Dark/Light Mode

Rektor Unhan Peringatkan Dunia Internasional Bahaya Biological Terrorism

Rabu, 28 Juli 2021 15:36 WIB
Rektor Universitas Pertahanan (Unhan), Laksdya TNI Prof. Dr. Amarulla Octavian. (Foto: Ist)
Rektor Universitas Pertahanan (Unhan), Laksdya TNI Prof. Dr. Amarulla Octavian. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rektor Universitas Pertahanan (Unhan), Laksdya TNI Prof. Dr. Amarulla Octavian mengatakan, pentingnya kerja sama keamanan global untuk mengantisipasi biological terrorism.

Hal tersebut disampaikan Amarulla Octavian saat menjadi salah satu pembicara pada 7th International Maritime Security Conference yang diselenggarakan oleh S. Rajaratnam School of International Studies bersama The Republic of Singapore Navy pada hari ini, Rabu (28/7).

Konferensi dibuka secara resmi oleh Kasal Singapura Rear Admiral Aaron Beng dengan Menteri Pertahanan Singapura Dr. Ng Eng Hen sebagai pembicara utama.

Berita Terkait : Ganjar Upayakan Pengadaan Generator Oksigen Bagi RS Covid-19

Konferensi internasional tersebut terbagi ke dalam 4 sesi Dengan masing-masing tema dihadiri para Kasal 11 negara dan 4 Kepala Coast Guard, para guru besar dari beberapa universitas, para pengusaha industri pelayaran, industri perkapalan serta pejabat organisasi internasional dan regional.

Sebagai pembicara kedua pada sesi kedua, Amarulla Octavian menyampaikan makalah berjudul “Maritime Connectivity and Resilience in the Post-Pandemic Maritime Environment”. Peran Indonesia dalam menjamin keamanan jalur perdagangan laut internasional dipaparkan secara komprehensif sekaligus kontribusi Indonesia dalam konektivitas maritim dan ketahanan maritim.

Kontribusi Indonesia yang paling utama adalah terselenggaranya Traffic Separation Scheme (TSS) di Selat Sunda dan Selat Lombok untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di Selat Malaka sekaligus menjaga ekosistem kelautan Indonesia dari bahaya polusi.

Berita Terkait : Lestarikan Budaya Bajo, Mahasiswa Internasional Usulkan Museum Virtual

Pada kesempatan tersebut, Amarulla Octavian juga menyerukan, pentingnya kerja sama keamanan global untuk mengantisipasi biological terrorism. Bahaya Covid-19 sangat rawan digunakan sebagai senjata biologi oleh para teroris di masa mendatang.

Menurut dia, seluruh negara dapat menggunakan arsitektur kerjasama keamanan yang ada untuk menggelar Bio-Defence dan Bio-Intelligence. Inisiatif berikutnya adalah pentingnya melakukan registrasi internasional untuk semua Unmanned System yang digunakan oleh Angkatan Laut dan Coast Guard seluruh dunia.

Menurut dia, seluruh UAV, USV dan USSV harus diregistrasi agar dapat diidentifikasi secara legal milik salah satu negara dan bukan milik pelaku tindak pidana di laut.

Berita Terkait : Senior AHY Ingatkan Dewi Tanjung, Jangan Bangunkan Macan Tidar

Para pembicara lain adalah 6 Kasal dari Amerika Serikat, Perancis, Jerman, India, Jepang, dan Malaysia, serta 3 Wakasal dari Cina, Australia, dan Inggris. Selain dari kalangan militer hadir pula para pembicara dari kalangan akademisi, praktisi dan pakar keamanan maritim. [DIT]