Dark/Light Mode

Makna Haji

Kamis, 22 Juli 2021 12:00 WIB
Jamaah haji melaksanakan ibadah thawaf di masa pandemi, dengan menerapkan protokol kesehatan menjaga jarak. [Foto ilustrasi: STR/AFP/Getty Images]
Jamaah haji melaksanakan ibadah thawaf di masa pandemi, dengan menerapkan protokol kesehatan menjaga jarak. [Foto ilustrasi: STR/AFP/Getty Images]

RM.id  Rakyat Merdeka - Makna Haji Haji mengandung konsep-konsep luhur dan memiliki kedudukan sangat penting dalam agama Islam. Ruh atau inti risalah Nabi saw dapat dicari dalam kewajiban Ilahi ini. Inti sari agama adalah mengantarkan manusia pada kesempurnaan dan terwujudnya tauhid dalam keyakinan dan perilaku manusia. Hal ini dapat dilihat dalam manasik ibadah haji dari awal hingga akhir.

Manasik ibadah haji dimulai dengan kehadiran para jamaah haji dengan berpakaian ihram di padang Arafah pada hari Arafah. Ini menjadi mukadimah persiapan jiwa untuk memperoleh curahan spiritual ibadah haji.

Berita Terkait : Habib Zahir Yahya: Tinggalkan dan Tanggalkan Semua Selain Tuhan

Mengenal diri, menurut Islam, merupakan salah satu dasar mencapai jenjang kesempurnaan jiwa manusia. Setiap kali seseorang ingin membersihkan polusi jiwa dan cacat moralnya, mula-mula ia harus melihat wajah batinnya dalam cermin “pengenalan diri” dari dekat supaya dapat mengenal dan memutus akar moral yang tidak terpuji dalam jiwa dan dirinya.

Sedemikian penting ‘pengenalan diri’ menurut Islam, sehingga dikatakan bahwa orang yang ingin menghapus kotoran dan noda dari dirinya dan selamat dari pengaruh buruk dan dampak negatifnya, harus meninjau hasil dan sebab-sebab amal perbuatannya setiap hari saat dalam keheningan dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan; perbuatan yang tidak baik mesti ditinggalkan dan perbuatan baik harus dikuatkan. Maka Arafah adalah sebuah kesempatan untuk mengenal diri dan mempersiapkan untuk masuk ke dalam kewajiban haji.

Baca Juga : Gelar RUPST 2020, Elnusa Bagikan Dividen Rp 74 Miliar

Sisi lain dari pengenalan diri adalah ibadah dan penghambaan yang tulus kepada Allah Yang Maha Esa. Karena itu, Islam menyebut komunikasi dengan Sang Pencipta dan munajat kepada Allah swt sebagai perbuatan yang paling manis.

Tak diragukan lagi, menampakkan penghambaan dan munajat kepada-Nya menciptakan antusiasme dan kerinduan di hati yang akan melalaikan atau mengesampingkan kecintaan kepada selain Allah, mengubah hati manusia menjadi taman yang hanya ditumbuhi oleh kecintaan kepada-Nya. Dengan penghambaan kepada-Nya saja seorang manusia akan merasakan ketenangan batin, menemukan jati dirinya, dan mengetahui posisinya dalam sistem alam ini.
 Selanjutnya