Dark/Light Mode

Ahli Epidemiologi Dicky Budiman

Ayo Genjot 500 Ribu Testing Sehari, Jangan Sampai Ada Ledakan Besar Di Akhir Juli

Sabtu, 10 Juli 2021 22:18 WIB
Ahli Epidemiologi Dicky Budiman (Foto: Instagram)
Ahli Epidemiologi Dicky Budiman (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sepekan sudah kita menjalani Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa Bali, yang dimulai sejak 3 Juli lalu.

Kebijakan ini ditempuh pemerintah, demi menurunkan lonjakan kasus Covid-19, yang antara lain dipicu oleh kemunculan varian Delta.

Terkait hal ini, Ahli Epidemiologi dari Griffith University, Australia Dicky Budiman memberikan catatan dalam 7 hari pelaksanaan PPKM Darurat Jawa Bali.

Berita Terkait : 7 Daerah Di Banten Terapkan PPKM Darurat, Ini Aturannya

Dicky menilai pemerintah masih belum berhasil menekan laju pandemi, karena angka growth rate (pertumbuhan kasus) dan angka reproduksi masih belum turun. Bahkan, naik.

"Bisa dibilang, pemerintah belum berhasil. Karena untuk melihat keberhasilan intervensi dalam penanganan Covid-19, indikatornya adalah growth rate dan angka reproduksi," jelas Dicky dalam pesan suara yang diterima RM.id, Sabtu (10/7).

Dicky mencatat, di masa awal PPKM pada 3 Juli 2021, growth rate ada di angka 38,3 persen. Namun, angkanya naik menjadi 45,4 persen pada 9 Juli 2021.

Berita Terkait : Tenang Jangan Tegang

Melambung jauh dibanding angka global saat ini, yang mencapai 11,7 persen.

"Secara global, dunia juga masih menuju puncak. Kasusnya meningkat. Di level regional ASEAN, pertumbuhan tertinggi dibukukan Vietnam, dengan angka 136 persen. Malaysia 19,9 persen. Ini pertumbuhannya masih menuju puncak. Beda dengan Filipina yang angkanya -6, sudah melandai," kata Dicky.

Sementara angka reproduksi, pada 3 Juli 2021 tercatat 1,37. Angka ini naik menjadi 1,4 pada 9 Juli 2021. Melampaui angka reproduksi dunia, yang hanya 1,07.

Baca Juga : UIN Bandung Siap Laksanakan MBKM di Tahun Akademik 2021/2022

Sedangkan angka kematian per 1 juta meningkat, dari 219 pada 3 Juli 2021, menjadi 236 pada 9 Juli 2021.

"Tingginya angka kematian ini adalah imbas kegagalan 3T (testing, tracing, dan treatment), kegagalan dalam menemukan kasus secara dini dan cepat di masyarakat. Testing minimal kita harus lebih dari 500 ribu per hari, secara setara dan merata. Saya lihat, belum semua daerah punya komitmen itu. Selain itu, visitasi penting untuk menemukan kasus-kasus infeksi di rumah, sehingga bisa cepat ditangani," terang Dicky.
 Selanjutnya