Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kombinasi Vaksin Belum Direkomendasikan

Dosis Satu Dan Dua Harus Sama Ya!

Minggu, 29 Agustus 2021 06:20 WIB
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito. (Foto : Damar - Medcom).
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito. (Foto : Damar - Medcom).

RM.id  Rakyat Merdeka - Penyuntikan jenis vaksin Covid-19 yang berbeda pada satu orang atau mixing vaccine tidak boleh sembarangan. Harus berdasarkan rekomendasi medis.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Covid-19, Prof Wiku Adisasmito mengatakan, sejauh ini baru beberapa kombinasi penyunti­kan vaksin Covid-19 saja yang dinyatakan lo­los uji. Misalnya, AstraZeneca (AZ)-Pfizer di Jerman, AstraZeneca-Sputnik di Azerbaijan dan Sinovac-AstraZeneca di Thailand.

“Sementara kombinasi vaksin yang dipakai di Indonesia yakni Sinovac dan Moderna hanya untuk dosis ketiga (booster),” ka­tanya.

Berita Terkait : Akses Ke Vaksin Jangan Dibikin Ribet

Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini menjelaskan, kombinasi vaksin yang di­terima tenaga kesehatan (nakes) di Tanah Air merupakan vaksin Sinovac yang dialokasikan untuk populasi khusus. Yaitu, untuk anak, ibu hamil, maupun ibu menyusui.

Pemberian vaksin dosis pertama dan dosis kedua harus serupa. Hal ini sesuai Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Nomor HK.02.02/4/423/2021.

Wiku menegaskan, jenis vaksin yang dapat dikombinasikan nantinya dapat berkembang secara dinamis sesuai perkembangan uji lanjutan. Dia berharap, masyarakat dapat mengikuti vaksinasi sesuai prosedur dan tidak sembarangan mengkombinasikan vak­sin tanpa rekomendasi. “Lindungi diri sendiri dan orang-orang terdekat,” ucap dia.

Berita Terkait : Rakyat Maunya Tetap Gratis

Sebelumnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan, praktik mengkombinasikan vaksin Covid-19 berbeda merek tidak dapat diputuskan oleh individu. Melainkan, harus oleh badan-badan publik dengan ber­gantung pada data yang ada.

“Meski praktik kombinasi ini mungkin menarik masyarakat di negara-negara yang mengalami kekurangan pasokan vaksin, diperlukan lebih banyak penelitian untuk memastikan imunogenisitas dan keamanan­nya,” kata Juru Bicara WHO, Soumya Swaminathan sebagaimana dikutip dari kan­tor berita China, Xinhua, Senin (23/8).

Netizen mengkhawatirkan efek jangka panjang yang mungkin bisa timbul akibat mengkombinasikan vaksin Covid-19 tanpa rekomendasi medis. Lebih baik, dosis kedua disesuaikan saja dengan dosis pertama. Menurut akun @Valosenadya1, sebaiknya mengikuti anjuran WHO saja. Agar setiap orang menerima dua dosis vaksin Covid-19 dari jenis atau merek vaksin yang sama.

Berita Terkait : Sekolah Tatap Muka Jangan Modal Nekat

“Data efektivitas dan tingkat keamanan penggunaan vaksin Covid-19 dari jenis yang berbeda masih sangat terbatas,” ung­kapnya.

Senada dilontarkan @errrrricaaaaa. Kata dia, kalau belum ada research tentang kombi­nasi merek vaksin, lebih baik jangan kombinasi vaksin dulu. Sesuaikan saja dengan dosis vaksin pertama.
 Selanjutnya