Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
851 Lab Harus Dimanfaatkan
Mumpung Kasus Turun Jauh, Ayo Dong Genjot Tes PCR
Senin, 27 September 2021 13:57 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Juru Bicara Satgas Covid-19 RS UNS, dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD menyoroti penanganan pandemi Corona di Singapura.
Menurutnya, negara yang dipimpin PM Lee Hsien Loong itu melakukan gas dan rem ketat terhadap pandemi. Begitu ada kasus, segera lockdown, sampai dapat dikatakan nol kasus dan nol CFR (case fatality rate) atau tingkat fatalitas kasus.
Sekian waktu dilonggarkan. Namun begitu ada kasus lagi, kembali rem ketat.
"Kita, Indonesia, tidak memilih jalur itu. Kita memilih model rem dan gas berimbang. Ketika kasus masih belum tinggi, kita cenderung menginjak gas. Ketika sudah meninggi sekali, baru rem kita tekan. Saat kasus mulai menurun, kembali rem dikurangi, gas ditambah," kata Tonang yang juga ahli patologi klinis, via laman Facebook-nya, Senin (27/9).
Baca juga : Meski Kasus Turun, Syarief Dorong Perbanyak Testing Covid-19
Dalam hampir 2 bulan terakhir, kasus baru kita semakin turun. Situasi ini jelas membuat kita bersyukur. Ditambah, keterisian tempat tidur di RS sudah menurun.
Namun di sisi lain, angka kematian cenderung tidak sinkron. Penurunannya tidak sejalan dengan penurunan kasus baru.
"Karena itu, hindari takabur. Dengan model gas-rem berimbang tersebut, sangat mungkin sebenarnya jumlah yang terinfeksi, melebihi angka yang teridentifikasi dan terlaporkan. Apalagi, kapasitas testing kita selama ini terbatas," jelas Tonang.
Menurutnya, pada saat lonjakan kasus eperti Januari dan terutama Juni-Juli kemarin, sangat mungkin jumlah kasus yang sesungguhnya berlipat.
Baca juga : Menkes Turunkan Harga Tes PCR
Sebagian ada yang terpaksa fatal, atau harus menjalani perawatan di RS dengan perjuangan.
Namun juga diduga kuat, jauh lebih banyak lagi yang terinfeksi, tanpa sempat teridentifikasi.
"Barangkali, itulah "vaksin alami". Semoga berkekuatan signifikan. Maka, sampai batas tertentu, itulah upaya kita memahami mengapa angka kasus baru turun dengan cepat," terang Tonang.
"Positivity rate juga menurun dengan cepat. Semua itu terjadi karena sudah banyak yang pernah terinfeksi, meski tanpa sempat teridentifikasi," sambungnya.
Baca juga : Perpanjangan PPKM Harus Terus Dilakukan Sampai Kasus Aktif Turun 5 Ribu Per Hari
Namun, ada satu ganjalan yang membuat khawatir. Jumlah tes kita tetap belum beranjak.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya