Dark/Light Mode

Wakil Kepala BPIP: Orang Toleran Cenderung Bahagia

Selasa, 6 Juli 2021 14:32 WIB
Wakil Ketua BPIP Haryono. (Foto: ist)
Wakil Ketua BPIP Haryono. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Haryono menyatakan bahwa orang yang memiliki sikap toleran akan cenderung lebih berbahagia. 

Sebaliknya, orang yang intoleran lebih banyak curiga terhadap orang lain secara kejiwaan mudah sakit. Haryono mengatakan Pancasila merupakan pemersatu bangsa mengajarkan toleransi dalam kehidupan yang beragam.

"Kita tidak akan bisa kokoh apabila tidak ada persatuan, persatuan itu membutuhkan toleransi dari keberagaman bangsa kita. Kita ambil contoh di negara-negara Timur Tengah karena intoleransi dan ujaran kebencian dibiarkan di dalam dunia digital, kemudian lama-lama masyarakat percaya, sehingga elemen masyarakat itu saling mencurigai dan bermusuhan. Maka yang terjadi kemudian menjadi perang saudara yang barangkali menjadi fokus kita jangan sampai kita terpengaruh," ucapnya.

Baca juga : Wakil Ketua DPR: Anggota Dewan Juga Ikuti Aturan PPKM Darurat

Haryono memberikan kuliah umum pada acara “Pendidikan Karakter Pancasila Membangun Karakter yang berkualitas dan Bermartabat” yang diselenggarakan oleh Universitas Tanjungpura Pontianak, dalam rilis yang diterima redaksi Rabu (6/7). 

Haryono mengatakan, mengembangkan kecerdasan sosial dalam membangun bangsa membutuhkan toleransi yang kuat. Terutama dalam memasuki dunia baru, yang menyebabkan perubahan wawasan dari bangsa terjajah yang bermental inlander menjadi bangsa merdeka yang berkualitas.

Menurut Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta, dan Bung Karno kerugian dari proses penjajahan atau imperialisme dan kolonialisme di nusantara ini bukan semata-mata hilangnya aset ekonomi dan matinya para pahlawan. Tapi kerugian terbesar-nya adalah hilangnya karakter bangsa Indonesia yang percaya diri dan bisa berpikir kreatif dan inovatif. 

Baca juga : Pancasila Solusi Masalah Bangsa, Termasuk Corona

"Membangun karakter bangsa Indonesia yang percaya diri, kreatif, dan inovatif menjadi kunci pada pendidikan Pancasila. Kita belajar Pancasila bukan sekedar belajar kapan Pancasila dirumuskan, apa isi dari sila-sila Pancasila, tetapi juga makna yang bisa mengubah cakrawala mindset kita sebagai warga negara yang hidup dalam abad 21 agar kita bias menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur," paparnya. 

Pancasila sejak dirumuskan pertama kali adalah untuk menyatukan keberagaman masyarakat kita yang sangat majemuk dan memajukan bangsa agar masyarakat bisa hidup adil dan makmur. 

Menurut dia, Pancasila sebagai cara pandang harus bisa menjadi referensi menatap kedepan. Kita berjuang menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Warga negara berpikiran dinamis, inovatif, dan kreatif. 

Baca juga : Pemerintah Kudu Lobi Australia Buka Penerbangan Langsung Ke Bali

“Pancasila yang penuh dengan nilai-nilai luhur yang bisa menyatukan semua elemen bangsa dan memberikan orientasi kehidupan berbangsa dan bernegara hanya dapat terwujud saat warga negara Indonesia, khususnya generasi muda dan lebih khusus lagi mahasiswa mampu menjadi pelopor dan inovator dalam menyatukan dan memajukan bangsa," jelasnya. [BCG]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.