lebih matang dan tepat sasaran.

"Saya menyampaikan apresiasi pemerintah daerah yang telah memanfaatkan data desa presisi," ujar Rieke yang juga kandidat Doktor Universitas Indonesia dalam keterangan tertulis, Selasa (1/6).

Manfaat DDP juga disampaikan Bupati Gianyar Bali, I Made Agus Mahayasastra. Dia menyebut, data yang tersaji sangat komplit. Hasil output-nya juga bisa lihat dalam hitungan detik. Jika data itu dipakai, desa-desa wilayahnya bisa menempati posisi teratas di Indonesia.

Kabupaten dengan luas wilayah 368 kilometer persegi, tapi jumlah penduduknya nomor tiga di Bali tersebut berhasil membangun pasar terbesar di Pulau Dewata, yang kini prosesnya sudah mencapai 65 persen.

Selain itu, Mahayasastra juga berhasil membangun dua rumah sakit. Keunggulan dari salah satu rumah sakit tersebut, bangunannya cuma satu, sedangkan area lainnya dibiarkan menghijau.

Baca Juga : Libur Hari Lahir Pancasila, Pengunjung TMII Capai 12.405 Orang

Rieke sebelumnya juga menginspirasi dua desa lainnya yakni Pantai Bakti Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi dan Desa Sibandang Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara untuk mengimplementasikan DDP dalam perencanaan pembangunan pedesaan.

"Saya ingin sampaikan 2022 semua desa harus sudah seperti Desa Tegallang. Tanpa data yang akurat, valid, dan benar, tentu tak bisa menuntun membuat keputusan," ujar Mahayasastra.

Menurut dia, bila salah dalam pengambilan keputusan, hal itu akan menimbulkan masalah dalam pembiayaan dan menimbulkan kerugian, jauh melebihi daripada yang diperkirakan.

Dia yakin DDP menjadi perwujudan cita-cita Bung Karno yang sudah memikirkan pembangunan berbasis data sejak 1959 atau 60-an tahun yang lalu.

Seperti halnya Bupati Gianyar, Kepala LPPM IPB University Dr. Sofyan Sjaf mengatakan, keberadaan Dewan Perancang Pembangunan Nasional (Depernas) yang beranggotakan 513 pemikir-pemikir bangsa ini mendahulukan pentingnya riset dalam mencapai kesejahteraan dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Baca Juga : BPIP Umumkan Juara Video Pendek Laku Pancasila

Hasil kajian Bapernas memastikan, dua hal itu hanya bisa dicapai dengan dua hal pula, yakni adanya pembangunan pedesaan yang demokratik serta proses data yang akurat.

Ia juga menegaskan ulang pernyataan Presiden Jokowi, yang menyebut masalah akurasi data masih menjadi persoalan.

Sementara Wakil Kepala LPPM IPB University Dr. Ernan Rustiadi memastikan masalah akurasi data yang dipersoalkan Presiden bisa diselesaikan dengan mereplikasi DDP di seluruh Indonesia. 

Ernan menegaskan, hal itu merupakan salah satu kontribusi yang menjadikan IPB University sebagai kampus terbaik karena adanya penelitian-penelitian yang terbaik.

“Setiap tahun kira-kira sebesar seribu tujuh ratus penelitian dan tahun lalu, Alhamdulillah dalam peringkat, IPB dinyatakan sebagai perguruan tinggi terbaik. Salah satu kontribusinya, karena penelitiannya," tutur Ernan.

Baca Juga : Wahidin: Kayak Tentara Desersi, Kemungkinan Bisa Kami Pecat

Sedangkan Rektor IPB University, Prof. Dr. Arif Satria mengatakan, sebagai Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI), DDP akan didiseminasi lebih luas ke perguruan tinggi di Indonesia.

Dia mencontohkan kemajuan Korea Selatan yang dimulai dari desa, dengan cara meningkatkan kepercayaan diri. Park Chung Hee, Presiden Korea Selatan (Korsel) 1963-1979, berhasil membangun fondasi kemajuan negara dengan cara memplester rumah-rumah di desa.

Dia berhasil memodernisasi Korsel dengan membangun desa dengan program plester. Rumah yang beralas tanah diplester, sehingga meningkatkan rasa percaya diri masyarakatnya. 

Arif berharap DPP juga bisa membangun fondasi desa yang kuat. Harapan yang tentu jauh lebih baik daripada program plester perumahan di desa. [NOV]