Dark/Light Mode

Telepon Kapolri, Presiden Minta Premanisme Dan Pungli Di Tanjung Priok Dibasmi

Kamis, 10 Juni 2021 22:34 WIB
Presiden Jokowi berbicara kepada Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo melalui telepon selular saat berkunjung ke terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Kamis (10/6/2021). ANTARA/HO-Biro Pers Setpres/Muchlis Jr/aa.
Presiden Jokowi berbicara kepada Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo melalui telepon selular saat berkunjung ke terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Kamis (10/6/2021). ANTARA/HO-Biro Pers Setpres/Muchlis Jr/aa.

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi melaporkan kepada Kapolri Jenderal, Listyo Sigit Prabowo terkait praktik premanisme dan pungutan liar (pungli) di Pelabuhan Tanjung Priok. 

Laporan itu, Jokowi sampaikan ketika berdialog dengan para pengemudi truk kontainer di Terminal Tanjung Priok, Kamis (10/6).

"Pak Kapolri, saya dapat laporan banyak keluhan dari para driver kontainer yang berkaitan dengan pungutan liar di Fortune, di NPCT (New Priok Container Terminal) 1, kemudian di Depo Dwipa. Pertama di Tanjung Priuk," kata Presiden

Aksi peremanisme ini juga terjadi saat  macet, banyak driver yang dipalak preman-preman.”Keluhan-keluhan ini tolong bisa diselesaikan. Itu saja Kapolri," pintah Presiden,

Berita Terkait : Petani Sawit Minta Revisi Pungutan Dana Sawit

Presiden memang menerima keluhan dari para sopir kontainer yang sehari-hari bekerja hilir mudik di Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) dan Terminal Peti Kemas Koja, di Pelabuhan Tanjung Priok.

"Tolong nanti diceritakan problemnya sehingga kita bisa mencarikan jalan keluar dan tidak usah takut dengan Pak Menteri atau pimpinan-pimpinan di pelabuhan di sini. Disampaikan apa adanya kalau bisa ada jalan keluarnya saya carikan jalan keluar secepat-cepatnya," kata Presiden dikutip Antara..

Agung Kurniawan, seorang sopir kontainer menceritakan soal kriminalitas yang terjadi di pelabuhan.

"Pada saat macet, kawan-kawan ini diambillah barangnya. Kalau di Tanjung Priok ini disebutnya asmoron Pak, ketika macet ambil barang dari kendaraan secara diam-diam. Ada juga kalau terorganisir preman-premannya di daerah rawan naik ke atas mobil," kata Agung.

Baca Juga : Bamsoet Happy Rektor Universitas Syiah Kuala Dukung Haluan Negara

Agung mengaku, barang kendaraan yang diambil adalah ban, aki, terkadang kadang juga barang milik pribadi, seperti handphone serta uang. Sopir kontainer ini mengaku, jika kondisi macet ada orang yang tiba-tiba menaiki mobil dan membawa celurit serta menodong sopir.

"Kalau berani naik ke mobil, ditodong, diminta barang-barang kita, handphone, dompet, uang jalan habis yang sering teman-teman dari luar kota," ungkap Agung.

Dia mengaku, dari dulu masyarakat sekitar tidak ada yang berani menolong, walaupun dalam keadaan ramai. "Dulu itu enggak ada yang berani menolong, Pak. Padahal itu depan, belakang, samping, kanan itu kan kendaraan semua, dan itu orang semua. Ini sangat memprihatinkan, karena dia takut, kalau posisinya nanti dia membantu, preman-preman itu akan menyerang balik ke dirinya. Maka dia lebih memilih tutup kaca dan itu memprihatinkan sekali begitu, Pak," cerita Agung.

Mendengar keluhan tersebut, Jokowi kembali menanyakan apakah hingga saat ini masih terjadi aksi penodongan tersebut. "Masih Pak, tapi tidak seperti dulu, sudah terminimalisir, sekarang sudah saling kenal, ayo kita tolong bareng-bareng," ungkap Agung.

Baca Juga : Pertamina Trans Kontinental Sabet Penghargaan Di BUMN Marketeers Award 2021

Terhadap keluhan-keluhan tersebut, Presiden mengaku akan terus mengikuti perkembangan penyelesaian masalah pasca menelepon Kapolri. "Saya sudah perintahkan Kapolri untuk dicek ke lapangan nanti. Nanti akan saya ikuti proses ini," kata Presiden. [MFA]