Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Prof. Tjandra Yoga Aditama
Kebijakan Vaksin Johnson&Johnson Perlu Dievaluasi, Tetap 1x Atau 2x?
Rabu, 22 September 2021 07:45 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Beberapa hari yang lalu, pada 11 September, Indonesia menerima kedatangan vaksin Johnson & Johnson, yang sudah mendapat izin penggunaan dalam keadaan darurat atau emergency of listing (EUL) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan emergency of authorization (EUA) dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan diberikan hanya satu kali.
Vaksin ini dianggap punya kelebihan, karena lebih praktis dengan satu kali suntikan.
Namun, mantan Direktur WHO yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Indonesia (FKUI) Prof. Tjandra Yoga Aditama membicarakan kemungkinan soal pemberian 2 dosis vaksin, bersama sejumlah pakar vaksin internasional.
Ndilalah, pada saat yang sama, produsen Johnson&Johnson menyampaikan keterangan bahwa vaksin tersebut lebih efektif bila diberikan 2 kali.
Baca juga : Lonjakan Kasus Covid Harus Dipelototin, Jangan Tunggu Naik 10 Lipat Untuk Pengetatan
"Tadi malam 21 September, dalam pertemuan yang saya hadiri bersama beberapa pakar vaksin internasional, kami membicarakan tentang hasil-hasil penelitian. Membahas bagaimana kalau vaksin Johnson&Johnson ini diberikan 2 kali," ungkap Prof. Tjandra dalam keterangannya, Rabu (22/9).
"Pada saat yang sama, pihak pimpinan perusahaan produsen vaksin ini memberi keterangan pers bahwa dua dosis vaksin Johnson&Johnson ini ternyata memberi proteksi sampai 94 persen, untuk mencegah seseorang tertular dan sampai bergejala. Angka ini sepadan dengan angka proteksi dari vaksin Moderna atau Pfizer, yang memang diberikan dua dosis," imbuhnya.
Pihak produsen juga menyampaikan, tambahan dosis kedua vaksin Johnson&Johnson dapat meningkatkan imunitas dengan sangat baik. Serta melindungi dari infeksi yang amat berat.
Dijelaskan pula, pemberian satu kali vaksin ini menghasilkan respon imun yang kuat dan memunculkan memori kekebalan dalam waktu lama.
Baca juga : Masih Jauh, Perjalanan Indonesia Menuju Endemi
Bila diberikan booster kedua, kekuatan proteksinya terhadap Covid-19 akan makin meningkat.
"Sebenarnya, pada akhir Agustus 2021, produsen vaksin ini juga sudah mulai mengatakan tentang suntikan kedua. Mereka akan mencoba membicarakan dengan pejabat kesehatan terkait, tentang kemungkinan potensi strategi untuk memberikan dosis kedua vaksin Johnson&Johnson, sekitar 8 bulan atau lebih sesudah pemberian dosis pertamanya," terang Prof. Tjandra.
Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI itu menuturkan, perkembangan ini tentu belum banyak dikenal luas di negara kita.
"Karena selama ini, yang selalu dibicarakan adalah pemberian vaksin Johnson & Johnson 1 kali saja. Suatu hal yang menguntungkan dari sudut aplikasi di lapangan," cetusnya.
Baca juga : Jangan Dicetak, Sertifikat Vaksin Cukup Versi Digital Aja
Perkembangan baru ini tentu akan jadi kajian lebih lanjut pemerintah, dalam menentukan kebijakan vaksinasi Johnson&Johnson, yang baru beberapa hari mendarat di negara kita.
Di sisi lain, hal ini juga menunjukkan bahwa pengetahuan tentang Covid-19 ini memang amat dinamis, dapat saja berubah sesuai hasil penelitian terakhir. Tentu, kita perlu menguasainya dengan baik.
Salah satu aspek lain vaksinasi yang juga masih terus banyak dibahas adalah tentang pemberian booster dosis ketiga pada vaksin-vaksin lain yang memang seharusnya dua dosis. Makin ke sini, makin banyak pembicaraan yang mengarah pada pentingnya pemberian dosis ketiga untuk para lansia.
"Mungkin saja, ini mengubah kebijakan publik yang akan diambil. Ilmu memang terus berkembang. Hanya dengan bukti ilmiah yang kuat, program pengendalian Covid-19 di negara kita dapat berjalan dengan sukses," pungkas Prof. Tjandra yang juga anggota IAVG/COVAX. [HES]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya